Dari Cicalengka, Kopi Menuju Dunia
PERJALANAN kopi Indonesia tak berhenti setelah dipanen. Dari kebun Nusantara, biji kopi diolah menjadi produk yang siap bersaing di pasar dunia.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Dani R Nugraha
Secangkir espresso tak selalu lahir dari mesin kopi di kafe modern. Di Desa Babakan Peuteuy, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, perjalanan secangkir kopi justru bermula dari kebun-kebun kopi Nusantara dan berlanjut menuju pasar dunia.
Perjalanan itu ditempuh PT Kendan Gelar Mandala melalui Aroma Kopi Nusantara (AKN). Biji kopi yang selama ini banyak diperdagangkan sebagai bahan baku diolah menjadi coffee capsule untuk kebutuhan espresso.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong hilirisasi kopi. Bukan sekadar menjual biji, tetapi mengolahnya menjadi produk jadi yang memiliki nilai tambah dan identitas Indonesia.
Founder Aroma Kopi Nusantara, ST Wahyu Joko Subroto atau akrab disapa Bob Ujo, mengatakan pertumbuhan konsumsi kopi di dalam negeri maupun dunia merupakan peluang yang tidak boleh dilewatkan.
“Selama ini kopi masih menjadi primadona komoditi nasional. Tren yang terus meningkat akan konsumsi kopi, baik kebutuhan domestik maupun konsumsi dunia, merupakan peluang besar. Indonesia tidak boleh berhenti sebagai penghasil bahan baku,” kata Bob kepada INILAH, Minggu (6/9).
Menurut Bob, tantangan industri kopi Indonesia bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi lebih tinggi setelah kopi meninggalkan kebun.
Karena itu, AKN meramu kopi dari sejumlah daerah, mulai Gayo, Aceh Tengah, Toraja, Bali hingga Java Soendaica dari Jawa Barat. Arabika dan Robusta dikembangkan dengan karakter sangrai berbeda untuk menyesuaikan kebutuhan espresso.
Biji kopi yang telah dipilih kemudian melewati sejumlah tahapan, mulai dari pascapanen, roasting, pengembangan karakter rasa, produksi kapsul hingga pengemasan.
“Kalau selama ini banyak kopi Indonesia keluar sebagai komoditas kopi dalam bentuk green bean, kami ingin sebagian nilai tambahnya lahir di sini, diproduksi di Indonesia, dan dipasarkan sebagai produk dengan identitas Nusantara,” ujarnya.
Perjalanan kopi itu tidak berhenti di pasar dalam negeri. PT Kendan Gelar Mandala menargetkan sekitar 30 persen distribusi AKN untuk pasar Indonesia dan 70 persen untuk ekspor.
Australia, Panama, Jepang dan Spanyol menjadi negara yang disasar dalam pengembangan pasar internasional.
“Target kami bukan sekadar menjual kopi ke luar negeri. Kami ingin membawa produk kopi Indonesia ke pasar dunia,” kata Bob.
(gin)
Editor : Inilahkoran

