Dari Bengkel Kecil Bodi Tamiya Mendunia

HOBI sederhana bisa tumbuh menjadi karya bernilai. Dari bengkel kecil di Ngamprah, bodi Mini 4WD buatan tangan menembus pasar hingga mancanegara.

Dari Bengkel Kecil Bodi Tamiya Mendunia
TAMIYA PESANAN: Bermula dari hobi dan jualan stiker/decal pada 2016, Zatnika Ganjar Nugraha (44) membuka pusat pengerjaan bodi Mini 4WD atau Tamiya pesanan yang dikirim ke seantero negeri hingga mancanegara.(INILAH/AGUS SATIA NEGARA)

Mobilnya mungil, tetapi perjalanan karyanya tak kecil. Dari sebuah bengkel sederhana di Ngamprah, bodi-bodi Mini 4WD buatan tangan Ganjar menempuh perjalanan hingga Jepang dan sejumlah negara lainnya.

Bengkel tersebut berada di Komplek Permata, Desa Tanimulya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat. Tempat sederhana itu perlahan dikenal di kalangan penggemar Mini 4WD karena menawarkan sesuatu yang berbeda: bodi dengan desain khusus yang dikerjakan sepenuhnya secara manual.

Perjalanan usaha Zatnika Ganjar Nugraha (44) bermula dari hobi. Pada 2016, dia menjual stiker dan decal. Usahanya kemudian berkembang ke desain khusus untuk mobil RC, sebelum akhirnya merambah Mini 4WD ketika tren Tamiya kembali bergeliat.

Kini, Ganjar fokus mengerjakan bodi. Ia tidak memproduksi mobil secara utuh atau menjual mobil siap balap.

Setiap bodi melewati sejumlah tahapan. Permukaannya dipersiapkan, kemudian dicat berlapis, diberi grafis sesuai pesanan, lalu dikeringkan menggunakan oven buatan sendiri. Semua dilakukan dengan tangan. Kesalahan kecil bisa membuat seluruh proses harus diulang dari awal.

“Kami fokus pada bodi saja, tidak menjual mobil utuh yang siap balap. Semua dikerjakan tangan, satu per satu. Kalau gagal, catnya turun, dimulai lagi dari nol. Itu yang kadang bikin pengerjaan jadi lebih lama,” kata Ganjar, Rabu (30/9). 

Untuk tingkat kesulitan sedang, Ganjar mampu menyelesaikan tiga hingga lima bodi dalam sehari. Harganya berkisar Rp150 ribu hingga Rp400 ribu per unit.

Harga tersebut bergantung pada tingkat kerumitan desain, jumlah warna, dan detail yang diminta pelanggan.

Pelanggan diperbolehkan membawa bodi sendiri. Namun, Ganjar menyarankan menggunakan bodi yang disiapkan bengkel agar kualitas pengerjaan lebih terjamin.

Bodi bekas cat membutuhkan proses tambahan karena lapisan lama harus dibersihkan terlebih dahulu. Selain lebih rumit, kondisi tersebut juga meningkatkan risiko kegagalan sehingga waktu dan biaya pengerjaan bisa bertambah.

Bagi Ganjar, setiap pesanan punya karakter sendiri. Tidak sekadar mengecat bodi dengan satu warna, ia menerjemahkan berbagai keinginan pelanggan menjadi desain yang melekat pada mobil-mobil mungil tersebut.

Ada Mater, truk tua berkarat dari film Cars, Lightning McQueen, replika bodi balap Formula 1, hingga desain bergaya mecha Gundam.

“Ada yang ingin tampilan agresif bergaya sirkuit, ada yang mengusung tema karakter kesayangan, semuanya diterjemahkan ke dalam lapisan cat yang presisi,” ujarnya.

Karya yang bermula dari bengkel kecil di Ngamprah itu perlahan menemukan pasar yang lebih luas. Pesanan datang dari Jakarta, Surabaya, Bangka Belitung, Makassar, hingga Kalimantan. Nama bengkel Ganjar juga mulai dikenal di kalangan komunitas Mini 4WD di luar negeri.

Malaysia menjadi negara yang paling rutin mengirim pesanan. Setelah itu, ada Thailand, Qatar, Arab Saudi, hingga Jepang, negeri asal Tamiya.

Bagi Ganjar, pesanan dari Jepang memiliki cerita tersendiri. Karya yang dibuat secara manual dari Bandung Barat ternyata bisa sampai ke negara tempat Tamiya bermula.

Namun, pasar mancanegara juga memiliki tantangan. Ongkos pengiriman terkadang justru lebih mahal daripada harga bodi yang dipesan.

“Kadang ongkos kirimnya bisa dua kali lipat harga barangnya. Banyak yang berpikir dua kali. Tapi kalau sudah benar-benar suka, tetap saja dipesan. Bagi penggemar, karya yang unik tidak bisa diukur sekadar harga,” ujarnya. (agus satia negara/gin)


Editor : Inilahkoran