Pasar Berdaya UMKM Berjaya

PASAR Bersih Jambu Dua tak sekadar tempat berdagang. Di antara lapak kuliner, tumbuh cerita tentang UMKM yang bangkit dan menemukan jalan baru.

Pasar Berdaya UMKM Berjaya
TRANSFORMASI PASAR: Wali Kota Bogor Dedie A Rachim saat mengunjungi Pasar Bersih Jambu Dua untuk mendengarkan langsung testimoni dari pedagang UMKM kuliner. Pasar Induk Jambu Dua sukses bertransformasi menjadi Pasar Bersih Jambu Dua, bahkan saat ini berkembang menjadi laboratorium UMKM kuliner Kota Bogor. Model pemberdayaan tersebut diberikan kepada para pelaku usaha rintisan atau startup yang baru memulai usaha dengan skala terbatas.(INILAH/RIZKI MAULUDI)

Oleh : Rizki Mauludi

Ada yang datang ke Pasar Bersih Jambu Dua untuk membeli kebutuhan pangan. Ada pula yang datang untuk mencari rasa baru dari lapak-lapak kuliner yang tumbuh di dalamnya.

Pasar yang sebelumnya dikenal sebagai Pasar Induk Jambu Dua itu kini memiliki wajah berbeda. Selain menjadi pusat perdagangan bahan pangan, kawasan tersebut berkembang menjadi sentra kuliner UMKM yang ramai dikunjungi masyarakat dari wilayah Bogor, Jabodetabek, dan sekitarnya.

Bagi Pemerintah Kota Bogor, perubahan itu bukan sekadar soal menghidupkan aktivitas perdagangan. Pasar Bersih Jambu Dua juga dirancang sebagai ruang pemberdayaan sekaligus laboratorium bagi pelaku UMKM kuliner.

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyempatkan diri berkunjung pada akhir pekan. Ia berbincang dengan sejumlah pedagang, mendengar cerita tentang usaha yang mereka bangun dari lapak sederhana.

“Ini bentuk konkret Pemkot Bogor menghadirkan ruang pemberdayaan bagi pelaku UMKM dengan merangkul berbagai potensi untuk masuk, maju, dan berkembang bersama,” ujar Dedie.

Di antara lapak-lapak itu, ada cerita tentang mereka yang sedang mencoba memulai kembali kehidupan ekonominya.

Salah satunya pelaku UMKM yang sebelumnya mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Kehilangan pekerjaan sempat menjadi pukulan bagi perekonomian. Namun, kesempatan membuka usaha di Pasar Bersih Jambu Dua mempertemukannya dengan bidang baru: kuliner.

Dedie mengatakan, peluang tersebut menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk kembali berdiri tanpa harus berhadapan dengan biaya sewa tempat yang tinggi.

“Pelaku UMKM ini salah satunya ada yang mengalami PHK. Melihat peluang di Pasar Jambu Dua, daya juangnya kembali bangkit,” katanya.

Menurut Dedie, memulai usaha dari nol bukan perkara mudah. Terlebih bagi mereka yang memiliki modal terbatas. Menyewa ruko atau tempat usaha di pusat perbelanjaan dapat menjadi beban yang terlalu besar bagi usaha yang baru tumbuh.

Karena itu, Pemerintah Kota Bogor bersama investor dan Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ) memberikan dukungan melalui skema insentif bagi para pelaku UMKM yang berusaha di sentra kuliner tersebut.

“Ini adalah wujud nyata keberpihakan dan kepedulian bahwa mereka tidak sendiri. Ada pemerintah yang hadir menemani, merangkul untuk bangkit, berusaha, dan berkembang,” ujar Dedie.

Konsep itu ditujukan terutama bagi pelaku usaha rintisan atau startup yang baru belajar menjalankan usaha dengan skala terbatas. Logikanya sederhana. Usaha kecil membutuhkan ruang untuk mencoba tanpa harus dibebani risiko yang terlalu besar sejak awal.

“Karena untuk berkembang dan maju, modal yang terbatas itu harus dibarengi dengan risiko yang kecil. Makanya kami bantu dengan insentif. Asalkan ada kemauan, tenaga dan kesempatan yang sama diberikan kepada mereka yang mau berusaha bangkit,” terangnya.

Dari sanalah Pasar Bersih Jambu Dua mencoba mengambil peran yang lebih luas. Bukan hanya tempat transaksi antara pedagang dan pembeli, tapi jadi ruang bertemunya kesempatan dengan keberanian untuk memulai kembali. (gin)


Editor : Inilahkoran