DPRD Jabar Dukung Gagasan Gubernur Dedi Mulyadi yang Berdayakan Masyarakat untuk Penghijauan
Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat MQ Iswara mendukung penuh gagasan Gubernur Dedi Mulyadi, yang akan memberdayakan masyarakat untuk melakukan penghijauan di lahan kritis.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat MQ Iswara mendukung penuh gagasan Gubernur Dedi Mulyadi, yang akan memberdayakan masyarakat untuk melakukan penghijauan di lahan kritis.
Iswara mengatakan, lahan kritis yang ada di Jabar memang sudah seharusnya dihijaukan kembali, utamanya dengan tanaman yang mampu menyerap air, guna mencegah terjadinya bencana hidrometeorologi.
Memberdayakan masyarakat setempat untuk melakukan penghijauan menurutnya sangat tepat, karena untuk pemulihan lingkungan tidak cukup hanya dengan menanam pohon.
Pemeliharaan sampai tumbuhan tersebut besar sangat penting, supaya penanaman yang dilakukan tidak sia-sia. Maka dari itu, rencana Gubernur Dedi Mulyadi yang akan mengeluarkan insentif upah sebesar Rp50 ribu per hari bagi tiap warga, baginya sangat tepat.
"Kami sangat mengapresiasi program yang dilakukan Pak Gubernur ini. Kami berharap program ini tidak hanya fokus pada penanaman, tetapi juga pada pemeliharaan. Kami mendengar bahwa Pak Gubernur juga telah memprogramkan aspek tersebut, bahkan menyediakan insentif bagi pihak yang melakukan pemeliharaan," ujar Iswara di Kota Bandung, Kamis 4 Desember 2025.
Dia berharap, gagasan ini tidak bersifat sementara seperti seremonial-seremonial sebelumnya,mengenai penanaman pohon. Sebab menurutnya sering terjadi, seperti program Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis (GRLK) serta program serupa, yang hanya melakukan penanaman tetapi tidak ada kepastian dalam perawatannya.
"Namun, yang diprogramkan oleh Kang Dedi Mulyadi (KDM) sekarang ini berbeda. Selain penanaman pohon, masyarakat sekitar dilibatkan dan diberikan insentif untuk merawatnya. Ini penting, karena menanam pohon itu tidak sulit, tetapi merawatnya sampai mampu bertahan pada masa-masa kritis adalah tantangan yang sesungguhnya," ucapnya.
Sebab tanaman memiliki masa kritis, yang mana menurutnya hal ini harus dijaga guna memastikan dapat tumbuh kembang seperti yang diharapkan.
"Tanaman punya masa kritis, bisa setahun atau beberapa bulan, tergantung jenisnya. Pada masa itu dibutuhkan perawatan intensif," katanya.
Maka dari itu, keterlibatan masyarakat setempat baik untuk penanaman maupun perawatan menurutnya sangat tepat, karena dapat dipantau setiap hari.
"Pihak yang paling tepat untuk merawat adalah masyarakat sekitar, karena merekalah yang setiap hari melihat perkembangan tanaman, mengetahui kondisinya, dan memahami jika ada hal yang harus diperbaiki atau ada kendala," ujarnya.
Selain itu, pengawasan dari pemerintah juga tetap harus dilakukan. Di mana ini diyakininya pasti sudah dipikirkan oleh Gubernur Dedi Mulyadi, melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
"Saya pikir itu otomatis. Jika Pak Gubernur sudah menggagas program ini, maka dinas teknis terkait secara fungsional pasti akan melakukan tindak lanjut berupa pengawasan dan pemeliharaan," tutupnya.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akan memberdayakan masyarakat yang berada di kawasan hutan rusak, untuk membantu menanam pohon.
Per hari kata Dedi, mereka akan mendapatkan upah sebesar Rp50 ribu satu orang untuk membantu menanam pohon dalam satu hari, di kawasan yang harus di reboisasi.
"Kan gini, di wilayah Cianjur, Garut Selatan, upahnya kan Rp30 ribu sampai Rp35 ribu per hari. Nah, sekarang mereka biasa diupah nanam sayur, ngurus kebun sayur. Itu kan Rp30 ribu sampai Rp35 ribu. Sekarang diupah oleh kita nanti Rp50 ribu. Pilih mana?," ujar Dedi saat ditemui di Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa 2 Desember 2025.
Dia melanjutkan tiap dua hektare dapat dilakukan oleh satu pekerja, meski nanti akan kembali dilihat dari kemampuannya dalam menanam pohon.
"Tadi saya sudah minta Dinas Kehutanan untuk segera deh dihitung," ucapnya.
Dedi berharap, sejak Desember ini penanaman pohon sudah dapat dilakukan di lahan kritis yang ada di Jawa Barat, sebagai langkah pemulihan lingkungan.
"Makanya gerakannya, Desember ini kan sudah mulai nih, sudah nanam terus. Nanti di Januari itu akan terlihat," tandasnya.***
Editor : JakaPermana
