Dari Miangas Menjemput Mimpi Anak Negeri
SEKOLAH di Pulau Miangas akhirnya berubah wajah. Harapan anak-anak di beranda negeri pun ikut tumbuh.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Di Pulau Miangas, titik paling utara Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina, sebuah sekolah menengah kejuruan telah menjadi tumpuan harapan anak-anak untuk meraih masa depan.
Selama lebih dari dua dekade, mereka belajar di ruang kelas yang bocor, dinding yang retak, hingga fasilitas yang jauh dari kata memadai. Kini, harapan itu mulai menemukan bentuknya.
Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menghadirkan wajah baru bagi SMK Negeri 2 Talaud Miangas.
Sekolah yang berdiri sejak 2004 dan menjadi satu-satunya tempat menempuh pendidikan kejuruan di Pulau Miangas itu kini memiliki ruang belajar yang lebih layak dan nyaman.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan, revitalisasi sekolah di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan arahan Presiden Prabowo Subianto agar layanan pendidikan berkualitas dapat dirasakan seluruh masyarakat Indonesia, termasuk yang tinggal di wilayah paling luar negeri ini.
“Semoga seluruh bantuan yang diberikan baik berupa pembangunan sarana prasarana dan peralatan digital menjadi bagian dari komitmen Presiden Prabowo Subianto dan wujud nyata upaya membangun generasi Indonesia yang hebat, unggul, cerdas, dan berkarakter,” kata Abdul Mu’ti, seperti dikutip dari ANTARA, Kamis (6/8).
Bagi Kepala SMK Negeri 2 Talaud, Patriarti G. Urendeng, perubahan itu menjadi momen yang telah lama dinantikan. Selama bertahun-tahun, sekolah harus bertahan dengan berbagai keterbatasan.
Atap ruang kelas bocor ketika hujan turun, jendela rusak, dinding mulai retak, instalasi listrik tak lagi memadai, hingga toilet yang digunakan bergantian oleh seluruh warga sekolah. Harapan itu akhirnya datang setelah sekolah memperoleh bantuan revitalisasi senilai lebih dari Rp997 juta.
“Puji syukur setelah 21 tahun berdiri, sekolah kami akhirnya mendapat bantuan revitalisasi dengan dana lebih dari Rp997 juta. Kemudian, dana itu diperuntukkan bagi rehabilitasi tiga ruang kelas Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan (APHPi), satu ruang laboratorium komputer, satu ruang UKS, satu unit toilet, dan satu ruang BK,” ujar Patriarti. (gin)
Editor : Inilahkoran


