Farhan Tekankan Kepatuhan Tata Kelola dalam Pembangunan Kota Bandung

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menegaskan, pentingnya kepatuhan terhadap tata kelola pembangunan kota agar arah pengembangan sejalan dengan rencana ruang yang telah ditetapkan.

Farhan Tekankan Kepatuhan Tata Kelola dalam Pembangunan Kota Bandung

INILAHKORAN, Bandung - Wali kota bandung, Muhammad Farhan menegaskan, pentingnya kepatuhan terhadap tata kelola pembangunan kota agar arah pengembangan sejalan dengan rencana ruang yang telah ditetapkan.

Menurut ia, kota bandung telah memiliki delapan sub wilayah kota (SWK) sebagai pedoman pengembangan. Namun, pihaknya menilai, implementasi kebijakan di sejumlah kawasan belum berjalan konsisten.

“Kita memiliki konsep yang baik di atas kertas. Namun pertanyaannya, apakah sudah dijalankan sesuai rencana? Jangan sampai seluruh kawasan berubah menjadi deretan ruko tanpa arah yang jelas,” kata Farhan pada Senin 29 September 2025.

Ia mencontohkan SWK Tegallega yang seharusnya menjadi simpul perdagangan dan jasa, tetapi justru muncul pembangunan taman bertema dinosaurus yang dinilai tidak sesuai dengan fungsi kawasan. Farhan yang mengaku berasal dari kawasan tersebut, mempertanyakan arah pengembangan tersebut.

“Kita kehilangan narasi besar dari kawasan itu,” ucapnya.

Ia juga menyinggung pentingnya pendekatan transit oriented development (TOD) dalam menghidupkan kembali simpul-simpul pergerakan kota. Ia menyayangkan hilangnya sejumlah bangunan ikonik, seperti Gedung Premier di kawasan Cihampelas yang dinilai memiliki nilai historis dan arsitektural.

kota bandung dikenal sebagai galeri arsitektur. Namun, kita juga harus berani menghadirkan ikon-ikon baru yang visioner dan berkualitas,” ujar dia.

Farhan pun mengajak para arsitek untuk berperan aktif dalam menjaga bangunan cagar budaya di kota bandung, seperti Gedung Indonesia Menggugat, Rumah Inggit Garnasih,dan Aula Barat Institut Teknologi Bandung atau ITB.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pembangunan kota hijau dan ramah lingkungan bukan sekadar slogan. Ia menyebut, keberhasilan pembangunan sangat bergantung pada tingkat kepatuhan terhadap tata kelola.

“Visi sebesar apa pun tidak akan berjalan tanpa kepatuhan. Saya belajar dari pengalaman Singapura di bawah kepemimpinan Lee Kuan Yew. Kunci sukses mereka adalah kepatuhan terhadap aturan, yang dimulai dari pemimpinnya,” jelasnya.

Pihaknya juga memaparkan kelanjutan dua program unggulan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung yakni kurangi, pisahkan, manfaatkan atau Kang Pisman untuk pengelolaan sampah dan Buruan Sae yang mengembangkan pertanian kota.

Program tersebut, dinilai membantu mengendalikan harga komoditas strategis, seperti cabai dan bawang merah. Ia berharap kota bandung dapat menjadi laboratorium desain kota yang mampu memadukan kreativitas, nilai sejarah dan tata kelola yang konsisten.

kota bandung harus bisa melahirkan tolok ukur baru dalam arsitektur kota, yang membuat orang berkata inilah galeri arsitektur Indonesia. Tidak hanya untuk masa lalu, tetapi juga untuk masa depan,” tandas dia. *


Editor : Ahmad Sayuti