Dari Balik Jeruji, Ciung Wanara Menghidupkan Harapan

BUKAN sekadar pentas seni, tetapi kisah tentang harapan. Dari balik jeruji, legenda Ciung Wanara mengantarkan ratusan warga binaan meraih Rekor Muri.

Dari Balik Jeruji, Ciung Wanara Menghidupkan Harapan
REKOR MURI: Warga Lapas Perempuan Kelas II A Bandung saat menampilkan drama kolosal Ciung Wanara yang berhasil meraih rekor Muri, Jumat (17/7) malam. Pencapaian tersebut menjadi bukti, pembinaan di lapas tidak berhenti pada aspek kedisiplinan semata, melainkan mampu melahirkan kreativitas.

Oleh:Yuliantono

Sorot lampu panggung menerangi wajah-wajah perempuan yang selama ini menjalani hari di balik tembok tinggi Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung. 

Mereka tidak sedang menjalani sidang, bukan pula menghitung hari menuju kebebasan. Di hadapan ratusan penonton, mereka menjadi raja, permaisuri, prajurit, penari, pemusik, hingga pembawa kisah dari sebuah legenda besar tanah Sunda.

Legenda itu bernama Ciung Wanara. Tepuk tangan bergemuruh ketika pertunjukan berakhir. Bukan hanya karena drama kolosal itu berhasil memukau penonton, melainkan karena malam tersebut mencatat sejarah. 

Sebanyak 407 warga binaan dan petugas Lapas Perempuan Bandung resmi mengukir nama di Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) sebagai penyelenggara drama kolosal dengan pelibatan warga binaan pemasyarakatan terbanyak di Indonesia. Di balik rekor itu, tersimpan kisah tentang kesempatan kedua.

Drama kolosal yang dipentaskan pada Jumat (17/7) bukan sekadar pertunjukan seni. Selama hampir lima bulan, ratusan perempuan binaan berlatih menghafal dialog, menata gerak, membuat dekorasi, merancang busana, hingga memainkan alat musik. 

Mereka belajar bekerja sama, saling percaya, dan menemukan kembali kepercayaan diri yang mungkin sempat hilang. Tembok penjara yang selama ini identik dengan hukuman perlahan berubah menjadi ruang belajar.

Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Gayatri Rachmi Rilowati, menyebut pagelaran tersebut merupakan puncak dari proses pembinaan yang berlangsung secara berkelanjutan.

Sebanyak 407 orang terlibat dalam pertunjukan itu, terdiri atas 366 warga binaan dan 41 petugas. Mereka tidak hanya tampil sebagai pemeran utama, tetapi juga menjadi penata gerak, tim panggung, pembuat dekorasi, penata rias, perancang busana.

Ada juga kelompok angklung, paduan suara, penari, hingga peserta fashion show. Bagi Gayatri, seluruh proses itu jauh lebih penting daripada sekadar mengejar sebuah penghargaan.

"Semoga kegiatan ini memberikan manfaat yang luas dan menjadi wujud nyata pemasyarakatan pasti bermanfaat untuk masyarakat," ujarnya dalam keterangan yang diterima, Minggu (19/7). 

Pilihan mengangkat kisah Ciung Wanara pun bukan tanpa alasan. Legenda Sunda itu berkisah tentang seorang anak yang dibuang ke sungai, tumbuh dalam kesederhanaan, lalu bangkit menemukan jati dirinya sebagai pewaris sah Kerajaan Galuh. Di dalamnya tersimpan nilai kejujuran, keberanian, kepemimpinan, dan keadilan.

Nilai-nilai itu terasa begitu dekat dengan perjalanan para warga binaan. Mereka pun sedang menjalani proses panjang untuk menemukan kembali identitas diri, memperbaiki kesalahan masa lalu, dan mempersiapkan langkah ketika kelak kembali ke tengah masyarakat.

Perjalanan menuju panggung Muri tidak ditempuh sendirian. Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti melalui Budi Luhur University mendampingi seluruh proses selama sekitar lima bulan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Pendampingan itu menjadi bukti, pembinaan narapidana memerlukan kolaborasi banyak pihak.

"Selama kurang lebih lima bulan ini, dinding di sekitar kita menjadi saksi bukanlah batasan untuk terus bertumbuh," kata Ketua Badan Pengurus Harian Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, Julian Bongso.

Pesan serupa disampaikan Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi. Menurutnya, keberhasilan Lapas Perempuan Bandung menjadi bukti bahwa sistem pemasyarakatan modern tidak hanya membina kedisiplinan, tetapi juga mampu melahirkan karya yang berkualitas.

"Pembinaan di pemasyarakatan mampu melahirkan karya yang berkualitas sekaligus membentuk karakter untuk kembali berkontribusi di tengah masyarakat," ujarnya.

Malam itu, panggung tidak hanya diisi drama kolosal. Perhatian pengunjung juga tertuju pada delapan motif batik karya warga binaan yang telah mengantongi hak cipta. 

Motif-motif seperti Dadali Ngapung Luhur, Macan Godhong Wening, Sisingan Puspawana, Macan Laras Buwana, Hagia Sophia Tulip Laras, Kalpataru Kawung Laras, Harmoni Priangan, dan Ciung Wanara dipamerkan melalui sebuah fashion show.

Di antara semuanya, Harmoni Priangan menjadi kebanggaan tersendiri. Sejak diluncurkan pada Mei 2025, motif tersebut telah terjual sekitar 550 lembar dan kini digunakan sebagai seragam resmi anggota PIPAS Jawa Barat.

Kreativitas itu bahkan mendapat penghargaan dalam sesi lelang amal. Selembar kain batik bermotif Ciung Wanara yang dibuka dengan harga Rp750 ribu terjual hingga Rp9 juta. Sementara motif Macan Godhong Wening yang dibuka pada Rp5,25 juta laku Rp7,89 juta. (gin)


Editor : Inilahkoran