Disdik Jabar Jamin, Tidak Akan Ada Siswa Titipan Usai MPLS
Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat jamin, tidak akan ada siswa titipan usai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat jamin, tidak akan ada siswa titipan usai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Plh Kepala Disdik Jabar Ade Afriandi mengatakan, potensi adanya siswa titipan usai MPLS tidak akan terjadi karena jumlah rombongan belajar (rombel) di tiap sekolah setelah PPDB 2024 telah terkunci sistem.
Sehingga sekolah tidak bisa menambah siswa usai MPLS, karena pasti akan ketahuan oleh Disdik.
"Secara sistem itu ada, misalnya sekolah A 12 rombel, masing-masing 36 siswanya, itu dilaporkan dan dikunci dalam sistem dan itu akan terdata di Kemendikbud, dari PPDB tahap satu juga sebetulnya sudah mengunci, tidak diubah-ubah lagi," ujar Ade baru-baru ini.
Siswa yang masuk di luar sistem PPDB lanjut dia, tidak hanya akan ketahuan. Tetapi juga bakal dikenakan sanksi, baik untuk siswa maupun sekolah.
"Konsekuensinya siswa itu tidak akan mendapatkan nomor induk dan rapot, sekolahnya tidak akan mendapatkan dana bantuan operasional sekolah (BOS)," ucapnya.
Maka dari itu, potensi siswa titipan seperti sebelumnya usai MPLS dipastikan tidak akan terjadi mulai tahun ini.
"Kalau tahun lalu, yang saya dapat laporannya ternyata sistem tidak dikunci, tahun ini dikunci. Jadi, modusnya apapun juga akan ketahuan, makanya kita kunci rombel itu," imbuhnya.
Biasanya jalur titipan untuk siswa usai MPLS kata Ade, itu dikenal dengan sebutan jalur optimalisasi.
"Jalur optimalisasi itu istilah dari mereka yang terlibat dalam urusan tersebut. Bentuknya itu penambahan jumlah siswa di dalam kelas. Misalnya, saat MPLS di dalam satu rombel itu 40 siswa, tapi malah jadi 50 siswa. Itu terjadi, tapi tidak di semua sekolah," terangnya.
Berbeda dengan tahun ini kata dia, hal tersebut dijamin tidak akan terjadi karena sistem akan mengunci sesuai hasil PPDB.
"Kita ingin sesuai aturan, hal-hal seperti itu tidak ada lagi ruang untuk sekolah tiba-tiba menambah jumlah siswa dalam rombel," tandasnya. ***
Editor : JakaPermana

