Dua Tahun Menanti Janji Ruang Belajar
SUDAH dua tahun berlalu, ruang kelas itu masih menyisakan puing dan harapan. Kini, para orang tua menanti janji perbaikan segera diwujudkan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Evi Afrida masih mengingat betul pagi yang mengubah wajah sekolah anaknya. Saat sebagian besar warga bersiap menggunakan hak pilih pada Pilkada DKI Jakarta, 27 November 2024, kabar mengejutkan datang dari SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Pagi. Empat ruang kelas dan satu ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) roboh begitu saja.
Beruntung, hari itu sekolah sedang libur sehingga tidak ada guru maupun siswa yang berada di dalam bangunan. Namun, hampir dua tahun berlalu, rasa lega karena tidak ada korban berubah menjadi penantian panjang yang tak kunjung usai. Bangunan sekolah masih dibiarkan rusak, sementara ratusan siswa harus belajar dalam keterbatasan.
“Awalnya ya itu kejadian kan pas libur Pilkada. Jadi nggak ada yang tahu, penjaga sekolah pun nggak ada yang tahu. Warga sekitar aja yang tahu awalnya itu pagi hari sekitar jam 06.30 WIB. Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba roboh,” kata Evi, seperti dikutip dari ANTARA, Selasa (21/7).
Belakangan diketahui hujan deras mengguyur kawasan itu pada sore harinya hingga bangunan yang telah lama mengalami penurunan kondisi akhirnya ambruk. Beruntung, tidak ada korban jiwa. Tetapi sejak saat itu, aktivitas belajar mengajar tidak pernah benarbenar kembali normal.
Musala dan lapangan sekolah kini berubah fungsi menjadi ruang kelas darurat. Ketika cuaca mendukung, siswa belajar di lapangan.Saat kondisi tidak memungkinkan, musala menjadi tempat belajar bergantian.
Pemandangan di sekolah pun menyisakan ironi. Atap genteng yang runtuh, tiang penyangga yang patah, lemari, meja, kursi hingga bukubuku sekolah masih tertimbun puing bangunan. Gerbang sekolah lebih sering tertutup rapat, sementara suasana di dalam tampak lengang.
Sejak bangunan roboh, para orang tua terus meminta kejelasan kepada pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan. Namun hingga kini, kepastian pembangunan kembali belum juga mereka rasakan.
“Ya dari sekolah sih sudah menindaklanjuti, lapor ke Dinas sudah, sudah lapor itu.
Cuman memang sampai saat ini belum ada kepastian tindak lanjut,” ujar Evi.
Kondisi itu juga membawa dampak lain. Jadwal belajar berubah menjadi siang hari sehingga sejumlah kegiatan yang selama ini menjadi bagian dari rutinitas siswa ikut terhenti.
“Karena kan sekarang masuknya siang, jadi anak-anak yang tadinya ngaji sekarang jarang yang ngaji. Sudah dua tahun tidak ngaji lagi gitu,” katanya.
Tak sedikit orang tua akhirnya memilih memindahkan anaknya ke sekolah lain.
Alasannya sederhana, mereka ingin anak-anak belajar di tempat yang lebih aman dan nyaman.
“Ada yang pindah, kelas 5 SD ini juga ada yang mau pindah nih. Tahun ini ya pas ajaran baru ini, tanggung kan,” ujar Evi.
Jumlah siswa pun terus menyusut. Dari sekitar 300 siswa, kini hanya tersisa 274 siswa yang masih bertahan.
Bagi Evi, yang paling menyakitkan bukan hanya melihat bangunan sekolah yang roboh, melainkan lamanya penantian tanpa kepastian.
“Lama banget, padahal sekolahnya ini roboh bukannya renovasi lagi. Ini benarbenar roboh, nggak layak banget.
Miris lihatnya,” ujarnya.
Dia berharap pemerintah segera menghadirkan kembali ruang belajar yang aman bagi anak-anak.
“Untuk adik-adik kami ini yang masih lama buat penerusnya, kita ya minta yang terbaik sudah gitu aja sih kita nggak yang gimanagimana, cuma minta tolong disegerakan gitu,” ucapnya.
Sorotan publik terhadap kondisi sekolah tersebut akhirnya sampai ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengaku baru mengetahui persoalan itu setelah ramai diperbincangkan.
“Tentunya segera kami tangani dan saya terus terang baru tahu ketika ini viral. Jakarta begitu luas, sering kali kalau bagi saya yang viral-viral itu malah pasti saya kasih atensi khusus untuk segera diselesaikan.
Jadi, untuk SD negeri yang di Kebayoran Lama ini segera kami selesaikan,” kata Pramono.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Ima Mahdiah juga memastikan anggaran pembangunan telah disiapkan dan ditargetkan mulai dikerjakan pada 2027.
“Tadi sudah kroscek Kadis Pendidikan, infonya anggaran sudah masuk di 2026-2027 untuk perencanaannya. Jadi di 2027 mulai anggarannya,” ujarnya.
Menurut Ima, pembangunan sempat tertunda karena penyesuaian anggaran. Dia meminta Dinas Pendidikan memprioritaskan rehabilitasi sekolah yang mengalami kerusakan berat.
“Kita minta Dinas Pendidikan mendata mana saja sekolah yang kondisinya berat, rehabilitasi total, mana yang sedang dan ringan. Yang berat harus diproses lebih dulu,” tegasnya. (gin)
Editor : Inilahkoran

