Dari Layar Kecil Menuju Panggung Asia

USIANYA baru 16 tahun ketika mimpi itu membawanya jauh.Dari layar gim, Radinka kini bersiap membela Indonesia.

Dari Layar Kecil Menuju Panggung Asia
PANGGUNG ASIA: Atlet esports nomor eFootball Radinka Wiratama saat ditemui di sela pemusatan latihan (pelatnas) di Jakarta, Selasa (15/9). Remaja 16 tahun itu kini bersiap menuju panggung Asia.(ANTARA/ARINDRA MEODIA)

Ada masa ketika dunia Radinka Wiratama hanya sebesar layar di hadapannya. Di sana, sebuah pertandingan dimulai. Jari-jarinya bergerak cepat, mata menatap layar, dan suara teman-teman sesekali pecah di tengah permainan. 

eFootball, yang dulu hanya menjadi permainan untuk mengisi waktu, perlahan membawa remaja itu ke tempat yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Kini, di usia 16 tahun, Radinka sedang menghitung hari menuju panggung yang jauh lebih besar. Asian Games 2026 Aichi-Nagoya, Jepang.

Hampir dua bulan dia meninggalkan bangku sekolah. Hari-harinya berpindah ke tempat pemusatan latihan, menjalani kehidupan sebagai atlet esports yang sedang dipersiapkan untuk membawa nama Indonesia.

Pagi dimulai dengan sarapan dan persiapan latihan. Setelah itu, ada sesi latihan, apel, kemudian kembali berlatih hingga sore. Malam menjadi ruang yang sedikit lebih longgar. Jika tidak beristirahat, Radinka mengisinya dengan aktivitas fisik, termasuk latihan di gym.

Hari-hari berjalan dalam pola yang hampir sama. Latihan. Istirahat. Latihan lagi. Sesekali dia pulang ke rumah karena jaraknya tidak terlalu jauh dari pelatnas. Namun, lebih sering keluarganya yang datang menjenguk.

Ada banyak hal yang harus ditinggalkan sementara. Bangku sekolah. Waktu bersama teman. Hari-hari remaja yang biasanya berjalan tanpa banyak perhitungan. Radinka tahu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah pilihan. Tetapi pilihan itu tidak datang tiba-tiba.

Jauh sebelum mengenakan seragam tim nasional, dia hanyalah seorang anak yang mengenal gim dari rasa penasaran. Sejak kelas tiga sekolah dasar, Radinka sudah bermain gim. Mobile Legends menjadi salah satu permainan pertamanya. Beberapa tahun kemudian, pada 2020, perhatiannya beralih kepada gim sepak bola, eFootball, yang ketika itu sedang banyak dimainkan.

Mulanya hanya bermain bersama teman. Lalu menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan, tumbuh keseriusan. Radinka mulai berlatih lebih teratur, mengikuti kompetisi, dan perlahan mengenal dunia yang berbeda dari sekadar bermain untuk bersenang-senang.

Pada awal 2025, ketika usianya baru 15 tahun, sebuah tim esports ternama meminangnya sebagai atlet profesional. Sejak saat itu, permainan yang dulu dilakukan sepulang sekolah berubah menjadi pekerjaan. Layar yang dahulu menjadi tempat bermain berubah menjadi arena untuk mengukur kemampuan. 

Namun, jalan itu tidak langsung mendapat restu tanpa kekhawatiran. Orang tuanya sempat melihat gim sebagai sesuatu yang perlu dibatasi. Kekhawatiran itu wajar. Bagi keluarga, pendidikan tetap menjadi hal penting, sementara dunia esports masih menjadi jalan yang belum sepenuhnya mereka kenal.

Radinka tidak memilih banyak berdebat. Dia memilih membuktikan. Pada 2024, dia menjadi juara dalam turnamen pertamanya. Kemenangan itu bukan sekadar piala. Ada sesuatu yang berubah setelahnya. 

Perlahan, keraguan keluarga berganti menjadi kepercayaan. Dukungan mulai tumbuh dan mengiringi langkah Radinka yang semakin jauh. Hingga akhirnya, perjalanan itu membawanya keluar dari Indonesia. 

Juli 2026 menjadi bulan yang tidak mudah dilupakan. Radinka tampil dalam kejuaraan dunia di Thailand. Itu merupakan kompetisi internasional pertamanya. Dia melangkah hingga semifinal.

Di antara gemuruh pertandingan dan nama-nama dari berbagai negara, Radinka untuk pertama kalinya merasakan, permainan yang dimulainya dari sebuah kamar dan pertemanan telah membawanya ke panggung dunia. Sang ibu berada di sana. Mendampingi dari dekat, menyaksikan anaknya bertanding di panggung internasional.

Mungkin bagi orang lain, semifinal hanyalah sebuah hasil pertandingan. Bagi Radinka, perjalanan menuju empat besar itu menyimpan cerita yang lebih panjang: tentang latihan, keberanian mencoba, dukungan keluarga, dan sebuah mimpi yang perlahan menemukan jalannya.

Belum lama kemudian, pintu yang lebih besar terbuka. Nama Radinka masuk dalam skuat tim nasional esports Indonesia untuk Asian Games 2026 Aichi-Nagoya. Usianya baru 16 tahun. Dia menjadi atlet termuda dalam tim nasional esports Indonesia untuk ajang tersebut.

Di tengah para atlet yang lebih dahulu mengenal kerasnya pertandingan profesional, Radinka tidak merasa kecil. Baginya, mereka semua datang dengan tujuan yang sama. Membawa Indonesia.

Pelatnas pun menjadi ruang belajar baru. Di sana, dia tidak hanya mengasah permainan. Dia belajar dari para senior, mengenal disiplin yang lebih ketat, menjaga tubuh, mengelola tekanan, dan memahami bahwa menjadi atlet bukan semata tentang kemampuan memenangkan pertandingan.

Salah satu sosok yang paling dekat dengannya adalah Rizky Faidan, partner satu timnya di nomor eFootball. Faidan menjadi senior sekaligus teman berbagi. Dari sosok yang lebih berpengalaman itu, Radinka mendapat pelajaran yang tidak selalu ditemukan dalam latihan seorang diri.

Asian Games nanti juga menghadirkan tantangan yang berbeda. Radinka akan bermain pada sektor mobile, sementara Faidan turun di konsol. Performa keduanya kemudian dihitung dalam sistem agregat.

Setiap permainan menjadi penting. Jepang, Thailand, dan Malaysia menjadi beberapa negara yang diwaspadai Radinka. Namun, dia tidak ingin nama-nama itu tumbuh menjadi ketakutan sebelum pertandingan dimulai.

Gugup tetap ada. Namun dia belajar menempatkannya. Sebelum bertanding, Radinka biasa berdoa, mendengarkan musik, melakukan visualisasi, dan mengatur napas. Hal-hal kecil itu membantunya menenangkan pikiran sebelum memasuki pertandingan.

Di pelatnas, persiapan tidak berhenti pada strategi permainan. Ada latihan mental. Ada pembekalan psikologi. Bahkan jam latihan dan waktu tidur disesuaikan dengan jadwal pertandingan di Jepang agar tubuh terbiasa bertanding pada waktu yang sama. Semua dipersiapkan sedetail mungkin.

Sebab panggung besar tidak hanya menguji tangan yang cepat. Dia juga menguji kepala yang tenang dan hati yang mampu bertahan. Radinka memahami itu. Dia juga memahami, menjadi atlet profesional pada usia muda berarti harus menerima sejumlah kehilangan.

Ada sekolah yang sementara harus ditinggalkan. Ada waktu bersama teman yang berkurang. Ada masa remaja yang tidak seluruhnya bisa dijalani seperti anak-anak seusianya.

Namun, dia belum ingin menyebut perjalanan itu sebagai pengorbanan. Baginya, semua adalah bagian dari proses. Kelak, setelah menyelesaikan SMA, Radinka ingin melanjutkan kuliah. Dia ingin tetap membuka kemungkinan berkarier sebagai atlet esports sambil menempuh pendidikan. (gin) 


Editor : Inilahkoran