INILAH, Buenos Aires- Pada saat Argentina takluk kepada Prancis di Kazan dalam 16 Besar Piala Dunia 2016, Lionel Messi mundur dari timnas.
Itu mirip dengan kejadian ketika dia menyatakan pensiun setelah gagal dalam adu penalti sewaktu Argentina dikalahkan Chile dalam final Copa Amerika Centenario 2016.
Kini, dia memutuskan kembali. Tak ada satu pun suara yang menyindir dan mengejeknya. Semua orang senang, semua orang memahami mengapa dia harus menarik lidahnya kembali.
"Dia pemain terbaik di dunia dan kami tak tahu bagaimana memanfaatkan kelebihan dia. Kami harus mencari cara atau pelatih yang membuat kami paham peluang yang dia bawa dan menciptakan tatanan yang kami inginkan," kata Nicolas Taglafico, pemain Argentina yang kini bek Ajax Amsterdam.
Sewaktu memutuskan kembali ke timnas pada 2016, hanya butuh dua bulan untuk membujuk Messi kembali. Tetapi sekarang membujuk Messi untuk kembali memerlukan waktu lebih lama, sembilan bulan.
Argentina terlihat kehilangan pegangan saat menyadari di hadapan mereka terhampar tantangan besar, yakni mengawali proyek Copa America dengan menghadapi Venezuela di Madrid dalam laga persahabatan, Jumat ini.
Jika turun bermain, maka ini akan menjadi penampilan ke-129 Messi untuk timnas Argentina. Sembilan bulan dia bungkam sampai kemudian direktur timnas Argentina Cesar Luis Menotti mengungkapkan keinginan tak menggantungkan diri kepada Messi. Tapi kemudian sepak bola Argentina mengalami chaos di bawah Scaloni yang membuat Messi harus turun tangan.
Scaloni tak pernah menjadi pelatih kepala dan sekarang menyandang status itu pun hanya karena menjadi asisten Jorge Sampaoli yang mundur setelah gagal mengantarkan Argentina menjadi kampiun pada Piala Dunia 2018.
Awalnya Scaloni berstatus caretaker tetapi dipertahankan karena cara ini lebih gampang dan lebih murah. Kontraknya diperpanjang sampai Juni tahun ini.
Kiprah kepelatihanya tidak jelek-jelek amat. Empat kali menang dari enam pertandingan persahabatan dan hanya kemasukkan satu gol sewaktu dikalahkan Brazil.
Kini, menjelang persiapan ke Copa America 2019, beberapa nama lawas tercungkil dari timnas. Javier Mascherano pensiun. Penampilan buruk Gonzalo Higuain membuatnya kehilangan tempat. Nicolas Otamendi dan Angel Di Maria tak dipanggil karena cedera.
Sebelas dari anggota skuat Argentina sekarang tak pernah merasakan bermain bersama Messi. Tapi penyegaran seperti ini mungkin yang dibutuhkan Argentina.
Gelandang Paris Saint-Germain, Giovani Lo Celso, kemungkinan turun lebih awal karena dia telah menjalankan fungsi penghubung yang baik kepada Messi dalam
pertandingan persahabatan melawan Haiti menjelang Piala Dunia 2018 silam.
Lautaro Martinez akan dimainkan sebagai penyerang tengah dan mungkin bersama rekan satu timnya di Inter Milan, Mauro Icardi.
Yang jadi pertanyaan adalah mengapa Sergio Aguero tidak masuk skuat. Sampai sekarang masih misterius. Banyak orang menduga pemain Manchester City ini berseberangan dengan Scaloni. Jika Higuain selalu diberi kesempatan, maka Agüero sering dicampakkan karena kerja tim yang tidak terlalu baik.
Namun di atas semua kontroversi itu, tetap saja drama terbesar tercurah kepada Messi. Dia kini berusia 31 tahun, paling tua di timnas Argentina saat ini, selain kiper Franco Armani. Dia sudah mau tutup buku dan mungkin tinggal satu kesempatan lagi tampil pada Piala Dunia, di Qatar pada 2022.
Dia juga paling tidak masih punya kesempatan merasakan lagi dua Copa America. Bedanya sekarang, dia harus bermain dengan tim yang tak sebertaburan bintang seperti tim yang dulu. Tapi yang jelas, Copa America akan memacu adrenalin Messi.
Akankah dia sukses mengakhiri paceklik trofi selama 26 tahun yang dialami Argentina dan sekaligus menjadi trofi internasional pertamanya bersama timnas Argentina?
Masih lama untuk tahu jawabannya. Yang pasti, kiprah Messi, termasuk saat melawan Venezuela Jumat ini, tak akan lepas dari mata dunia.