Dua Kali Terjangan Debit Air Hancurkan TPT di Cihampelas, Akses Gang Swadaya Terputus Total

Perbaikan tebing penahan tanah (TPT) di Jalan Cihampelas, Gang Swadaya 3, RT 08 RW 12, Kelurahan Cipaganti, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, nyaris rampung pada Minggu 30 November 2025 siang. Namun menjelang malam, bangunan itu kembali runtuh setelah dua kali diterjang lonjakan debit air dari kawasan hulu. Kini, akses gang terputus total.

Dua Kali Terjangan Debit Air Hancurkan TPT di Cihampelas, Akses Gang Swadaya Terputus Total
Yogo Triastopo
INILAHKORAN.ID - Perbaikan tebing penahan tanah (TPT) di Jalan Cihampelas, Gang Swadaya 3, RT 08 RW 12, Kelurahan Cipaganti, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, nyaris rampung pada Minggu 30 November 2025 siang. Namun menjelang malam, bangunan itu kembali runtuh setelah dua kali diterjang lonjakan debit air dari kawasan hulu. Kini, akses gang terputus total.
Humas Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) UPT DAS Kota Bandung, Syarif Abdullah mengatakan, rangkaian penanganan sebenarnya sudah berlangsung sejak akhir November.
“Untuk penerimaan assessment antara hari Rabu 26 November dan Kamis 27 November. Kemudian dari tim unit reaksi cepat, kami melakukan penanganan pada hari Kamis. Untuk Jumat dan Sabtu, kami langsung melaksanakan Perbaikan," kata Syarif Abdullah, Senin 1 Desember 2025.
Menurut ia, pada Minggu siang pekerjaan TPT telah mencapai sekitar 90 persen. Namun kondisi berubah ketika hujan deras mengguyur kawasan hulu. “Hari Minggu ada hujan di hulu, kemudian ada kenaikan debit dua kali. Pada pukul 17.00 WIB saat TPT 90 persen terselesaikan, tergerus air. Kemudian pukul 20.00 WIB ada kenaikan debit kembali, dan sisa TPT hampir tergerus 100 persen," ucapnya.
Ia menjelaskan, TPT yang roboh memiliki panjang sekitar 12 meter dengan ketinggian 3,5 hingga 4 meter. Pihaknya menyebut, penyebab utama keruntuhan adalah pelemahan struktur akibat erosi yang berlangsung lama. “Kalau untuk penyebab roboh TPT, itu di erosi jangka panjang,” ujar dia.
Untuk mencegah longsor lanjutan, pihaknya kini melakukan langkah darurat berupa pengerucukan. “Sekarang ada langkah pengerucukan dengan menggunakan bambu, dan kayu dolken sebagai langkah komprehensif untuk penahanan tanah agar tidak ada longsor susulan,” tuturnya.
Dampak kerusakan terasa langsung oleh warga. Jalan gang kini tak bisa dilintasi sama sekali. “Untuk jalan aktif sekarang terputus total, karena sebagian jalan sudah amblas dan tidak memungkinkan dilewati baik oleh pejalan kaki ataupun pengguna roda dua,” jelas dia.
Sebanyak 80 personel, kata Syarif terlibat dalam mobilisasi material dan penanganan di lapangan. Namun akses menuju lokasi menjadi tantangan tersendiri. Hingga kini, pihaknya menunggu arahan selanjutnya untuk Perbaikan permanen.
“Hambatan yang kita temui adalah sulitnya akses jalan ke lokasi,” tandasnya.***


Editor : JakaPermana