Disdik Jabar Soroti Yayasan SMA Al Kautsar, Siswa Masih Belajar Lesehan
Polemik kondisi belajar siswa SMA Al Kautsar di Desa Tenjonagara, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya yang masih lesehan disorot Disdik Jabar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Polemik kondisi belajar siswa SMA Al Kautsar di Desa Tenjonagara, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya yang masih berlangsung di bangunan sederhana tanpa meja dan kursi, memunculkan respons keras dari Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar.
Kepala Disdik Jabar Purwanto mempertanyakan kesiapan yayasan dalam menyelenggarakan pendidikan. Menurutnya, karena berstatus sekolah swasta, tanggung jawab utama penyediaan sarana dan prasarana berada di tangan pengelola sekolah.
"Ya, tanyakan sama yayasan ya. Swasta kan? Sama yayasan di situ," ujar Purwanto, Selasa (8/9/2026).
Pernyataan itu disampaikan, menyusul mencuatnya kondisi belasan siswa SMA Al Kautsar yang harus mengikuti kegiatan belajar mengajar secara lesehan di bangunan menyerupai saung. Potret tersebut ramai diperbincangkan, karena menggambarkan keterbatasan fasilitas pendidikan yang masih terjadi di sejumlah wilayah.
Purwanto menilai, persoalan tersebut perlu dijelaskan terlebih dahulu oleh yayasan yang menaungi sekolah. Ia mempertanyakan keputusan mendirikan lembaga pendidikan apabila kesiapan sarana dasar belum memadai.
"Swasta, coba ditanyakan ke yayasannya kenapa bikin sekolah kalau tidak punya kemampuan. (Tidak) punya kemampuan sarana prasarana kenapa bikin sekolah," ucapnya.
Menurut dia, yayasan memiliki tanggung jawab penuh terhadap keberlangsungan operasional sekolah, termasuk memastikan tersedianya fasilitas yang layak bagi peserta didik. Karena itu, berbagai persoalan yang muncul semestinya dijawab oleh pihak penyelenggara pendidikan.
"Iya, tanyakan dulu ke yayasan, kan di situ mungkin juga ada sekolah negeri, segala macam," katanya.
SMA Al Kautsar sendiri berdiri pada 2016 di Kampung Tataru, untuk memberikan akses pendidikan menengah bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang tinggal di daerah dengan keterbatasan akses transportasi dan jarak sekolah yang relatif jauh.
Namun setelah hampir satu dekade beroperasi, sekolah tersebut masih bergulat dengan keterbatasan fasilitas. Belasan siswa diketahui menjalani proses belajar di ruang sederhana yang jauh dari standar sarana pendidikan pada umumnya.
Kondisi itu menjadi perhatian publik, karena memperlihatkan tantangan yang masih dihadapi sekolah-sekolah swasta berbasis masyarakat di daerah pelosok.
Sorotan semakin menguat, lantaran lokasi sekolah tidak jauh dari bangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang berdiri di atas lahan yang sebelumnya dimanfaatkan sebagai ruang publik warga.
Editor : Doni Ramdhani

