Dosen Unpas: Mudik Tahun ini Harus Ikuti Imbauan Pemerintah
Mudik atau pulang ke kampung halaman biasanya menjadi agenda rutin mayoritas penduduk Indonesia karena pusat ekonomi serasa tersentral hanya di pulau Jawa saja, terlebih di DKI Jakarta.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Mudik atau pulang ke kampung halaman biasanya menjadi agenda rutin mayoritas penduduk Indonesia karena pusat ekonomi serasa tersentral hanya di pulau Jawa saja, terlebih di DKI Jakarta.
Tahun ini nampaknya kegiatan mudik harus ditangguhkan terlebih dahulu, meskipun mudik itu konon katanya mempunyai nilai kultural dan spiritual yang sangat kuat. Lantas pertanyaannya di tengah pandemi virus Covid-19 saat ini apakah pengejawantahan mudik yang syarat nilai kultural dan spiritual bisa diabaikan?
"Jika kita menelisik nilai spiritual dimana ada istilah setaun sekali bertemu dengan orang tua atau sanak saudara untuk saling bermaaf-maafan, lantas apakah nilai seperti ini tidak bisa dilakukan di lain hari, bahkan jika diberikan panjang umur, sudah disediakan 365 hari yang lain untuk berkunjung. Mungkin muncul lagi pertanyaan lain, bagaimana jika kita pendek umur, untuk manusia yang hidup pada masa sekarang sudah tidak pusing lagi dalam berkomunikasi, bukan hanya suara tapi plus visualnya sekalian, ruang dan waktu sudah bukan menjadi rintangan lagi," papar Ketua Program Studi Sastra Inggris, Unpas Angga Maulana, kepada INILAHKORAN, Senin (30/3/2020).
Lalu bersinggungan dengan nilai kultural, nilai kultural apa yang bisa melampaui nilai kemanusiaan dalam menghadapi pandemi ini? Angga memaparkan bahkan, nilai kemanusiaannya bukan berbicara dalam sektor yang makro atau besar, tetapi mikro. Mungkin terlalu jauh berbicara ruang lingkup provinsi atau kota, bicarakan saja tingkat keluarga atau RT dan RW sampai kelurahan.
Nilai kultural sebesar apa jika mudik menjadi suatu kegiatan yang harus dijalankan oleh setiap individu yang bekerja di kota. Yang mungkin terbersit adalah egois atau hanya pemenuhan hasrat dan imajinasi seseorang untuk bisa kembali berkumpul bersama dengan keluarganya, gambaran melankolis tentang hidup bahagia bersama keluarga yang dalam kondisi sekarang mungkin saja bisa manjadi sebaliknya.
Tapi tanpa menutup mata dan telinga, bahwa salah satu alasan para pekerja mudik adalah hilangnya pekerjaan mereka di kota. Tentu ini menjadi tanngung jawab pemerintah dalam memecahkan permasalahan ini. Masyarakat saat ini sudah sigap juga untuk membantu teman-teman yang kehilangan nafkah ini.
"Saat ini yang dibutuhkan adalah bukan pemenuhan hasrat dan egoisitas individu, akan tetapi perjuangan bersama akan rasa kemanusiaan. Mudik tahun ini harus ikuti himbauan dari pemerintah setempat, seperti yang diumumkan oleh kepala daerah setempat, mulai dari Gubernur DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, dan sudah sepatutnya seluruh elemen pemerintah pusat dan daerah memberikan aksi nyata terhadap perantau dengan memberikan kebutuhan pokok mereka selama masa wabah ini berlangsung. Itu adalah kunci keberhasilan larangan mudik ini bisa berhasil dan penyebaran virus Covid-19 bisa ditanggulangi," tambah Angga. (okky adiana).
Editor : Ghiok Riswoto


