Dedie: Leuweung Batutulis Harus Jadi Hutan Kota, Bukan Taman Kota
Usai mengecek ke lapangan, Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menegaskan harus ada penyesuaian terhadap proyek pembangunan Leuweung Batutulis, Kec Bogor Selatan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Usai mengecek ke lapangan, Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menegaskan harus ada penyesuaian terhadap proyek pembangunan Leuweung Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan.
Sejumlah penyesuai itu dilakaukan karena proyek tersebut dikerjakan Pemprov Jabar.
Menurut Dedie, kondisi fisik di lapangan saat ini belum mencerminkan konsep dasar hutan kota sebagaimana yang digagas sejak awal. Desain yang sedang berjalan saat ini justru lebih menyerupai taman kota dengan fasilitas publik yang terlampau dominan, seperti adanya jalur jogging track yang terputus.
"Kalau seperti taman kota, dikhawatirkan dapat memicu kerumunan dan membebani kawasan sekitar. Saya pikir harus ada semacam penyesuaian. Saya sudah lihat di lapangan, masih kurang tercermin yang disebut oleh Pak Gubernur sebagai Leuweung Batutulis," tutur Dedie dikutip pada Selasa (1/9/2026).
Dedie menerangkan, saran dirinya agar fasilitas publik dikurangi dan diganti dengan area hijau untuk kawasan pepohonan.
"Saya menyarankan sebaiknya fasilitas untuk publiknya dikurangi, lebih banyak untuk area penghijauan," tambahnya.
Dedie menjelaskan, pentingnya pengembalian konsep ke ide dasar, yakni sebagai hutan kota yang asri dan estetis melalui penambahan vegetasi serta pohon-pohon rindang. Area tersebut tidak dipaksakan menjadi pusat aktivitas warga yang padat.
"Kalau nanti dibikin area untuk orang banyak, nanti malah jadi beban di sini. Padahal pengennya tidak jadi beban kerumunan. Kalapun memang mau mencari spot untuk melihat pemandangan Gunung Salak, itu cukup satu spot saja," jelasnya.
Kekhawatiran Dedie bukan tanpa alasan, saat ini belum diresmikan juga kawasan Leweung Batutulis sudah mulai memancing konsentrasi warga. Bahkan hal itu terjadi pada akhir pekan lalu.
"Ya, selain potensi kemacetan lalu lintas, faktor keamanan struktur bawah tanah juga menjadi pertimbangan utama penataan ulang ini. Di bawah kawasan Leuweung Batutulis terdapat jalur underpass. Jika area di atasnya dipadati oleh aktivitas publik yang masif, dikhawatirkan akan memicu permasalahan baru yang bertentangan dengan daya dukung lingkungan," bebernya.
Dedie memaparkan, mengantisipasi alih fungsi lahan dari bekas jalan menjadi hutan kota, diminta perencanaan matang terkait fasilitas kantong parkir agar kendaraan pengunjung tidak melimpah dan membebani badan jalan utama.
"Masukan ini sudah saya sampaikan ke pihak Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan konsultan agar segera diselaraskan dengan kondisi ideal yang harus dicapai. Persepsinya dari awal ini adalah hutan kota, namanya Leuweung Batutulis. Nah, itu yang harus jadi dasar pelaksanaan pembangunan di sini," tegasnya.
Editor : Doni Ramdhani

