Ekskul Go Green Wujudkan Pengolahan Sampah di Sekolah

Ekskul Go Green SMA Sebelas Maret Bandung, merupakan sebuah wadah bagi siswanya untuk mengembangkan minat dan bakatnya di bidang seni mengolah sampah. Seperti apa?

Ekskul Go Green Wujudkan Pengolahan Sampah di Sekolah
Foto: Okky Adiana

INILAH, Bandung - Ekskul Go Green SMA Sebelas Maret Bandung, merupakan sebuah wadah bagi siswanya untuk mengembangkan minat dan bakatnya di bidang seni mengolah sampah. Seperti apa?

Setiap sekolah, tentu memiliki organisasi kesiswaan yang bernama ekstra kurikuler (ekskul). Kegiatan ekskul di satuan pendidikan memiliki fungsi pengembangan sosial, rekreatif, dan persiapan karir.

Ekskul berfungsi untuk mendukung perkembangan personal peserta didik melalui perluasan minat, pengembangan potensi, dan pemberian kesempatan untuk pembentukan karakter dan pelatihan kepemimpinan. Kegiatan di setiap ekskul, tentu saja harus dapat menjadikan kehidupan atau atmosfer sekolah lebih menantang dan lebih menarik bagi peserta didiknya.

Hal seperti inilah yang terus dikembangkan SMA Sebelas Maret Bandung. Dalam hal ini, pihak sekolah terus berupaya untuk mengembangkan minat dan bakat siswa-siswinya melalui kegiatan ekskul. 

Sekolah yang berpusat di Jalan Denki Selatan V, 38 Mochamad Toha, Kota Bandung ini memiliki banyak ekskul yang bisa dipilih peserta didiknya. Salah satunya adalah ekskul Go Green.

"Ya, ini adalah namanya ekskul Go Green. Tujuannya, untuk mengurangi sampah yang ada di kota Bandung. Kebetulan kan sampah di Kota Bandung ini yang saya tahu sekitar 1500 ton perhari, jika diamparkan dilapang terbuka itu sampai 75 centi tingginya, saya dan kawan-kawan miris, jadi kami ingin mewujudkan SMA Sebelas Maret ini ramah lingkungan dengan cara melakukan aktif di ekskul Go Green. Semua siswa dilibatkan semua dan guru," papar Siswa yang mengikuti ekskul Go Green, Mochamad Pahri Septiadi, di SMA Sebelas Maret kepada INILAHKORAN, Kamis (23/1/2020).

Dia mengatakan, ekskul Go Green di sekolahnya memiliki kegiatan yang sangat menarik perhatian siswa-siswinya. Sepekan sekali, siswa bisa memilah sampah dari tempat sampah. Ada dua tempat sampah yang digunakan, pertama sampah organik dan yang kedua sampah anorganik.

Sampah adalah sisa buangan dari suatu produk atau barang yang sudah tidak digunakan lagi, tetapi masih dapat di daur ulang menjadi barang yang bernilai.

Sampah organik adalah sampah yang berasal dari sisa mahkluk hidup yang mudah terurai secara alami tanpa proses campur tangan manusia untuk dapat terurai.

Sampah organik bisa dikatakan sebagai sampah ramah lingkungan bahkan sampah bisa diolah kembali menjadi suatu yang bermanfaat bila dikelola dengan tepat. Tetapi sampah bila tidak dikelola dengan benar akan menimbulkan penyakit dan bau yang kurang sedap hasil dari pembusukan sampah organik yang cepat.

Sampah anorganik adalah sampah yang sudah tidak dipakai lagi dan sulit terurai. Sampah anorganik yang tertimbun di tanah dapat menyebabkan pencemaran tanah karena sampah anorganik tergolong zat yang sulit terurai dan sampah itu akan tertimbun dalam tanah dalam waktu lama, ini menyebabkan rusaknya lapisan tanah.

Dia mengatakan, berdasarkan jenisnya sampah organik dapat digolongkan menjadi 2, antara lain sampah organik basah dan kering. Sampah organik basah adalah, sampah organik yang banyak mengadung air. Sampah organik basah contohnya adalah sisa sayur, kulit pisang, buah yang busuk, kulit bawang dan sejenisnya.

Sampah organik kering kata Pahri, adalah sampah organik yang sedikit mengandung air. Contoh sampah organik misalnya kayu, ranting pohon, kayu dan daun-daun kering. Kebanyakan sampah organik sulit diolah kembali jadi lebih sering dibakar untuk memusnahkannya.

"Sampah organik memiliki banyak manfaat ini bisa menjadi sumber pemasukkan bila diolah yang bermanfaat. Bahkan dapat menimimalisir banyak sampah di tempat pembuangan akhir. Sampah organik untuk kompos/pupuk organik," ucapnya

Dia mengungkapkan, contoh dari sampah anorganik adalah plastik, botol / kaleng minuman, kresek, ban bekas, besi, kaca, kabel, barang elektronik, bohlam lampu dan plastik. Memang sampah anorganik sulit terurai, tetapi dapat memanfaatkan kembali, jangan sampai dibiarkan begitu saja.

"Manfaat sampah anorganik yang bisa kita manfaatkan adalah dengan membuat kerajinan dari sampah / limbah tersebut. Misalnya sampah plastik dapat dibuat tas, taplak meja makan, pernak pernik. Kebetulan di sekolah kita buat kerajinan tangan, misalnya ring Aqua gelas jadi piring, cangkang kopi jadi jadi tempat tisu," imbuh Pahri.

Dia berharap, bahwa sekolah SMA Sebelas Maret ini bisa mewujudkan sampah dan ramah lingkungan. Serta harapan kedepannya sampah plastik bisa habis di sekolah. (Okky Adiana)


Editor : Doni Ramdhani