Dari Cicalengka ke Pasar Dunia, Kopi Nusantara Dikemas Dalam Kapsul

Secangkir espresso tak selalu lahir dari mesin kopi di kafe-kafe modern. Di Desa Babakan Peuteuy, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung.

Dari Cicalengka ke Pasar Dunia, Kopi Nusantara Dikemas Dalam Kapsul
Secangkir espresso tak selalu lahir dari mesin kopi di kafe-kafe modern. Di Desa Babakan Peuteuy, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung.

INILAHKORAN.ID- Secangkir espresso tak selalu lahir dari mesin kopi di kafe-kafe modern. Di Desa Babakan Peuteuy, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, secangkir kopi justru sedang menempuh perjalanan lebih jauh: dari kebun-kebun kopi nusantara menuju pasar dunia.

Di sebuah sentra produksi milik PT Kendan Gelar Mandala, kopi Indonesia diolah bukan sekadar menjadi bubuk kopi. Komoditas yang selama ini banyak dijual sebagai bahan baku itu dikembangkan menjadi coffee capsule untuk kebutuhan espresso.

Produk tersebut dipasarkan dengan merek Aroma kopi nusantara (AKN).

Langkah itu menjadi bagian dari upaya mendorong hilirisasi kopi. Bukan lagi sekadar menjual biji kopi, tetapi menciptakan produk jadi yang memiliki nilai tambah, identitas, sekaligus peluang pasar yang lebih luas.

Founder Aroma kopi nusantara, ST Wahyu Joko Subroto atau yang akrab disapa Bob Ujo, mengatakan pertumbuhan konsumsi kopi di Indonesia maupun dunia menjadi peluang yang tidak boleh dilewatkan.

“Selama ini kopi masih menjadi primadona komoditi nasional. Tren yang terus meningkat akan konsumsi kopi, baik kebutuhan domestik maupun konsumsi dunia, merupakan peluang besar. Indonesia tidak boleh berhenti sebagai penghasil bahan baku,” kata Bob kepada INILAHKORAN.ID, Minggu (6/9/2026).

Menurutnya, tantangan industri kopi Indonesia kini bukan hanya soal meningkatkan produksi. Persoalan yang tak kalah penting adalah bagaimana kopi tersebut memiliki nilai ekonomi lebih tinggi setelah keluar dari kebun.

Karena itu, hilirisasi menjadi salah satu jalan yang ditempuh PT Kendan Gelar Mandala.

Kekuatan kopi Indonesia sendiri terletak pada keberagaman karakter. Setiap daerah memiliki kondisi geografis, ketinggian, varietas, hingga proses pascapanen yang berbeda.

Keragaman itu kemudian diramu AKN melalui jejaring petani kopi dari sejumlah daerah.

Mulai dari Gayo, Aceh Tengah, Toraja, Bali hingga Java Soendaica dari Jawa Barat.

Pilihan kopinya pun tidak hanya Arabika, tetapi juga Robusta. Keduanya dikembangkan dengan karakter sangrai berbeda untuk menyesuaikan kebutuhan espresso.

Untuk Arabika, AKN menggunakan profil medium-dark roast, sedangkan Robusta dikembangkan dengan dark roast.

Dari sana, perjalanan kopi berlanjut. Biji kopi yang telah dipilih tidak berhenti sebagai komoditas mentah. Kopi melewati rangkaian proses mulai dari pemilihan bahan baku, pascapanen, roasting, pengembangan karakter rasa, produksi kapsul hingga pengemasan.

Semua proses tersebut dilakukan untuk menghasilkan produk yang praktis digunakan konsumen sekaligus tetap membawa karakter kopi asal Indonesia.

“Kalau selama ini banyak kopi Indonesia keluar sebagai komoditas kopi dalam bentuk green bean, kami ingin sebagian nilai tambahnya lahir di sini, diproduksi di Indonesia, dan dipasarkan sebagai produk dengan identitas Nusantara,” ujarnya.

Menariknya, ambisi tersebut tidak berhenti di pasar dalam negeri.

PT Kendan Gelar Mandala justru memasang target ekspor yang lebih besar dibandingkan pasar domestik.

Dari target distribusi Aroma kopi nusantara, sekitar 30 persen diarahkan untuk pasar Indonesia, sementara 70 persen ditargetkan untuk pasar ekspor.

Australia, Panama, Jepang dan Spanyol menjadi empat negara yang disasar dalam pengembangan pasar internasional.

Target itu menunjukkan bahwa produksi kopi kapsul di Cicalengka sejak awal tidak hanya dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen lokal.

Ada pasar global yang ingin dibidik.

Bagi Bob, ekspor bukan semata-mata persoalan menjual produk ke luar negeri. Lebih jauh, ada upaya membawa identitas kopi Indonesia dalam bentuk produk yang memiliki nilai tambah.

“Target kami bukan sekadar menjual kopi ke luar negeri. Kami ingin membawa produk kopi Indonesia ke pasar dunia,” katanya.

Di titik inilah konsep hilirisasi yang dikembangkan PT Kendan Gelar Mandala menjadi penting.

Kopi tidak hanya berpindah tangan dari petani ke pedagang. Ada proses pengolahan, teknologi, pengetahuan, pengemasan, branding hingga distribusi yang ikut menciptakan nilai ekonomi baru.

“Kami ingin nilai tambah itu tidak berhenti di perdagangan bahan baku. Ada proses pengetahuan, teknologi, produksi, branding, distribusi, dan pasar yang harus dibangun di Indonesia,” tutur Bob.

Melalui tagline “Ragam Rasa dari Nusantara”, Aroma kopi nusantara mencoba membawa pesan sederhana: kopi Indonesia tidak hanya kaya jumlah, tetapi juga kaya karakter.

Gayo memiliki cerita dan cita rasanya sendiri. Toraja memiliki karakter berbeda. Begitu pula kopi Bali dan Java Soendaica dari Jawa Barat.

Keragaman tersebut kemudian diterjemahkan dalam format yang lebih dekat dengan gaya konsumsi kopi modern.

Coffee capsule menjadi salah satu pilihannya.

Bagi industri kopi Indonesia, langkah seperti ini menjadi gambaran bahwa masa depan komoditas kopi tidak selalu berhenti di kebun atau pasar bahan baku.

Ada ruang yang jauh lebih panjang setelah biji kopi dipanen.

Ada roasting, inovasi produk, teknologi pengemasan, pemasaran hingga ekspor.

Dari Desa Babakan Peuteuy, Kecamatan Cicalengka, PT Kendan Gelar Mandala mencoba mengambil bagian dalam rantai panjang tersebut.

Membawa kopi dari berbagai penjuru Nusantara, mengolahnya di Kabupaten Bandung, lalu membidik konsumen di berbagai belahan dunia.

Jika selama ini nama Indonesia lebih sering melekat sebagai negara penghasil kopi, langkah tersebut menjadi upaya untuk menambahkan satu identitas lagi: Indonesia sebagai negara yang mampu mengolah kopi menjadi produk bernilai tambah dan siap bersaing di pasar global.***


Editor : JakaPermana