Disdik Jabar Tengah Pilah Data, Sebelum Gemukkan Rombel dalam 1 Kelas
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat Purwanto mengatakan, saat ini pihaknya tengah memilah data siswa, sebelum menggemukkan rombongan belajar (Rombel) dalam satu kelas, guna memfasilitasi pendidikan anak kurang mampu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Kepala Dinas pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat Purwanto mengatakan, saat ini pihaknya tengah memilah data siswa, sebelum menggemukkan rombongan belajar (Rombel) dalam satu kelas, guna memfasilitasi pendidikan anak kurang mampu.
Tahun ini lanjut Purwanto, data siswa akan diharmonisasikan dengan catatan pemerintah pusat terkait jumlah anak tidak sekolah atau ATS.
"Tahun sekarang kita lagi melakukan pemilahan data. Lagi diharmonisasikan dengan pemerintah pusat. Prinsipnya kementerian sudah oke, untuk pengentasan ATS kita," ujar Purwanto di Kota Bandung baru-baru ini.
Dia melanjutkan, nanti bakal ada penyesuaian di beberapa sekolah, dari biasanya 36 siswa dalam satu kelas, dimungkinkan hingga 50 murid.
"Dari 36 (siswa dalam satu kelas) ke 45 (siswa), toleransi sampai 50 (siswa)," kata Purwanto.
Disinggung mengenai sekolah mana saja yang bakal menambah jumlah Rombel, Purwanto mengaku saat ini pihaknya masih melakukan kajian terkait rencana tersebut.
"Itu di sekolah-sekolah yang memungkinkan, nanti lagi dikaji," ucapnya.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melakukan audiensi dengan Menteri pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti di Jakarta, pada Selasa 17 Juni 2025 kemarin.
Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov Jabar Herman Suryatman mengungkapkan, salah satu poin yang dibahas adalah menyiasati agar tidak ada lagi anak putus sekolah di Jabar karena permasalahan biaya.
Hasilnya, Mendikdasmen merekomendasikan kepada Pemprov Jabar kata Sekda Herman, untuk menaikkan jumlah rombongan belajar atau rombel.
Sebab kata dia, Gubernur Dedi ingin seluruh anak di Jabar, khususnya yang kurang mampu dipastikan mendapatkan pendidikan. Dimana ini dipicu dengan adanya remaja yang melakukan percobaan bunuh diri di Cirebon, lantaran depresi karena putus sekolah.
"Kita prihatin, bagaimana anak ingin membeli perlengkapan sekolah, ingin melanjutkan. Tapi satu lain hal orangtua ada kendala. Nah itu tidak boleh terjadi dan negara harus hadir," kata Sekda Herman di Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu 18 Mei 2025.
Maka dari itu, selain melalui Bantuan pendidikan Menengah Universal (BPMU) untuk siswa kurang mampu di sekolah swasta. Pemprov Jabar juga bakal menindaklanjuti rekomendasi dari Kemendikdasmen, dengan memperbanyak jumlah anggota rombel.
Sebab Gubernur Dedi kata Sekda Herman, ingin ada solusi yang cepat tapi juga akuntabel terkait penanganan siswa kurang mampu.
"Korespondensi, administrasinya sudah dilayangkan. Setelah itu, kami dibimbing Dirjen pendidikan Dasar dan Menengah untuk tindaklanjut. Salah satunya alternatif untuk yang optimasi sekolah negerinya bagi yang miskin dengan penambahan jumlah siswa pada rombongan belajar," ucapnya.
Bila biasanya dalam satu kelas berjumlah 36 siswa kata Sekda Herman, maka akan diperbanyak sesuai kebutuhan hingga mencapai 50 murid.
"Kami sedang hitung dan tentu ini kita dedikasikan untuk anak-anak yang miskin, dengan tetap memberikan ruang sekolah swasta," tandasnya. (Yuliantono)
Editor : Ahmad Sayuti

