Debit Air di Jaringan Irigasi Surut, Pemprov Jabar Jaga Suplai Air ke Area Pertanian

Pada musim kemarau kali ini, Dinas Sumber Daya Air (DSDA) Jabar mengakui sejumlah jaringan irigasi mulai mengalami penurunan debit air.

Debit Air di Jaringan Irigasi Surut, Pemprov Jabar Jaga Suplai Air ke Area Pertanian
Sejumlah pekerja memperbaiki jaringan irigasi yang rusak. Kemarau kali ini, sejumlah jaringan irigasi di Jabar mengalami penurunan debit air. (dok)

INILAHKORAN.ID - Pada musim kemarau kali ini, Dinas Sumber Daya air (DSDA) Jabar mengakui sejumlah jaringan irigasi mulai mengalami penurunan debit air. Kondisi tersebut terjadi seiring minimnya curah hujan.

Kepala DSDA Jabar Dikky Achmad Sidik mengatakan, beberapa daerah irigasi yang mengalami penurunan pasokan air berada di sejumlah wilayah seperti Kabupaten Bandung, Ciamis, dan Tasikmalaya.

"Beberapa daerah irigasi yang kekeringan ditemukan di Leuwikuya, Soreang Kabupaten Bandung, Ciputrahaji di Ciamis, Biuk dan Padawaras, Tasikmalaya," kata Dikky, Rabu (5/8/2026).

Meski terjadi penurunan debit air, Dikky memastikan kondisi tersebut belum sampai membuat lahan pertanian kehilangan pasokan air sepenuhnya. air masih tersedia, hanya saja volumenya tidak sebanyak kondisi normal.

Potensi gagal panen pun hingga kini belum ditemukan. Sebab, sebagian petani sudah memasuki masa panen sehingga kebutuhan air mulai mengalami penurunan.

"Biasanya masih ada debit kang gak sampai kering. Ada sebagian sudah masuk masa panen jadi kebutuhan nya kecil dan terpenuhi," ujarnya.

Pemprov Jabar kini melakukan berbagai langkah untuk menjaga suplai air ke area pertanian. Upaya tersebut dilakukan agar masa panen yang sedang berjalan maupun musim tanam berikutnya tidak terganggu.

Dikky menyebut, penurunan debit air di sejumlah bendung masih berada pada tingkat yang berbeda-beda dan belum ada yang mengalami kekeringan total.

"Kita masih ngejar supaya panen tidak terganggu. Kalau pengurangan bervariasi. Ada yang kurang 10 persen ada 20 persen dari debit kebutuhan areal irigasi," tuturnya.

Sebelumnya, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mengungkapkan dampak kekeringan mulai dirasakan sejumlah daerah yang selama ini menjadi penyangga produksi pangan nasional. 

Indramayu menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus, disusul sebagian wilayah Subang dan Karawang.

"Yang jelas kan Indramayu. Nanti sebagian Subang, sebagian Karawang," katanya.

Menurut Dedi, persoalan kekeringan di sektor pertanian tidak semata-mata disebabkan faktor iklim, tetapi juga berkaitan dengan kondisi infrastruktur irigasi yang perlu diperkuat.

Dia menilai, peningkatan anggaran untuk perbaikan dan pemeliharaan irigasi menjadi langkah penting agar produksi pangan Jawa Barat tetap terjaga. Namun, pengelolaan infrastruktur air tersebut melibatkan sejumlah pihak sesuai kewenangannya.

"Kekeringan kan sebenarnya faktor infrastruktur irigasi. Sehingga alokasi anggaran untuk irigasi harus terus ditingkatkan. Tetapi kan di situ ada tingkatan kewenangan. Ada yang BBWS, ada yang provinsi, ada yang PJT (Perum Jasa Tirta)," ucapnya.

Dengan ancaman El Nino yang masih berlangsung, Pemprov Jabar memastikan koordinasi lintas lembaga terus dilakukan, untuk menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian dan mencegah gangguan lebih besar terhadap produksi beras daerah.


Editor : Doni Ramdhani