Peluang Terang di Balik Tumpukan Sampah
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bogor- IPB University mengubah tumpukan sampah organik di perkotaan dan perdesaan menjadi peluang ekonomi bernilai lewat teknologi budi daya maggot berkonsep "plasma-inti".
Bayangkan tumpukan sisa makanan rumah tangga yang tadinya hanya membusuk dan mencemari lingkungan. Kini, sisa-sisa itu disulap menjadi pakan bernutrisi tinggi oleh larva lalat tentara hitam (maggot).
Melalui program Sinergi 2026, Center for Tropical Animal Studies (Centras) IPB University merangkul masyarakat dan berbagai wilayah mitra—mulai dari Jakarta, Bintaro, Tenjolaya, Depok, hingga lingkungan kampus IPB sendiri—untuk bergerak bersama Kepala Centras Prof Nahrowi, dalam keterangan IPB University di Bogor, Jabar, Minggu, menjelaskan model bisnis, yang dikembangkan menggunakan konsep plasma-inti dalam kerangka program Sinergi 2026.
Mitra sebagai plasma tidak perlu melakukan seluruh proses budi daya mulai dari menetaskan telur, membesarkan maggot, hingga menghasilkan telur kembali.
"Plasma dapat berfokus pada pembesaran maggot, sementara tahapan lainnya dilakukan oleh pihak yang memiliki peran masing-masing," kata Nahrowi.
Menurutnya, keberadaan off-taker menjadi bagian penting dalam model tersebut. Dengan adanya pihak yang menyerap hasil produksi, mitra memiliki kepastian pasar.
Program Sinergi diarahkan untuk mengembangkan model bisnis maggot dengan pendekatan ekonomi sirkular, khususnya mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Untuk program tersebut, IPB University telah melakukan sosialisasi model bisnis maggot itu, sekaligus penandatanganan PKS serta peminjaman mesin pengering maggot.
Nahrowi menekankan bahwa hubungan dalam model plasma-inti juga membutuhkan kepercayaan antarpihak.
Plasma harus percaya kepada inti, begitu pula sebaliknya.
Salah satu model pengembangan melibatkan lima plasma dengan kondisi berbeda, di antaranya mitra di Jakarta, Bintaro, Tenjolaya, IPB University, dan Depok. Masing-masing memiliki potensi bahan baku dan kondisi pengelolaan yang berbeda.
Selain ketersediaan sampah, proses pengeringan menjadi salah satu tantangan. Pengeringan menggunakan matahari membutuhkan waktu beberapa hari, sedangkan mesin pengering berskala besar membutuhkan investasi tinggi.
Karena itu, mesin pengering menjadi salah satu dukungan teknologi yang diberikan melalui program ini. (bsf)
Editor : Inilahkoran

