Ekspedisi Patriot ITB Latih Kader Kesehatan di Kawasan Transmigrasi Yapsi
Tim Ekspedisi Patriot ITB melatih lebih dari 70 kader kesehatan di Distrik Yapsi tentang swamedikasi, DAGUSIBU, dan penggunaan obat tradisional yang aman.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Jarak antarkampung, kondisi jalan, serta belum meratanya kesiapan fasilitas kesehatan membuat masyarakat di kawasan transmigrasi Distrik Yapsi tidak selalu mudah menjangkau layanan kesehatan.
Dalam kondisi tersebut, kemampuan masyarakat mengenali keluhan ringan, menggunakan obat secara tepat, serta mengetahui kapan harus mencari pertolongan tenaga kesehatan menjadi semakin penting.
Berangkat dari kebutuhan itu, Tim Ekspedisi Patriot ITB Kluster kesehatan menggelar pelatihan bagi lebih dari 70 kader kesehatan yang tersebar di kawasan SP 1 hingga SP 5 serta tiga kampung lokal, yakni Kwarja, Bundru, dan Tabeyyan, pada 17 September 2026.
Pelatihan dilaksanakan secara paralel di tiga pusat pelatihan untuk menjangkau kader dari wilayah yang tersebar. Model ini tidak hanya mempertimbangkan jarak antarkawasan, tetapi juga keberagaman masyarakat yang hidup berdampingan di Yapsi.
Kader tidak ditempatkan sekadar sebagai peserta pelatihan. Mereka dipersiapkan menjadi penghubung antara masyarakat dan layanan kesehatan formal, sekaligus menyebarluaskan informasi kesehatan di lingkungan masing-masing.
Salah satu fokus utama pelatihan adalah meningkatkan literasi masyarakat mengenai swamedikasi yang aman dan rasional.
Para kader mempelajari berbagai keluhan ringan yang dapat ditangani secara mandiri berdasarkan pedoman penggunaan obat bebas dan obat bebas terbatas dari Kementerian kesehatan RI, seperti demam, batuk, nyeri, serta sejumlah keluhan kulit ringan.
Namun, pelatihan tidak berhenti pada kemampuan memilih obat. Kader juga dibekali pemahaman mengenai batas swamedikasi, mulai dari mengenali keluhan yang masih dapat ditangani sendiri, memilih dan menggunakan obat dengan benar, hingga mengetahui kapan seseorang perlu mendapatkan pemeriksaan atau pertolongan tenaga kesehatan.
Pemahaman tersebut dinilai penting karena jarak antara permukiman, Pustu, dan Puskesmas di sejumlah wilayah cukup jauh.
Di sisi lain, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan primer juga masih beragam, baik dari sisi sarana, sumber daya manusia, alat kesehatan, maupun ketersediaan obat.
“Kader bukan untuk menggantikan tenaga kesehatan. Yang ingin dibangun adalah masyarakat yang lebih melek obat, tahu apa yang dapat dilakukan untuk keluhan ringan, tetapi juga tahu batasnya dan kapan harus mencari pertolongan,” ujar Ketua Tim Ekspedisi Patriot ITB Kluster kesehatan, apt Yangie Dwi Marga Pinanga, M.Sc., Ph.D.
Dalam sesi DAGUSIBU—Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang obat dengan benar, kader diajak memahami hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Materi mencakup cara mengenali obat bebas, obat bebas terbatas, dan obat keras; membaca komposisi serta aturan pakai pada kemasan; memahami dosis dan waktu penggunaan; hingga cara menyimpan dan membuang obat yang sudah tidak digunakan.
Materi tersebut mendapat respons positif dari peserta. Sejumlah informasi yang terlihat sederhana bagi tenaga kefarmasian ternyata belum banyak diketahui masyarakat.
“Kami tidak pernah diajarkan bagaimana membaca kemasan obat, sehingga pelatihan ini sangat berguna,” kata salah seorang kader dari SP 5.
Materi DAGUSIBU dan swamedikasi di salah satu pusat pelatihan disampaikan oleh apt. Yangie Dwi Marga Pinanga, M.Sc., Ph.D.
Sementara di dua pusat lainnya, pelatihan melibatkan dosen Farmasi Universitas Cenderawasih, yakni apt. Graciano Aristides Maturbongs, M.Clin.Pharm. dan apt. Juniarto Mende, S.Farm., M.Clin.Pharm.
Pelatihan berlanjut pada materi penggunaan obat tradisional yang aman dan rasional. Materi yang disampaikan apt. Defri Rizaldy, M.Si., Ph.D., dosen Kelompok Keilmuan Biologi Farmasi, Sekolah Farmasi ITB, bersama dosen Farmasi Universitas Cenderawasih di dua sentra lainnya, membuka ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman mengenai praktik pengobatan tradisional yang telah lama digunakan dalam keluarga dan komunitas.
Berbagai tumbuhan lokal disebutkan peserta, lengkap dengan cara pemanfaatannya. Salah satunya disampaikan Jauhari, perwakilan Kampung Takwa Bangun (SP 5).
Dia menceritakan penggunaan air rebusan bunga miana untuk batuk serta praktik pemanfaatan getah kelor yang diteteskan ke mata.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bahan diskusi bersama. Pemateri tidak serta-merta mengabaikan pengetahuan empiris masyarakat, tetapi mengajak peserta melihatnya dari aspek keamanan, cara penggunaan, serta bentuk sediaan.
Dalam penggunaan untuk mata, misalnya, peserta mendapat penjelasan bahwa sediaan yang diberikan langsung ke mata memiliki persyaratan khusus, termasuk sterilitas. Karena itu, ramuan tradisional yang dibuat sendiri tidak tepat digunakan sebagai obat tetes mata.
Pertemuan antara pengalaman masyarakat dan pengetahuan kefarmasian menjadi salah satu bagian penting dalam pelatihan. Pengetahuan lokal tetap dihargai, tetapi penggunaannya perlu disertai pemahaman mengenai keamanan dan potensi risikonya.
Pembagian kegiatan ke dalam tiga pusat pelatihan bukan semata persoalan teknis. Model tersebut dirancang untuk menjangkau kader dari permukiman transmigrasi sekaligus kampung lokal atau adat.
Kawasan Yapsi memiliki modal sosial yang kuat karena masyarakat transmigran dan masyarakat adat hidup berdampingan. Karena itu, penguatan kesehatan masyarakat juga perlu dibangun secara inklusif dan tidak berorientasi pada satu kelompok saja.
Kader kesehatan berbasis komunitas diharapkan dapat memanfaatkan jejaring sosial yang telah ada, mulai dari keluarga, tokoh adat dan agama, kelompok perempuan, pemuda, hingga sekolah. Mereka juga diharapkan menjadi penghubung antara masyarakat dengan Pustu dan Puskesmas.
Dengan model tersebut, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada sekitar 70 kader yang mengikuti pelatihan. Setiap kader diharapkan menjadi simpul informasi kesehatan yang membawa pengetahuan tersebut kembali ke masyarakat di wilayah masing-masing.
Untuk memperkuat keberlanjutan program, Tim Ekspedisi Patriot ITB juga menggandeng dosen Farmasi Universitas Cenderawasih (Uncen) dalam pelaksanaan pelatihan.
Keterlibatan perguruan tinggi lokal dinilai strategis karena penguatan kapasitas kader tidak dapat berhenti ketika satu program selesai.
Sebagai perguruan tinggi yang secara geografis lebih dekat dengan masyarakat Papua, Uncen diharapkan dapat menjadi bagian dari proses estafet pendampingan dan pengembangan kapasitas kesehatan masyarakat di masa mendatang.
Dampak awal pelatihan juga mulai diukur melalui pre-test dan post-test yang diikuti peserta. Selain itu, kader dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil bersama fasilitator untuk mendiskusikan berbagai kasus sehari-hari terkait penggunaan obat dan obat tradisional secara lebih mendalam.
Melalui pendekatan tersebut, pelatihan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun kemampuan kader untuk meneruskannya kepada masyarakat.
Di tengah keterbatasan akses layanan kesehatan, kader diharapkan dapat menjadi mata rantai penting yang menghubungkan pengetahuan, masyarakat, dan layanan kesehatan formal. ***
Editor : Gin gin T Ginulur

