Dorong Santri Jadi Pelaku Media, Ketitang Luncurkan Buku Jurnalisme Pesantren

Mendorong para santri jadi pelaku media, Pondok Pesantren Ketitang meluncurkan buku jurnalisme pesantren

Dorong Santri Jadi Pelaku Media, Ketitang Luncurkan Buku Jurnalisme Pesantren
Penulis buku Jurnalisme Pesantren KH Sobih Adnan saat memaparkan mengenai buku yang baru diluncurkannya.

INILAHKORAN.ID -  Pondok Pesantren Ketitang Cirebon meluncurkan buku jurnalisme pesantren Sanad, Kaidah, hingga Kaifiah Pengembangan Media Kaum Sarungan dalam rangkaian Haul dan Imtihan ke-47.

Penulis buku, KH Sobih Adnan, mengatakan buku tersebut merupakan hasil pengalaman dan perenungan yang disusun selama hampir satu dekade. Menurutnya, karya itu lahir dari berbagai pengalaman lapangan, diskusi, hingga perdebatan yang kemudian dirumuskan menjadi konsep jurnalisme berbasis tradisi pesantren.

“Buku ini lahir dari proses panjang, pengalaman lapangan, diskusi, dan perdebatan yang kemudian dirangkum menjadi sebuah konsep,” kata KH Sobih Adnan, Jumat 19 Juni 2026.

Dia menyoroti tantangan yang dihadapi santri ketika menjalankan tugas jurnalistik, terutama saat mewawancarai kiai. Menurutnya, santri harus mampu menjaga keseimbangan antara sikap hormat kepada guru dan tuntutan profesionalisme jurnalistik.

“Problem terbesar santri yang menjadi wartawan adalah ketika harus mewawancarai kiai,” ujarnya.

KH Sobih menilai, sikap skeptis dalam jurnalisme merupakan metode untuk menguji kebenaran informasi, bukan bentuk prasangka terhadap narasumber.

“Skeptisisme adalah metode untuk mencari kebenaran,” ungkapnya.

Sementara itu, Rektor Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina, KH Marzuki Wahid, menilai kehadiran buku tersebut penting bagi penguatan tradisi intelektual pesantren. Menurutnya, buku dapat menjadi pemicu lahirnya diskusi dan gagasan baru di lingkungan pesantren.

“Buku ini menjadi simbol bahwa pesantren masih memiliki energi intelektual,” kata KH Marzuki.

Ia menambahkan, tradisi pesantren sejak lama dibangun di atas sikap kritis dalam menelaah sumber informasi. Menurutnya, metode yang digunakan para ulama dalam memeriksa sanad dan kredibilitas perawi memiliki kesamaan dengan prinsip akurasi data dalam dunia akademik maupun jurnalistik.

“Dalam bahasa akademik modern, itu adalah akurasi data,” ujarnya.

KH Marzuki juga menekankan pentingnya kemandirian pesantren dalam membangun narasi dan menyampaikan gagasannya kepada masyarakat melalui media yang dimiliki sendiri.

“Pesantren tidak boleh hanya menjadi objek pemberitaan,” tegasnya.

Sementara itu, Ustaz Ahmad Rofahan menilai perkembangan media sosial menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru bagi dunia jurnalistik pesantren. Ia mendorong pesantren untuk aktif mengambil peran dalam ruang digital yang terus berkembang.

“Hari ini kita memasuki era jurnalisme media sosial,” katanya.

Menurut Ahmad Rofahan, santri memiliki modal kuat untuk berkiprah di dunia jurnalistik karena nilai-nilai seperti tabayun, kehati-hatian, dan sikap berimbang telah menjadi bagian dari tradisi pesantren.

“Modal inilah yang harus dibawa ke dunia media,” pungkasnya. 


Editor : Ahmad Sayuti