Herman Suryatman Sebut Mental Takut Gagal Jadi Penghambat UMKM Naik Kelas

Sekda Jabar Herman Suryatman menilai, tantangan terbesar yang dihadapi pelaku UMKM bukan semata keterbatasan modal atau akses pasar, melainkan pola pikir.

Herman Suryatman Sebut Mental Takut Gagal Jadi Penghambat UMKM Naik Kelas
Herman Suryatman menegaskan seluruh UMKM harus memiliki target untuk meningkatkan skala usahanya. Menurutnya, perubahan besar selalu berawal dari cara berpikir yang benar. (yuliantono)

INILAHKORAN.ID - Sekda Jabar Herman Suryatman menilai, tantangan terbesar yang dihadapi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bukan semata keterbatasan modal atau akses pasar, melainkan pola pikir yang masih dibayangi rasa takut untuk berkembang.

Dalam Pendampingan Pengurusan Sertifikasi Halal bagi 1.000 Pelaku UMKM Mikro dan Kecil serta Executive Seminar bertajuk “AKU KAMU KITA Bergerak Bersama Membangun Bisnis UMKM Indonesia” di Blessing Room Convention Center D'Botanica Hotel, Kota Bandung, Rabu (2/9/2026), Herman menegaskan seluruh UMKM harus memiliki target untuk meningkatkan skala usahanya. Menurutnya, perubahan besar selalu berawal dari cara berpikir yang benar.

“Tidak ada alasan pokoknya semua yang hadir di sini UMKM-nya harus naik kelas, dan itu mulai dari pikiran. Mulai dari pikiran, sesederhana itu,” ujar Herman.

Ia mengungkapkan, banyak pelaku usaha gagal melangkah lebih jauh karena lebih dulu dikuasai kekhawatiran sebelum mengambil keputusan bisnis. Ketakutan terhadap risiko usaha kerap menjadi penghalang utama pertumbuhan.

“Persoalannya belum apa-apa kita semuanya sudah takut. Takut enggak laku, takut rugi, takut ditolak. Itu yang membuat sulit naik kelas,” ucapnya.

Sebab itu, ia mengajak pelaku UMKM membangun optimisme dan keberanian dalam menghadapi persaingan. Ia menekankan pentingnya memiliki visi yang kuat sebagai arah pengembangan usaha agar tidak mudah goyah ketika menghadapi tantangan.

Selain visi, konsistensi juga menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan. Sekda mengingatkan bahwa hasil besar lahir dari proses yang dilakukan secara berulang dan berkesinambungan.

“Walaupun batu keras dan air itu hanya setetes, tapi terus-terusan, sudah akan jadi legok. Mun keyeng tangtu pareng, kata leluhur,” katanya.

Ia menegaskan, keberhasilan usaha tidak diperoleh secara instan. Pelaku UMKM harus siap menghadapi kegagalan, belajar dari pengalaman, lalu kembali mencoba hingga mencapai tujuan yang diinginkan.

“Tidak ada yang unggul, yang ada adalah pengulangan. Repetition, diulang-ulang terus,” ujarnya.

Lebih jauh, Herman mengingatkan pentingnya membangun lingkungan yang mendukung pertumbuhan usaha. Menurutnya, pelaku UMKM perlu berada dalam ekosistem yang saling menguatkan dan memberi energi positif untuk berkembang.

Kegiatan pendampingan sertifikasi halal bagi 1.000 pelaku UMKM mikro dan kecil tersebut diinisiasi Forum Komunikasi Tionghoa Merah Putih (Fokti), bersama pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan. Program ini diharapkan mampu memperkuat legalitas produk, meningkatkan daya saing, sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi UMKM Jabar.


Editor : Doni Ramdhani