Dari Judul Tesis yang Gagal, Jalan Panjang Gepuk Ayam A Zaki
Perjalanan Novi Yuriani menunjukkan peluang bisa lahir dari ide sederhana. Dari coba-coba, usaha Gepuk Ayam A Zaki kini terus berkembang.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Perjalanan Novi Yuriani menunjukkan peluang bisa lahir dari ide sederhana. Dari coba-coba, usaha Gepuk Ayam A Zaki kini terus berkembang.
Tak semua rencana menemukan jalannya. Bagi Novi Yuriani (53), kegagalan sebuah rencana justru menjelma menjadi awal dari jalan baru yang tak pernah dia bayangkan.
Semua bermula saat Novi menempuh studi S-2 di Fakultas Teknologi Pangan Universitas Pasundan (Unpas). Kala itu, dia sempat mengajukan topik tentang Gepuk Ayam sebagai bahan tesis. Namun, rencana itu tak berlanjut.
“Waktu S-2 itu saya sempat ambil (judul tesis) tentang Gepuk Ayam, tapi tidak jadi dipakai. Disarankan pakai judul lain,” ujarnya kepada INILAH, akhir pekan lalu.
Dia pun menyelesaikan studinya dengan topik berbeda. Tesisnya rampung, gelar pun diraih. Namun, ide tentang Gepuk Ayam ternyata tak ikut selesai. “Walaupun tidak jadi dipakai, topik itu tetap kepikiran,” katanya.
Alih-alih mengendap dan dilupakan, gagasan itu justru menemukan jalannya sendiri. Bukan di ruang sidang, melainkan dapur rumah. “Awalnya hanya coba-coba saja, karena sudah pernah kepikiran dari situ,” ujarnya.
Dari dapur sederhana, Novi mulai bereksperimen. Dia memasak, lalu membagikan hasilnya kepada teman dan keluarga. Respons yang datang di luar dugaan. “Saya bawa ke teman-teman, ke keluarga. Ternyata responsnya bagus,” ucapnya.
Yang membuat banyak orang terkejut bukan sekadar rasa, tetapi bahan dasarnya. Banyak yang terkecoh sebelum mengetahui bahan utamanya.
“Orang Sunda kan sudah tahu gepuk itu seperti apa. Tapi mereka tidak menyangka kalau ini dari ayam, bukan sapi,” katanya.
Bahkan, tak sedikit yang keliru menebak. Kesan pertama langsung mengarah pada daging sapi. Baru setelah dicicipi, orang mulai menyadari ada yang berbeda. “Dengan proses seperti itu, orang tidak bisa membedakan ini ayam atau sapi,” ujarnya.
Dari situlah keyakinan tumbuh. Ide yang semula “gagal” sebagai tesis, justru menjadi pintu masuk bagi sebuah usaha. “Dari situ saya pikir, kenapa tidak dicoba dijadikan usaha,” katanya.
Tahun 2019, Novi memberanikan diri membuka usaha kecil di rumahnya di Margahayu. Garasi yang tak terpakai disulap menjadi warung nasi sederhana. “Awalnya kita bikin warung nasi, menu andalannya Gepuk Ayam,” kenangnya.
Nama “MR” pun disematkan, singkatan dari Margahayu Raya, tempat semuanya bermula. Namun perjalanan itu tak lama berjalan mulus. Baru tiga bulan berjualan, pandemi Covid-19 datang dan memukul usaha kecilnya.
“Pas Covid itu warung sempat tutup. Jalanan diportal, tidak ada yang lewat,” ujarnya.
Kelelahan sempat datang pada titik itu. Keraguan pun tak terhindarkan. Penjualan menurun, sementara peluang terasa semakin sempit. Kondisi itu membuat arah usaha menjadi tidak pasti.
“Mungkin sempat ingin berhenti, karena konsumen itu-itu saja. Mau berkembang ke mana?” katanya.
Dia menghadapi situasi yang tak mudah: produk ada, tetapi akses pasar tertutup. Di tengah kebuntuan itu, dia memilih mencari cara lain. “Kita ubah, kita tidak jual di warung lagi. Kita buat dalam bentuk kemasan,” ujarnya.
Gepuk Ayam itu dikemas dalam paket isi lima potong, siap dimasak. Penjualannya pun beralih ke jalur sederhana: WhatsApp, dari teman ke teman. “Kita jual lewat WhatsApp, dari teman ke teman. Ternyata malah lebih bagus,” katanya.
Cara sederhana itu justru membuka pintu yang lebih luas. Pesanan datang dari luar kota, bahkan luar pulau. “Sampai ke Bangka Belitung, Bali, Pekanbaru. Ada beberapa pelanggan tetap di sana,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan, Novi menemukan celah. Produk yang dia buat pun memiliki ciri khas yang tak banyak dimiliki pelaku lain. Daging ayam diolah tanpa tulang, namun tetap berbentuk seperti gepuk sapi.
“Kalau yang lain biasanya Gepuk Ayam itu hancur atau masih bertulang. Saya buat boneless, tapi bentuknya tetap seperti gepuk sapi,” jelasnya.
Soal rasa, dia memilih tidak banyak mengubah. Dia justru mempertahankan rasa khas yang sudah dikenal. “Orang pertama makan pasti mikir ini gepuk sapi. Tapi begitu dimakan, baru terasa lebih lembut, baru tahu ini ayam,” katanya.
Novi pun mulai menata aspek legalitas produknya. Salah satunya melalui pengurusan sertifikasi halal dan izin usaha.
Baginya, proses itu tidak selalu rumit, terutama ketika ada dukungan dari program pemerintah. “Kalau untuk ini, kebetulan pemerintah suka ada program untuk sertifikat halal dan pengurusan izin-izin,” ujarnya.
Dia mengaku banyak terbantu melalui pendampingan yang diberikan kepada pelaku UMKM. “Biasanya kita ditawari dari pengurus UMKM. Begitu dapat kesempatan, langsung kita daftarkan,” katanya.
Suatu hari, kesempatan datang dari lingkar terdekat. Novi mendapat tawaran tempat dari keluarga besar suaminya di kawasan Margacinta, tepat di depan Polsek Buahbatu.
“Waktu itu ada tawaran tempat dari keluarga. Lokasinya di Margacinta, depan Polsek Buahbatu,” ujarnya.
Meski berasal dari keluarga, Novi memilih tetap menjaga profesionalitas usaha. Tempat itu tidak dia gunakan secara cuma-cuma. “Walaupun itu milik keluarga, tetap saya sewa. Saya ingin usaha ini tetap berjalan secara profesional,” katanya.
Baginya, keputusan itu bukan sekadar soal tempat, melainkan bagian dari komitmen membangun usaha secara serius. “Dari situ saya pikir, ini kesempatan. Jadi sekalian kita coba buka lagi dengan konsep yang lebih fokus ke Gepuk Ayam,” ujarnya.
Perjalanan itu perlahan membentuk usaha yang lebih kokoh. Dari dapur sederhana, kini dia dibantu beberapa karyawan. “Untuk produksi ada dua orang, di warung juga ada dua,” ujarnya.
Di balik itu, keluarga menjadi kekuatan utama yang menopang langkahnya. Dukungan itu hadir dalam berbagai bentuk, dari dapur hingga pengelolaan usaha. Peran masing-masing anggota keluarga berjalan tanpa banyak kata, namun terasa nyata.
Seiring berkembangnya usaha, dia pun mengambil keputusan penting: mengganti nama. Dari Gepuk Ayam MR menjadi Gepuk Ayam A Zaki, nama yang diambil dari suaminya, Zaki Mubarok.
“Kalau tetap pakai nama Margahayu, nanti sulit untuk ekspansi,” ujarnya.
Nama baru itu membuka harapan baru, tentang kemungkinan membuka cabang dan memperluas pasar. Novi mulai membayangkan produk ini dikenal lebih luas, tak hanya di satu kawasan.
Langkah kecil yang dulu dimulai dari rumah kini diarahkan menuju pasar yang lebih besar. “Ke depan, saya ingin orang tahu bahwa gepuk itu tidak hanya dari sapi. Ayam juga bisa,” katanya.
Namun di balik perkembangan itu, tantangan UMKM tetap nyata. Bagi Novi, persoalan terbesar bukan hanya produksi, tetapi bagaimana memperkenalkan produk.
“Produk UMKM itu sebenarnya jujur. Dari bahan sampai rasa. Tapi yang sulit itu promosi,” ujarnya.
Dia juga menyoroti persoalan klasik yang masih membayangi banyak pelaku usaha kecil.
Menurutnya, banyak usaha sulit berkembang bukan karena produk, melainkan keterbatasan dukungan. Hal itu kerap menjadi penghambat saat ingin naik ke skala yang lebih besar.
“Modal. Itu yang paling terasa. Pelaku usaha itu perlu dipermudah untuk mendapatkan modal,” katanya.
Meski begitu, dia memilih bertahan. Prinsipnya sederhana, tetapi tidak mudah dijalankan. “Yang penting jaga kualitas, konsisten, dan jangan menyerah,” ujarnya.
Dia menyadari, di tengah banyaknya produk serupa, inovasi menjadi kunci. “Sekarang banyak produk yang sama. Jadi harus punya ciri khas,” katanya.
Dari sebuah judul tesis yang gugur, dari ide yang tak ikut selesai bersama kelulusan, Novi justru menemukan jalan usahanya.
Langkah kecil yang dimulai dari dapur itu, kini terus dia rawat dengan ketekunan. Dari sana, dia membuktikan, peluang bisa tumbuh dari hal yang sempat dianggap selesai.
Bagi yang tertarik mencoba, produk Gepuk Ayam A Zaki bisa langsung dibeli di Jalan Ciwastra No 128, tepat di depan kantor Kecamatan Buah Batu.
Gepuk Ayam tersedia dalam dua pilihan: paket nasi ayam gepuk siap santap seharga Rp22.000, atau kemasan siap goreng isi 5 pcs dengan harga Rp60.000 per paket. ***
Editor : Gin gin T Ginulur

