Disparbud Jabar Senang Bandung Macet, Ini Alasannya...
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat Iendra Sofyan mengaku senang, bila Kota Bandung macet, apalagi di saat akhir pekan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat Iendra Sofyan mengaku senang, bila Kota bandung macet, apalagi di saat akhir pekan.
Sebab Iendra melihat, kemacetan yang terjadi menunjukkan ada lonjakan kunjungan wisata. Itu artinya perputaran ekonomi di Kota Bandung berjalan baik.
"Saya melihat bahwa, salah satu penyebab macet itu adalah kunjungan wisata. Itu yang buat saya senang-senang saja," ujar Iendra di Gedung Sate, Kota Bandung baru-baru ini.
Hanya saja diakui Iendra, hal tersebut harus disiasati supaya wisatawan yang berkunjung ke Kota Bandung tetap nyaman dan ingin datang lagi.
Salah satunya adalah dengan menghadirkan moda transportasi publik, serta sarana pendukung lainnya.
"Tinggal sekarang, daya dukungnya dari sektor perhubungan segala macam itu perlu disiapkan," ucapnya.
Apalagi ke depan, banyak perhelatan akbar bakal dilakukan di Bandung kata Iendra. Salah satunya Pasar Seni ITB yang digelar di medio Oktober.
Hal ini menurutnya harus diantisipasi Pemerintah Kota Bandung, supaya potensi kemacetan yang terjadi dalam sejumlah gelaran tersebut dapat diantisipasi.
"Makin ke depan, kita sudah mengidentifikasi dengan Pak Wali Kota, banyak event yang akan diselenggarakan di bulan Juli, Agustus, September, Oktober. Diantaranya nanti adalah Pasar Seni di ITB, itu juga akan berdampak kemacetan segala macam. Nah ini saya kira nanti PR-nya Pak Wali Kota, bagaimana mengantisipasi tentang kemacetan itu," kata dia.
Terlepas dari itu, Iendra kembali menegaskan kemacetan bukan berarti melulu memberi dampak negatif. Bila kemacetan karena kunjungan wisata, itu artinya kata dia, pertumbuhan ekonomi akan baik.
Tentunya lanjut Iendra, ini akan memberi angin segar bagi pengusaha hotel dan restoran, yang selama ini mengandalkan belanja pemerintah.
Sebab, setidaknya di tengah efisiensi yang dilakukan pemerintah kata dia, pelaku usaha hotel dan restoran dapat mengandalkan dari kunjungan wisata.
"Tapi yang penting buat saya, makin banyak yang berkunjung, ya Alhamdulillah. Makin lama stay-nya di sini, ya Alhamdulillah. Jadi teman-teman ekonomi PHRI perhotelan juga makin tumbuh. Ya, restoran juga nyamanya untuk makan," tandasnya.
Sebelumnya, ramai dibicarakan mengenai kemacetan di Kota Bandung, setelah TomTom Traffic Index merilis data survei mereka di 2024 lalu. Dimana Kota Bandung menduduki peringkat pertama sebagai kota termacet di Indonesia. Bahkan, Kota Bandung menduduki peringkat ke-15 sebagai kota termacet di dunia.
Dari data tersebut, rata-rata waktu tempuh per 10 kilometer di Kota Bandung membutuhkan waktu 32 menit 37 detik. (Yuliantono)
Editor : Ahmad Sayuti

