100 Fasilitator Dorong Perubahan Budaya Sekolah

100 Fasilitator Dorong Perubahan Budaya Sekolah
BUKA PUP: Kepala Dinas Pendidikan Jabar Purwanto saat membuka PUP Batch III Pendidikan Karakter Pancawaluya bagi guru SMA, SMK, dan SLB di BBPPMPV BMTI Kota Cimahi.(ISTIMEWA)

INILAH, Bandung - Perubahan karakter tidak lahir hanya dari ruang kelas. Ia tumbuh dari kebiasaan, lingkungan, dan contoh yang setiap hari dilihat peserta didik.

Gagasan itulah yang kini didorong Dinas Pendidikan Jawa Barat melalui perluasan implementasi Pendidikan Karakter Pancawaluya. Sebanyak 100 fasilitator disiapkan untuk turun langsung ke sekolah-sekolah, bukan sekadar memberikan pelatihan, tetapi mendampingi proses perubahan hingga menjadi budaya.

Kepala Disdik Jabar Purwanto mengatakan para peserta yang lulus nantinya akan berperan sebagai pendamping sekolah. Mereka ditargetkan mengawal perubahan budaya belajar, tata lingkungan, hingga kebiasaan warga sekolah secara berkelanjutan.

“Setiap pelatih menjadi pendamping satu sekolah. Satu semester didampingi, kemudian semester berikutnya pindah ke sekolah berikutnya,” ujar Purwanto saat membuka Pelatihan untuk Pelatih (PUP) Batch III Pendidikan Karakter Pancawaluya bagi guru SMA, SMK, dan SLB di BBPPMPV BMTI Kota Cimahi.

Bagi Purwanto, pendampingan harus dimulai dari perubahan nyata. Karena itu, fasilitator dituntut lebih dulu menunjukkan keberhasilan penerapan Pendidikan Karakter Pancawaluya di sekolah tempat mereka bertugas.

“Jangan sampai kita melatih orang lain, tetapi sekolah kita sendiri belum berubah. Selesaikan dulu masalah di sekolah sendiri,” tegasnya.

Menurut dia, pendidikan karakter tidak cukup disampaikan melalui teori. Nilai-nilai Pancawaluya harus hadir dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari proses pembelajaran, pengelolaan lingkungan, hingga kebiasaan warga sekolah.

Hal-hal sederhana pun dapat menjadi bagian dari pembelajaran. Pengelolaan sampah, pola konsumsi sehat, penghijauan, hingga pemanfaatan lahan sekolah dapat menjadi media untuk membentuk karakter peserta didik.

“Sudahkah kantin kita terkoneksi dengan pembelajaran? Sudahkah sampah yang dihasilkan sekolah menjadi inspirasi pembelajaran? Ini persoalan pendidikan kita,” ucapnya.

Sekolah, dengan demikian, tidak hanya menjadi tempat menyampaikan pengetahuan. Ia dapat menjadi laboratorium tempat peserta didik belajar melalui apa yang mereka lihat dan lakukan setiap hari.

Purwanto mencontohkan sejumlah praktik pendidikan berbasis lingkungan di Purwakarta, seperti arboretum bambu, sekolah ekologi, dan Mandala Karsa.

Menurutnya, program-program tersebut menunjukkan bagaimana lingkungan dapat menjadi ruang belajar yang hidup melalui kolaborasi berbagai pihak.

Karena itu, setiap fasilitator diharapkan mampu menggerakkan perubahan dari sekolah terdekat. Dari satu sekolah yang berubah, praktik baik diharapkan dapat menyebar ke sekolah lainnya.

“Kalau satu fasilitator menghasilkan satu sekolah yang berubah maka akan terjadi perubahan di sekolah tersebut. Kalau dilakukan secara konsisten, perubahan itu akan menyebar ke semakin banyak sekolah,” katanya.

(yuliantono/gin)


Editor : Inilahkoran