Di Tengah Gempuran Hiburan Digital, Pasar Malam Tetap Jadi Magnet Warga Soreang
Keberadaan pasar malam tak pernah pudar, dan tetap jadi pilihan warga Soreang di tengah gempuran hiburan digital dan modern
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID- Di saat telepon pintar dan media sosial serta permainan modern menjadi hiburan utama masyarakat, Pasar Malam ternyata belum kehilangan pesonanya. Gemerlap lampu warna-warni, dentuman musik, hingga tawa pengunjung yang memenuhi setiap sudut arena masih menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang ingin menikmati hiburan sederhana bersama keluarga.
Suasana itulah yang terlihat di sebuah lapangan di pinggir Jalan Raya Jenderal Besar Soedirman, Soreang, Kabupaten Bandung. Selama dua pekan terakhir, rombongan pasar malam Grup Perdana Ria Jakarta menghadirkan beragam wahana permainan yang setiap malam dipadati pengunjung.
Menjelang matahari tenggelam, satu per satu wahana mulai dihidupkan. Komidi putar, bianglala, kora-kora hingga ombak banyu bersiap menyambut pengunjung. Di sisi lain, para pedagang kuliner mulai sibuk melayani pembeli. Aroma martabak, bakso, seafood, seblak, hingga jajanan tradisional bercampur dengan hiruk pikuk suara pedagang yang menawarkan dagangannya.
Tak hanya wahana permainan, deretan lapak pakaian, aksesoris, kosmetik hingga permainan ketangkasan berhadiah ikut meramaikan suasana. Ketika malam benar-benar tiba, lampu-lampu warna-warni mulai menyala. Alunan musik berdentum dari pengeras suara di hampir setiap sudut arena, menciptakan suasana khas yang sejak puluhan tahun lalu identik dengan pasar malam.
Di sudut arena berdiri sebuah loket tiket sederhana bercat kuning-merah. Dari tempat itulah para pengunjung membeli tiket wahana dengan harga yang relatif terjangkau, mulai Rp10 ribu hingga Rp15 ribu untuk sekali permainan selama sekitar 10 hingga 15 menit.
"Tiket yang kami jual memang murah supaya semua kalangan bisa menikmati hiburan ini. Kami akan berada di sini selama satu bulan," ujar Aas (26), operator wahana dari Grup Perdana Ria Jakarta, kepada INILAHKORAN.ID, Minggu (28/6/2026).
Namun di balik kemeriahan yang dinikmati ribuan pengunjung, ada cerita perjuangan para pekerja pasar malam yang jarang diketahui.
Setiap sore, Aas bersama rekan-rekannya sudah bersiap mengoperasikan wahana ombak banyu. Berbeda dengan permainan modern yang digerakkan mesin, wahana itu masih diputar secara manual menggunakan tenaga manusia.
Dengan cekatan ia membantu anak-anak dan orang dewasa menaiki wahana melalui tangga besi sederhana. Setelah seluruh penumpang duduk, Aas bersama tiga rekannya mulai mendorong wahana hingga berayun tinggi.
"Pekerjaan ini lumayan berat. Ombak banyu masih manual, jadi harus didorong pakai tenaga. Tangan sampai kapalan, bahkan kalau pecah rasanya perih," katanya sambil tersenyum.
Pemuda asal Indramayu itu sudah dua tahun menjalani kehidupan sebagai pekerja pasar malam. Selama itu pula ia berkeliling berbagai kota di Pulau Jawa, mengikuti rombongan yang berpindah-pindah lokasi hampir setiap bulan.
Baginya, setiap daerah memiliki cerita berbeda. Namun satu hal yang selalu sama adalah rasa bahagia ketika arena dipenuhi pengunjung.
"Suka dukanya banyak. Yang paling berat kalau hujan terus. Pernah seminggu saya cuma dapat gaji Rp30 ribu karena sepi. Tapi kalau ramai, seminggu bisa sampai Rp3 juta seorang," tuturnya.
Menurut Aas, Grup Perdana Ria memiliki sekitar 12 pekerja yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Markas mereka berada di Bogor, sementara keseharian mereka berpindah-pindah mencari lokasi yang dinilai strategis untuk membuka pasar malam.
Selain mengoperasikan wahana, pekerjaan berat juga menanti ketika harus membongkar dan memasang seluruh arena permainan.
"Peralatan kami ada sekitar 10 truk. Semua dipasang dan dibongkar sendiri oleh para pekerja," ujarnya.
Di balik cahaya lampu yang memikat mata dan riuh tawa anak-anak, ternyata tersimpan kerja keras para perantau yang menggantungkan hidup dari dunia hiburan rakyat. Mereka terus berpindah dari satu kota ke kota lain, berharap cuaca bersahabat dan pengunjung datang memenuhi arena.
Di tengah derasnya arus hiburan digital dan modern pasar malam tetap bertahan. Bukan sekadar tempat bermain, tetapi ruang berkumpul keluarga, tempat anak-anak menciptakan kenangan, sekaligus sumber penghidupan bagi puluhan pekerja yang menghidupkan setiap wahana dengan tenaga dan harapan.
Editor : Ahmad Sayuti

