DLH Luncurkan Aplikasi Sirusa untuk Data Produksi Sampah Hotel, Resto dan Kafe
DLH Kota Bogor melakukan soft launching aplikasi Sistem Rute Angkutan Sampah (Sirusa) untuk mendata timbulan sampah yang dihasilkan hotel, restoran, dan kafe.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor melakukan soft launching aplikasi Sistem Rute Angkutan sampah (Sirusa) untuk mendata timbulan sampah yang dihasilkan hotel, restoran, dan kafe.
Aplikasi itu diharapkan membuat data sampah di Kota Bogor lebih akurat sekaligus membantu pemerintah menentukan pola pengangkutan hingga kebutuhan sampah untuk Pengolahan sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengatakan, pelaku usaha ikut bertanggung jawab dalam pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Pelaku usaha, termasuk hotel dan restoran, harus berperan sejak dari sumber sampah atau hulu.
"Yang namanya mengelola sampah itu jangan hanya bicara di ujungnya saja, pemerintah ngangkutin sampahnya. Tetapi tanggung jawab sosialnya dari para pelaku usaha pun harus ada," kata Dedie di Auditorium Bima Arya Sugiarto, Selasa (18/8/2026).
Dedie memaparkan, tanggung jawab tersebut salah satunya diwujudkan dengan melakukan pemilahan sampah dari tempat usaha. sampah yang masih memiliki nilai ekonomi sebaiknya dikelola secara mandiri dan tidak langsung dibuang.
"Yang pertama pemilahan di hulu. Apa yang memang masih punya nilai ekonomi, ya tentunya sebaiknya dikelola sendiri," terangnya.
Dedie mendorong pelaku usaha melakukan upaya pengurangan sampah. Barang yang masih dapat digunakan kembali maupun didaur ulang diharapkan tidak langsung berakhir menjadi sampah. Jangan semua kemudian akhirnya jadi cuma jadi sampah doang.
"Kan ada yang bisa di-recycle, barangkali ada yang masih bisa dimanfaatkan, silakan dimanfaatkan. Saya berharap prinsip tersebut diterapkan tidak hanya oleh pelaku usaha hotel, restoran, dan kafe tetapi seluruh sumber penghasil sampah. Kami ingin persoalan sampah sebisa mungkin diselesaikan terlebih dahulu di lokasi sumbernya," jelasnya.
"Dengan demikian, sampah yang diserahkan kepada pemerintah benar-benar merupakan sampah yang sudah tidak memiliki nilai manfaat. Jadi semua urusan sampah itu selesai di restoran, selesai di hotel, selesai di perkantoran, selesai di sekolah, selesai di rumah sakit," tutur Dedie.
Dedie menilai pola tersebut penting untuk mengurangi beban pemerintah dalam proses pengangkutan dan pengolahan sampah. Di sisi lain, pemilahan dari sumber juga dapat meningkatkan nilai ekonomi dari sampah yang masih bisa dimanfaatkan. Selain kewajiban memilah dan mengurangi sampah, pelaku usaha juga harus memenuhi kewajiban retribusi persampahan.
"Pemkot Bogor akan melakukan penyesuaian retribusi yang akan diselaraskan dengan kebijakan pengelolaan sampah ke depan. Yang kedua, tentu juga harus patuh, taat. Bayar juga. Nanti ada retribusi dan penyesuaian retribusi yang akan kita coba selaraskan dengan langkah kita ke depan dalam pengelolaan persampahan," tegasnya.
Editor : Doni Ramdhani

