Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya Perkuat Upaya Pelestarian Aksara Sunda
Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya tengah berupaya memperkuat pelestarian aksara Sunda di lingkungan sekolah dengan menjadikan aksara Sunda sebagai muatan lokal.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya tengah berupaya memperkuat pelestarian aksara Sunda di lingkungan sekolah. Salah satu langkah yang disiapkan yakni menjadikan aksara Sunda sebagai muatan lokal khusus di Kota Tasikmalaya.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya Rojab Riswan Taufik mengatakan, upaya tersebut dilakukan karena literasi aksara Sunda di kalangan guru dan siswa masih perlu ditingkatkan.
“Dinas pendidikan sebagai lembaga yang mengontrol mutu pendidikan di Kota Tasikmalaya tidak tinggal diam dalam melestarikan aksara Sunda. Minimnya literasi aksara Sunda di kalangan guru dan siswa menjadi perhatian khusus,” kata Rojab, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya berkomitmen untuk terus menggali dan mengembangkan berbagai muatan lokal yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di sekolah, termasuk aksara Sunda.
Saat ini, Disdik Kota Tasikmalaya bersama tim pengembang kurikulum muatan lokal tengah merancang kurikulum khusus aksara Sunda. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas ruang pembelajaran aksara Sunda di sekolah.
“Yang terakhir kami juga sedang berupaya untuk menjadikan aksara Sunda sebagai muatan lokal di Kota Tasikmalaya. Bersama tim pengembang kurikulum muatan lokal kami tengah merancang kurikulum khusus aksara Sunda,” ujarnya.
Selain menyiapkan kurikulum khusus, berbagai program telah dilakukan Disdik guna mendorong guru dan siswa mengenal serta menguasai aksara Sunda.
Salah satunya dengan menggelar lomba aksara Sunda secara rutin setiap tahun. Kegiatan tersebut menjadi salah satu pemantik agar guru dan siswa terdorong untuk mempelajari sekaligus melestarikan aksara Sunda.
Disdik juga menggelar bedah kurikulum Bahasa Sunda dengan melibatkan sejumlah komunitas dan lembaga terkait, di antaranya Komunitas Cermin, Dewan Kesenian, Disporabudpar, Forum Guru Menulis, KKG Bahasa Sunda, serta komunitas pegiat aksara Sunda.
Melalui kegiatan tersebut, para guru diharapkan dapat memahami lebih mendalam capaian pembelajaran aksara Sunda dalam kurikulum Bahasa Sunda.
Rojab mengakui, porsi pembelajaran aksara Sunda dalam kurikulum saat ini masih terbatas. Materi aksara Sunda, kata dia, saat ini terdapat pada pembelajaran kelas 5 dan kelas 7.
“Memang porsinya saat ini masih minim karena dalam kurikulum, aksara Sunda hanya ada di kelas 5 dan kelas 7,” katanya.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut sekaligus melakukan regenerasi tenaga pengajar, Disdik bekerja sama dengan tim Calakan atau komunitas pegiat aksara Sunda menggelar bimbingan teknis (bimtek) menulis aksara Sunda melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) di setiap ranting dan kecamatan.
Program itu dinilai penting karena sebagian guru yang sebelumnya memiliki kemampuan membaca dan menulis aksara Sunda telah memasuki masa pensiun.
“Hal itu dilakukan mengingat beberapa guru yang mahir dalam aksara Sunda sudah pensiun. Maka dari itu kami mengadakan bimtek sebagai upaya dalam meregenerasi guru untuk mahir membaca dan menulis aksara Sunda,” ujar Rojab.
Dengan berbagai program tersebut, Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya berharap kemampuan aksara Sunda di kalangan guru dan siswa semakin meningkat. Pelestarian aksara Sunda pun diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat menjadi bagian yang lebih kuat dalam proses pembelajaran di sekolah.
Editor : Doni Ramdhani

