Dedi Mulyadi Minta Kebutuhan Air Data Center AI BDx Jatiluhur Dihitung Cermat

Dedi Mulyadi meminta kebutuhan air data center AI BDx di Jatiluhur dihitung transparan agar investasi tidak mengganggu alokasi air untuk pertanian.

Dedi Mulyadi Minta Kebutuhan Air Data Center AI BDx Jatiluhur Dihitung Cermat
Dedi Mulyadi meminta kebutuhan air data center AI BDx di Jatiluhur dihitung transparan agar investasi tidak mengganggu alokasi air untuk pertanian.

INILAHKORAN.ID - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi meminta perhitungan kebutuhan air proyek pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) milik BDx di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, dilakukan secara cermat. 

Dedi Mulyadi tak ingin ekspansi industri digital berkapasitas besar tersebut, mengurangi alokasi air yang selama ini digunakan sektor pertanian.

Ini dikatakan Dedi, saat meninjau pembangunan AI Campus 2 (CGK4) BDx di kawasan Jatiluhur. Menurutnya, persoalan ketersediaan air harus menjadi perhatian utama sejak awal, karena kebutuhan fasilitas tersebut akan terus meningkat seiring pengembangan proyek.

Dari informasi yang diterimanya, kebutuhan air pusat data tersebut pada tahap pengembangan penuh diperkirakan mencapai sekitar 384 liter per detik. Angka itu setara dengan konsumsi sekitar 33 ribu meter kubik air per hari.

Meski demikian, kebutuhan air pada fase awal operasional masih berada di kisaran 6.000 meter kubik per hari dan akan bertambah secara bertahap, mengikuti pembangunan fasilitas.

Dedi menegaskan, pemerintah harus memastikan pasokan air bagi proyek investasi tetap tersedia tanpa mengorbankan kepentingan petani yang selama ini mengandalkan jaringan irigasi dari sistem Jatiluhur.

"Jangan sampai pas di perjalanan di Indonesia itu kalau sudah ribut-ribut politik, kasihan pengusaha harus fight dari sekarang. Airnya cukup enggak? Mengganggu petani enggak?" ujar Dedi, Selasa (29/9/2026).

Menurut Dedi, sumber pasokan air untuk pusat data BDx berbeda dengan sejumlah industri lain yang mengambil air langsung dari jaringan pengelolaan sumber daya air.

Ia menjelaskan, kebutuhan air BDx dipenuhi melalui PDAM yang memperoleh pasokan dari Jatiluhur, sehingga mekanismenya berbeda dengan penggunaan air secara langsung dari jaringan sungai.

"Kalau ini kan ngambilnya tetap dari Jatiluhur, tapi masuk di PDAM. Maksudnya ngambil airnya dari Jatiluhur, masuknya ke PDAM, beli airnya dari PDAM. Kan beda," ucapnya.

Perbedaan tersebut, kata Dedi, perlu dipahami karena air yang bersumber dari sistem Citarum memiliki berbagai fungsi dan alokasi yang harus dijaga, termasuk untuk mendukung sektor pertanian.

Ia juga menyinggung perlunya penelusuran terhadap sumber pasokan air yang digunakan pusat data di daerah lain, termasuk Karawang.

"Kalau di Karawang berarti sumber airnya pasti dari PJT, pasti pakai Citarum kan? Citarum Barat," katanya.

Sebab itu, Dedi meminta seluruh kebutuhan air industri, termasuk pusat data, dihitung secara transparan agar dampaknya terhadap alokasi air dapat diketahui secara pasti.

"Kita objektif aja. Berapa kebutuhannya?" ujarnya.

Dedi mengingatkan, air dari Waduk Jatiluhur tidak hanya dimanfaatkan masyarakat Purwakarta. Pasokan dari sistem tersebut juga telah dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan berbagai daerah lain seperti Bekasi, Karawang, Subang hingga Jakarta.

"Airnya tidak mengganggu petani, tapi dia alokasikan di Bekasi, Karawang, dan Subang, Jakarta itu sudah ada alokasinya," katanya.

Menurut dia, penambahan kebutuhan air untuk sektor industri harus dihitung secara menyeluruh agar tidak mengganggu distribusi yang telah ditetapkan sebelumnya.

Meski demikian, Dedi menilai keberadaan investasi pusat data tetap penting karena dapat memberikan nilai ekonomi bagi daerah. Sebagai pelanggan komersial PDAM, BDx dinilai berpotensi menambah pendapatan yang pada akhirnya dapat digunakan untuk memperbaiki layanan publik.

"Artinya harus ada air yang dijual berdasarkan aspek komersial. Maka BDx merupakan pasar komersial. Tanpa mengganggu pelayanan," katanya.

Dedi menambahkan, keuntungan dari penjualan air kepada pelanggan komersial dapat menjadi sumber pendanaan untuk meningkatkan kualitas pelayanan air bersih bagi masyarakat.

"Bahkan logikanya adalah hasil keuntungan dari BDx ini bisa untuk meningkatkan kualitas layanan air untuk masyarakat umum," ujarnya.

Ia menegaskan, seluruh kebutuhan dasar proyek harus dipastikan sejak awal agar investasi yang sudah berjalan tidak menghadapi persoalan baru di kemudian hari.

Proyek AI Campus 2 (CGK4) merupakan bagian dari pengembangan kawasan pusat data BDx di Jatiluhur, dengan nilai investasi sekitar Rp3,5 triliun. Fasilitas tersebut dibangun di atas lahan sekitar 8.000 meter persegi dan menjadi bagian dari kawasan pengembangan seluas 11 hektare.

Dalam rencana jangka panjang, kawasan itu akan memiliki enam gedung pusat data dengan kapasitas hingga 640 MW. Gedung pertama akan menyediakan kapasitas IT sebesar 120 MW secara bertahap, sementara fase awal operasional ditargetkan mulai berjalan pada awal 2027. 


Editor : Ahmad Sayuti