Dongkrak Potensi Kaum Difabel Lewat Kemandirian Ekonomi, PKM USB YPKP Bandung Berikan Edukasi dan Pembekalan Kewirausahaan 

Sebagai salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, Universitas Sangga Buana YPKP Bandung kembali melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM).

Dongkrak Potensi Kaum Difabel Lewat Kemandirian Ekonomi, PKM USB YPKP Bandung Berikan Edukasi dan Pembekalan Kewirausahaan 
INILAHKORAN, Bandung - Sebagai salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, Universitas Sangga Buana YPKP Bandung kembali melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM).
Berbeda dengan PKM biasanya, kegiatan pengabdian kali ini menargetkan kalangan difabel atau kaum disabilitas yang berada di Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung.
Pasalnya, kaum difabel yang berada di kawasan Kecamatan Sukajadi tersebut memiliki potensi besar dalam bidang kewirausahaan, khususnya di bidang usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
"Melihat hal itu, Universitas Sangga Buana YPKP Bandung didanai oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemdikbud Ristek) RI melalui program insentif PKM terintegrasi MBKM ingin mendorong kaum difabel agar bisa mandiri secara ekonomi," kata Ketua Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) USB YPKP Bandung, Hadi Ahmad Sukardi kepada wartawan.
Menurutnya, keberadaan kaum difabel kerap kali dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat lantaran dinilai tidak mampu melakukan berbagai aktivitas atau kegiatan.
Padahal, jelas dia, dibalik segala kekurangan yang dimiliki kaum difabel, tersimpan potensi besar dalam berbagai bidang. Bahkan, mampu melampaui orang normal pada umumnya.
"Melalui program insentif PKM terintegrasi MBKM Kemeristekdikti, kami bakal mendongkrak potensi yang dimiliki kaum disabilitas yang ada di Kecamatan Sukajadi, khususnya di bidang UMKM kuliner," jelasnya.
Ia menuturkan, berawal dari tim PKM USB YPKP Bandung yang mencoba mencari informasi kegiatan usaha dengan menargetkan peserta dari kaum difabel dalam rangka memberikan pelatihan kemandirian ekonomi di era new normal.
"Namun, saat kami menemukan fakta banyaknya penyandang disabilitas di Kecamatan Sukajadi yang mencapai 396 orang. Maka, kami berinisiatif untuk mengusulkan program kemitraan masyarakat," tuturnya.
Selanjutnya, pihaknya bersama tim PKM USB YPKP Bandung mengimplementasikan PKM kepada para kaum disabilitas memberikan edukasi dan pelatihan dengan mengusung tema "Pemberdayaan Masyarakat Disabilitas dalam Membangun Usaha Micro di Masa New Normal" yang dilaksanakan di Cafe Coffee Boscha, Jalan Boscha No.6 Bandung.
"Saya tidak sendiri, bersama dua tim lainnya, yakni Rima Dwijayanty dan Edi Andriansyah, serta Tim Pelaksana lainnya. Termasuk, sejumlah mahasiswa dari Fakultas Ekonomi USB YPKP Bandung, antara lain Fina Ambar Silvianita, Reynaldi Priadi, Yani Maryani, Neli Andriani dan Widy Insani Daulaty berkolaborasi untuk memberikan pembekalan bagi kaum disabilitas agar mampu mandiri secara ekonomi," bebernya.
Lebih lanjut ia menuturkan, dalam kegiatan PKM tersebut pihaknya berharap kontribusi dari akademisi dapat membantu kaum disabilitas dalam membangun usaha secara mandiri, dalam hal ini menjadi pelaku UMKM yang sukses.
Oleh karenanya, guna memberikan penguatan dan dasar dari bisnis pihaknya pun turut menghadirkan sejumlah motivator ulung yang ahli di bidang dunia usaha, antara lain Dudu Hafizd dan Dr.Erna Garnia sebagai pelatih pengelolaan keuangan usaha micro.
"Selain itu kita hadirkan juga Dini Aprianti Indraswari pelatih pembuatan produk dan Yani Mulyani pelatih digital marketing dan packaging,"tuturnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, dalam edukasi dan pelatihan tersebut mereka diberikan beragam wawan tentang bagaimana membuat dan mengolah sejumlah produk kuliner.
"Mereka diberikan edukasi terkait bagaimana membuat piknik roll, zupa-zupa dan desert box sebagai modal awal pembekalan usaha mikro," jelasnya.
Ia menilai, output dari tim PKM USB YPKP Bandung tersebut memiliki nilai manfaat yang tentunya tidak hanya dirasakan kaum disabilitas saja. Namun, juga bagi para akademisi baik dosen, termasuk para mahasiswa.
"Tentunya kegiatan PKM yang kami lakukan bisa menambah wawasan sekaligus menjadi pembelajaran tambahan di luar kampus. Hal itu sesuai indikator kinerja utama (IKU) 2 dan 3, yakni sebagai evaluasi capaian kinerja 8 IKU," ujarnya.
Kendati demikian, ia pun tak memungkiri adanya kendala yang dihadapi di awal kegiatan PKM tersebut lantaran untuk mendapatkan data jumlah penyandang disabilitas di Kota Bandung relatif cukup sulit.
"Sebab, dari 30 kecamatan yang ada di Kota Bandung, 12 kecamatan diantaranya tidak memiliki data penyandang disabilitas," imbuhnya.
Namun, sambung dia, berdasarkan data yang ada di Kecamatan Sukajadi, tercatat ada 396 penyandang disabilitas. Artinya, Kecamatan Sukajadi merupakan kawasan dengan jumlah penyandang disabilitas terbanyak di Kota Bandung.
"Jumlah tersebut didominasi oleh cacat tumbuh sebesar 29 persen," pungkasnya.*** 


Editor : Ahmad Sayuti