DPRD Jabar–Parlemen Shizouka Jepang Bahas Kerjasama Industri, Tenaga Kerja, hingga Pariwisata

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat menerima kunjungan kehormatan dari Shizouka Prefectural Assembly Japan Delegation (delegasi parlemen Provinsi Shizouka, Jepang) baru-baru ini.

DPRD Jabar–Parlemen Shizouka Jepang Bahas Kerjasama Industri, Tenaga Kerja, hingga Pariwisata
Istimewa

INILAHKORAN, Bandung – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat menerima kunjungan kehormatan dari Shizouka Prefectural Assembly Japan Delegation (delegasi parlemen Provinsi Shizouka, Jepang) baru-baru ini.

Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan kerja sama antara kedua daerah, khususnya dalam pengembangan industri, pertukaran tenaga kerja, pariwisata dan pendidikan.
Ketua DPRD Jawa Barat, Buky Wibawa Karya Guna menyampaikan, bahwa kunjungan tersebut bukan sekadar agenda diplomasi, tetapi juga langkah konkret mempererat kolaborasi lintas sektor yang telah terjalin sebelumnya.
“Saya kira kunjungan ini sebagai silaturahmi, mempererat komunikasi. Sebetulnya sudah ada kerjasama sebelumnya antara Provinsi Jawa Barat dengan Provinsi Shizouka, Jepang, dan dari kunjungan ini tentu saja DPRD Jawa Barat mendorong supaya kerjasama itu semakin dikuatkan, ditingkatkan,” kata Buky.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas peluang besar dalam pengembangan industri manufaktur, terutama karena sejumlah perusahaan besar asal Shizouka seperti Honda, Yamaha, dan Suzuki telah menanamkan investasinya di Jawa Barat.
Diskusi juga menyoroti pertukaran tenaga kerja serta kebutuhan Jepang terhadap pekerja terampil asal Indonesia, termasuk di sektor pengemudi profesional.
Menurut Buky, Jepang saat ini menghadapi kekurangan tenaga kerja, terutama pengemudi. Indonesia dinilai memiliki potensi besar karena memiliki sistem mengemudi yang sama, yaitu setir kanan.
“Nah tadi dibicarakan, kemungkinan akan diadakan program semacam pelatihan khusus untuk calon tenaga sopir di Jepang,” ujarnya.
Namun demikian, Buky mengakui masih ada sejumlah kendala yang perlu diselesaikan, termasuk perbedaan regulasi mengenai Surat Izin Mengemudi (SIM) antara kedua negara yang harus disinkronkan untuk mendukung keberangkatan pekerja.
Selain sektor industri dan tenaga kerja, delegasi Shizouka juga mengusulkan kerja sama baru di bidang pariwisata dan pendidikan.
Salah satu yang dibahas adalah pengembangan Geopark Ciletuh, Kabupaten Sukabumi, menjadi destinasi wisata pendidikan yang melibatkan lembaga dan pelajar dari Jepang.
Menyambut usulan itu, Buky menilai perluasan kerja sama lintas sektor akan memperkuat hubungan antarwilayah sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat Jawa Barat.
“Kami yakin bahwa agenda (diskusi) ini sangat penting untuk menguatkan kerjasama dan menjawab tantangan global saat ini. DPRD Jawa Barat sangat mendukung penuh kerjasama baik yang sudah maupun yang akan dijajaki, karena kerjasama ini akan memberi manfaat bagi masyarakat Jawa Barat,” katanya.
Meski peluang kerja sama terbuka luas, Buky mengingatkan masih ada tantangan yang perlu diatasi, terutama kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam menguasai Bahasa Jepang.
Ia berharap dinas dan lembaga terkait bisa memberikan perhatian khusus agar calon tenaga kerja dari Jawa Barat mampu bersaing di pasar kerja Jepang.
“Harapannya tentunya kerjasama ini terus ditingkatkan, sebelumnya sudah ada kerjasama di berbagai sektor. Kedepan mudah-mudahan sektor lain seperti pariwisata dan lain sebagainya akan ditingkatkan,” tutur Buky.
Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Nisya Ahmad turut mendukung upaya mempererat hubungan dengan Shizouka.
Ia menilai kolaborasi ini tidak hanya menguntungkan kedua pemerintah daerah, tetapi juga membuka kesempatan kerja, investasi, dan pendidikan lintas negara.
Sementara itu, Ketua delegasi parlemen Provinsi Shizouka, Nakazawa, menyampaikan komitmennya untuk memperluas kerja sama, terutama di bidang ekonomi dan ketenagakerjaan.
“Kenapa kami ingin sopir asal Indonesia karena sistem menyetirnya sama, setir kanan. Jadi ini sebetulnya kesempatan besar bagi tenaga kerja asal Indonesia khususnya Jawa Barat untuk bisa bekerja di Jepang,” kata Nakazawa.***


Editor : JakaPermana