Dinkes Jabar Sasar 102 Ribu Anak yang Belum Diimunisasi Campak
102 Ribu anak di Provinsi Jawa Barat terdata belum diimunisasi campak.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - 102 ribu anak di Provinsi Jawa Barat terdata belum diimunisasi campak. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar, Vini Adiani Dewi mengatakan, sejak tahun lalu pihaknya terus menggalakkan sosialisasi, agar target dari program Imunisasi Kejar terakselerasi.
Targetnya kata Vini, 102 ribu anak yang belum mendapatkan imunisasi di Jabar, bisa segera tervaksinasi campak.
"Di Jawa Barat ada 102 ribu anak yang belum dilakukan imunisasi. Nah, jadi dari tahun kemarin, sebetulnya kita sudah antisipasi hal tersebut," ujar Vini saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Selasa (7//4/2026).
Menggandeng pemerintah kabupaten/kota lanjut Vini, diharapkan mampu mempercepat pemberian vaksin campak dari program Imunisasi Kejar.
"Sekarang itu di setiap kabupaten/kota (dilaksanakan imunisasi). Nanti dikomunikasikan dengan Kementerian Kesehatan," ucapnya.
Sejak Januari 2026, dari data yang masuk dari 15 kabupaten/kota ke Dinkes Jabar, ada 258 kasus campak terjadi di Jabar.
Kasus terbanyak lanjut dia, terjadi di Kota Tasikmalaya. Sedangkan untuk korban meninggal akibat campak yang terdata, baru satu kasus, yakni dokter internship berinisial AMW (26) yang dilaporkan meninggal dunia pada Kamis (26/3/2026), usai menjalankan tugas di salah satu rumah sakit di Cianjur.
"Kota Tasikmalaya. Kalau dilaporkan (meninggal) baru yang kemarin itu, kasus yang di Cianjur," ucapnya.
Lebih lanjut Vini mengatakan, penyakit campak tidak hanya sekadar gatal di kulit. Gatal di kulit hanya terjadi bagi orang yang pernah diimunisasi.
"Kalau orang belum diimunisasi, itu bisa terjadi radang otak, radang paru-paru, mata menjadi buta, pendengaran menjadi tuli. Bahkan yang paling bahaya itu ada namanya amnesia imun," katanya.
Amnesia imun ini papar Vini, yakni imun tubuh lupa akan tugasnya dalam memerangi penyakit dalam tubuh.
"Jadi lupa, antibodi. Yang sudah divaksin pnemonia, nah antibodi tubuh lupa kalau sebetulnya ia itu tentara untuk mencegah pnemonia," katanya.
Maka dari itu, orang terkena campak kini harus terus diobservasi selama empat bulan hingga tiga tahun, guna memastikan ada dampak tambahan penyakit lain atau tidak dari campak tersebut.
Melonjaknya penyakit campak pada tahun ini ungkap Vini, akibat dari kelalaian puluhan tahun lalu. Sebab kala itu, banyak masyarakat yang tidak menyertakan anaknya untuk mengikuti vaksin lengkap di layanan kesehatan terdekat, salah satunya imunisasi campak.
"Jadi, kejadian campak sekarang itu adalah akibat pada saat 20-30 tahun ke belakang. Jadi, bukan karena sekarang. Karena, makanya kenapa jadi ada orang dewasa, yang dulu tidak diimunisasi campak," ujarnya.
Ia melanjutkan, campak terjadi karena selain penularannya yang cepat, juga akibat sebelumnya anak belum pernah diimunisasi.
"Kejadian sekarang itu bukan karena kesalahan sekarang. Tapi lebih dari akibat karena makin banyaknya orang yang tidak diimunisasi campak. Jadi, tidak ada penghalang," ucapnya.
Maka dari itu, saat ini kasus campak terjadi di semua kelompok umur. Tidak hanya anak, tetap juga dewasa.
"Kejadian sekarang itu sangat ditentukan oleh orang-orang yang sekarang itu harus semua untuk imunisasi campak. Kalau enggak, nanti tahun-tahun berikut itu akan terjadi seperti sekarang, karena ada orang yang tidak diimunisasi campak," katanya.***
Editor : JakaPermana

