Fordekiis Susun Standar Kuliah Bersama: Menyatukan Ilmu Menguatkan Mutu
FORDEKIIS menyusun konten kuliah ilmu sosial bersama. AI dan perubahan iklim menjadi fokusnya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Kecerdasan buatan, perubahan iklim, hingga pembangunan berkelanjutan kini menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan. Ilmu sosial pun dituntut terus berkembang agar mampu membaca perubahan zaman sekaligus menyiapkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Semangat itu mendorong Forum Dekan Ilmu-Ilmu Sosial Perguruan Tinggi Negeri se-Indonesia (Fordekiis) mengembangkan konten perkuliahan bersama yang dapat diakses dan diadaptasi oleh berbagai kampus. Inisiatif tersebut dibahas dalam Pertemuan Nasional Fordekiis 2026 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Sabtu.
Ketua Fordekiis periode 2025–2027 Dr. Wawan Mas'udi mengatakan, forum ini dibangun untuk memperkuat komunikasi antarfakultas sekaligus mendekatkan kualitas pembelajaran dan riset ilmu sosial di berbagai perguruan tinggi.
“Kita tahu gap-nya di Indonesia ini kan seringkali agak jauh ya. Forum ini tujuannya adalah untuk learning process satu sama lain,” kata mantan Dekan Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tersebut, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (25/10).
Menurut Wawan, Indonesia memiliki ratusan ribu mahasiswa ilmu sosial yang tersebar di sekitar 76 fakultas pada perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (UIN). Jumlah tersebut menjadi potensi besar untuk membangun pembelajaran yang lebih terhubung dan saling memperkaya.
Fordekiis ingin mengembangkan konten perkuliahan yang dapat dimanfaatkan bersama, tanpa menghilangkan keleluasaan masing-masing kampus dalam menyusun kurikulum.
“Ada ratusan ribu kira-kira jumlah mahasiswa yang kita miliki dari sekitar 76 fakultas di PTN maupun yang UIN. Kita sedang mengembangkan konten yang bisa diambil semua. Itu semangatnya,” ujarnya.
Konten yang disiapkan mencakup sejumlah isu strategis, mulai dari transformasi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), perubahan iklim dan adaptasi iklim, hingga pembangunan berkelanjutan yang merujuk pada Sustainable Development Goals (SDGs). Pengembangan sosio-entrepreneurship juga masuk dalam agenda tersebut.
Berbagai tema itu dinilai penting untuk memperkaya pembelajaran ilmu sosial di tengah perubahan teknologi dan tantangan global. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga perlu memiliki kemampuan membaca persoalan sosial dan merumuskan respons terhadap perubahan.
Wawan menjelaskan, materi bersama tersebut dapat diterapkan dalam bentuk mata kuliah khusus maupun sebagai substansi yang terintegrasi ke dalam mata kuliah yang sudah tersedia.
“Masing-masing fakultas akan memiliki kebebasan untuk mengakses, sekaligus mengadaptasi. Bisa dalam bentuk spesifik mata kuliah, tetapi bisa juga sebagai konten substansi di dalam mata kuliah,” katanya. (gin)
Editor : Inilahkoran
