Disparbud Jabar Ungkap Tantangan Wujudkan Desa Wisata: Kuncinya Ada di Kepala Desa

Dari total 5.312 desa di Jawa Barat, baru 682 desa yang berhasil berkembang menjadi Desa Wisata, atau sekitar 12,8 persen dari keseluruhan.

Disparbud Jabar Ungkap Tantangan Wujudkan Desa Wisata: Kuncinya Ada di Kepala Desa
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar Iendra Sofyan mengungkapkan, tantangan terbesar dalam mewujudkan Desa Wisata justru datang dari minimnya kesadaran dan perencanaan di tingkat desa. (dok)

INILAHKORAN, Bandung - Dari total 5.312 desa di Jawa Barat, baru 682 desa yang berhasil berkembang menjadi Desa Wisata, atau sekitar 12,8 persen dari keseluruhan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar Iendra Sofyan mengungkapkan, tantangan terbesar dalam mewujudkan Desa Wisata justru datang dari minimnya kesadaran dan perencanaan di tingkat desa.

Menurutnya, banyak kepala desa yang belum memahami potensi wisata di wilayahnya sendiri—padahal potensi itu bisa dikembangkan untuk mendongkrak ekonomi masyarakat.

Desa Wisata berawal filosofinya dari bagaimana mengembangkan sebuah desa untuk menyejahterakan masyarakatnya. Kuncinya adalah kepala desa. Harus menjadi niatannya dan masuk dalam rencana pembangunan desa. Satu di dalam kepalanya, yang kedua di dalam dokumen RPJM desanya,” ujar Iendra dikutip Minggu 19 Oktober 2025.

Iendra menegaskan, sinergi antara kepala desa dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) sangat krusial dalam membangun Desa Wisata yang berkelanjutan.

“Jangan sampai yang datang ke saya hanya calon Pokdarwis atau calon investor, sementara kepala desanya tidak tahu. Ini sering terjadi, yang asik bermain justru Pokdarwis dan investor, kepala desanya tidak tahu,” ungkapnya.

Padahal lanjut Iendra, kolaborasi antara kepala desa, perangkat desa, dan Pokdarwis menjadi kunci agar potensi wisata yang ada dapat memberikan dampak nyata bagi perekonomian masyarakat dan pendapatan desa.

“Nah, itu yang akan kita benahi ke depan,” ucapnya.

Sementara Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Jawa Barat Ade Afriandi menegaskan, orientasi pengembangan Desa Wisata tak boleh semata-mata berfokus pada keuntungan ekonomi.

Ia meminta agar langkah pengembangan dilakukan dengan cermat, terukur dan berbasis pada pelestarian nilai lokal.

“Kami memberikan kepada stakeholder pemahaman dalam pengembangan Desa Wisata tersebut. Di antaranya membuka Desa Wisata atau pariwisata di desa itu konteksnya jangan langsung ke soal pendapatan desa sebagai Desa Wisata, ya,” katanya.

Ia menekankan, Desa Wisata bukan hanya soal destinasi menarik, tetapi juga soal pelayanan yang aman, ramah, dan berkesan, agar masyarakat tidak kapok untuk datang kembali.

“Ini kan bagian dari bagaimana mempergunakan potensi-potensi itu tetap terpelihara, tetap dijaga,” tambahnya.

Saat ini, tercatat ada ratusan desa di Jawa Barat yang sudah dioptimalkan sebagai Desa Wisata. Di antaranya terdapat 278 kampung budaya dan sekitar 15 kampung adat tersebar di Sukabumi, Bogor, Garut, Bekasi, Tasikmalaya, Ciamis dan Pangandaran.

Pemprov Jabar berkomitmen menghadirkan Desa Wisata yang terstandarisasi, bukan hanya dari sisi jumlah pengunjung, tapi juga dari keberlanjutan nilai budaya dan kearifan lokal yang diusung.

“Kami tengah merumuskan bagaimana pembinaan turunan dari Perda Wisata dan Perda Pengarusutamaan Budaya sehingga pemerintah desa bisa menjalankan perannya melestarikan adat budaya dalam penyelenggaraan pemerintahan desa,” jelas Ade.

Ia menambahkan, dengan sinergi lintas dinas dan peran aktif Pemdes, Desa Wisata di Jabar diharapkan mampu menjadi pusat budaya, seni dan ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan.


Editor : Doni Ramdhani