Dipaksa Angkat Kaki di Lahan SMAN 28 Bandung, Pedagang Arcamanik Harap Kemurahan Hati
Di tengah tumpukan pot kosong dan lapak yang dibongkar, Penasehat Paguyuban Kembang Sukamiskin Yanti Siti Komariah (56) memandangi lahan mata pencahariannya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Di tengah tumpukan pot kosong dan sisa-sisa lapak yang dibongkar, Penasehat Paguyuban Kembang Sukamiskin Yanti Siti Komariah (56) berdiri memandangi lahan yang selama 32 tahun menjadi sumber penghidupannya.
Kini, tak ada lagi deretan tanaman hias yang dulu menghijaukan kawasan depan Sport Jabar Arcamanik, Jalan Pacuan Kuda, Kota Bandung.
Ribuan tanaman telah dipindahkan ke tempat sementara. Namun bagi Yanti dan 14 pedagang lainnya yang belum berpindah justru kegelisahan tentang masa depan.
Mereka tidak mempersoalkan pembangunan SMAN 28 Bandung yang akan berdiri di atas lahan milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Yang mereka pertanyakan adalah nasib mereka setelah pengosongan lahan dilakukan.
"Ibu tidak mau dikatakan menghambat pembangunan. Seharusnya kalau menurut ibu, kita terdampak harusnya dikasih solusi dulu," kata Yanti kepada INILAHKORAN.ID, Rabu (17/6/2026).
Kalimat itu menjadi gambaran perasaan para pedagang tanaman yang kini berada di persimpangan. Di satu sisi mereka mendukung pembangunan sekolah, namun di sisi lain mereka berharap pemerintah tidak meninggalkan warga yang terdampak.
Bagi masyarakat yang melintas, kawasan tersebut mungkin hanya terlihat sebagai deretan kios tanaman. Namun bagi Yanti, tempat itu adalah hasil kerja keras puluhan tahun.
Dia mulai berjualan sejak 1993. Saat itu, kawasan Arcamanik belum berkembang seperti sekarang. Bahkan, menurutnya, lahan yang kini akan dibangun sekolah dulunya merupakan area persawahan.
"Dulu itu sawah, jadi kita mengurug sendiri. Kita rapikan. Ibu aja dulu sampai 230 truk tanah untuk menguruk ini sampai rata," ungkapnya.
Sedikit demi sedikit, para pedagang membangun kawasan tersebut hingga dikenal sebagai sentra tanaman hias. Tidak hanya menjadi tempat usaha, tetapi juga ruang hijau yang memberi warna bagi kawasan Arcamanik.
Selama lebih dari tiga dekade, Yanti bertahan melewati berbagai perubahan pengelolaan lahan.
"Ibu dari tahun 1993 ya. Jadi sekarang saya sudah kurang lebih 32 tahun," tuturnya.
Karena itu, ketika pengosongan lahan harus dilakukan, yang hilang bukan sekadar tempat berjualan. Ada sejarah, investasi, dan kenangan panjang yang ikut tercerabut.
Sejak diberi tahu pada Desember 2025 bahwa lahan akan digunakan untuk pembangunan SMAN 28, para pedagang berusaha mencari lokasi baru. Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil.
"Di awal kita diberitahu bahwa ini mau dipakai di bulan Desember. Kita tuh mencari lahan (relokasi), tetapi mentok dan urusannya sama biaya yang sekarang kesulitan," ujar Yanti.
Dengan tenggat relokasi pada Jumat (20/6/2026) lusa, kecemasan para pedagang semakin meningkat.
"Sekarang kelabakan," katanya singkat.
Persoalan terbesar yang mereka hadapi bukan hanya kehilangan tempat usaha, tetapi juga keterbatasan modal untuk memulai kembali dari nol.
"Nah, jadi ibu kesulitannya, satu tempat. Keduanya permodalan," ujarnya.
Kondisi tersebut bahkan berdampak pada kesehatan para pedagang. Tiga orang dikabarkan harus menjalani perawatan karena mengalami stres akibat ketidakpastian masa depan usaha mereka.
Di tengah situasi itu, harapan para pedagang kini tertuju kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Mereka berharap ada kebijakan relokasi yang memungkinkan usaha tanaman tetap berjalan.

Menurut Yanti, relokasi menjadi kebutuhan paling mendesak karena tanpa lokasi baru, usaha yang sudah dibangun puluhan tahun terancam berhenti total.
"Kalau boleh, kalau bisa, dan diusahakan ada, karena mungkin aset-aset tanah pemerintah banyak. Mohon direlokasi ke tempat yang kira-kira kami bisa berjualan di pinggir jalan," katanya.
Permohonan itu secara khusus ditujukan kepada Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dan Kepala Dinas Pendidikan Jabar Purwanto.
"Saya memohon kepada Pemprov Jabar, terutama Bapak Gubernur Dedi Mulyadi, Bapak Kadisdik (Purwanto), mohon gimana ini untuk pedagang bunga yang sudah sekian lama mengurus lahan ini," ujarnya.
Bagi para pedagang, relokasi bukan sekadar perpindahan lokasi. Relokasi adalah kesempatan untuk tetap bertahan hidup.
Selain relokasi, para pedagang juga berharap adanya kompensasi atas pengosongan lahan yang telah mereka tempati dan rawat selama puluhan tahun.
Menurut Yanti, selama ini para pedagang mengeluarkan biaya besar untuk menata kawasan tersebut hingga menjadi sentra tanaman yang dikenal masyarakat.
Sebab itu, mereka merasa layak mendapatkan perhatian yang sama seperti kelompok masyarakat terdampak kebijakan pemerintah di lokasi lain.
"Mohon maaf, pedagang lain, PKL lain yang di Lembang, Cicadas mendapatkan perhatian seperti kompensasi, tetapi kami tidak," katanya.
Yanti juga menyinggung adanya ketentuan dalam Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2023, yang menurut pemahamannya mengatur mengenai pemberian kompensasi bagi masyarakat yang telah lama menempati aset pemerintah.
"Apalagi ada Perpres Nomor 78 Tahun 2023 yang mengatur mengenai kompensasi. Bahwa masyarakat yang telah menempati aset pemerintah lebih dari 10 tahun berhak mendapatkan kompensasi," ujarnya.
Namun harapan itu seolah pupus, setelah mereka menerima penjelasan saat sosialisasi beberapa waktu lalu, terkait pengosongan lahan tersebut.
"Sementara terakhir, waktu sosialisasi orang pemerintah provinsi bilang enggak ada kompensasi serupiah pun," katanya.
Di tengah rencana pembangunan SMAN 28 Bandung yang digadang-gadang akan membuka akses pendidikan bagi ribuan pelajar, ada belasan keluarga yang kini menunggu jawaban dari pemerintah.
Mereka tidak meminta pembangunan dihentikan. Mereka hanya berharap pembangunan tidak meninggalkan korban sosial.
Bagi Yanti dan rekan-rekannya, relokasi dan kompensasi bukan semata soal uang atau lahan. Itu adalah harapan untuk melanjutkan hidup setelah 32 tahun menjaga kawasan Arcamanik tetap hijau.
"Jadi kami mohon kebijakan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pak Gubernur untuk membantu kami. Karena kami bingung, mau relokasi ke mana, enggak punya tempat dan enggak ada modal lagi," pungkasnya.
Kini, ketika ribuan tanaman telah dipindahkan dan tenggat pengosongan semakin dekat, harapan itu menjadi satu-satunya yang belum ikut terusir dari Arcamanik.
Sebelumnya, SMAN 28 Bandung ini sempat heboh lantaran diminati ratusan calon murid dalam SPMB 2026, sementara bangunannya masih 'gaib'.
Dari total kuota 216 kursi yang disediakan di SMAN 28, peminatnya mencapai 600 orang.
Kepala Disdik Jabar Purwanto menuturkan, mengingat SMAN 28 Bandung belum memiliki fisik bangunan, siswa yang diterima dari SPMB 2026 akan mengikuti kegiatan belajar mengajar sementara di SMAN 23 Bandung.
Pihaknya menargetkan, pembangunan sekolah dapat diselesaikan sebelum akhir 2026 agar para siswa bisa segera menempati gedung baru.
"Desember harus sudah selesai. Mudah-mudahan lima bulan selesai," tegasnya.
Tidak hanya SMAN 28, SMAN 29 juga belum memiliki bangunan. Siswa yang diterima dari SPMB 2025, sementara akan menjalani kegiatan belajar mengajar di Kantor Disdik Jabar, Jalan Radjiman, Kota Bandung.
"Kalau 29 itu kan enam kelas. 6 kelas dikalikan 42-an atau sekitar 219-an kalau nggak salah," ujarnya.
Editor : Doni Ramdhani


