Gasibu dan Trotoar yang Belum Selesai

WAJAH baru trotoar Gasibu mulai terlihat. Namun, akses bagi penyandang disabilitas masih perlu disempurnakan.

Gasibu dan Trotoar yang Belum Selesai
TUAI SOROTAN: Seorang pejalan kaki melangkah menuju trotoar Gasibu. Penataan trotoar Gasibu Bandung menuai sorotan karena belum memenuhi prinsip aksesibilitas penyandang disabilitas.(INILAH/YULIANTONO)

Trotoar di kawasan Gasibu Bandung belum benar-benar selesai bercerita. Di satu sisi, wajah baru kawasan ini mulai terlihat. 

Sementara di sisi lain, sejumlah bagian masih menyisakan catatan. Akses bagi penyandang disabilitas dinilai belum sepenuhnya aman dan nyaman.

Koalisi Pejalan Kaki (Kopeka) Bandung menemukan sejumlah persoalan teknis. Salah satunya berada pada ramp atau pelandaian di titik penyeberangan yang belum terhubung mulus dengan permukaan jalan.

Bagi pengguna kursi roda, kondisi tersebut dapat menghambat mobilitas. Keselamatan pun menjadi perhatian.

Kemiringan memanjang trotoar turut disoroti. Koordinator Kopeka Bandung Muhammad Fadhil mengatakan, kemiringan ideal berada di angka 8 persen dengan batas maksimal 12 persen.

Jika lebih dari itu, fasilitas pegangan tangan perlu tersedia untuk membantu pengguna disabilitas.

"Di dalam kemiringan itu harus disediakan pegangan untuk rekan-rekan disabilitas. Gunanya agar rekan-rekan disabilitas bisa memegang pegangan itu dan tidak mudah untuk jatuh ke bawah," ujar Fadhil, Senin (28/9). 

Bagi Fadhil, persoalan tersebut menjadi catatan penting. Apalagi kawasan Gasibu telah dua kali menjalani revitalisasi.

Tampilan trotoar boleh saja berubah menjadi lebih menarik. Namun, fungsi dasarnya tetap sama: menjadi ruang berjalan yang aman dan dapat digunakan semua orang.

"Secara fungsi itu tidak sama sekali sesuai dengan fungsinya begitu dibangunnya trotoar di Gasibu," katanya.

Kopeka pun mendorong agar pengguna dilibatkan sejak awal. Komunitas pejalan kaki dan kelompok disabilitas diharapkan ikut hadir dalam proses perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi.

Sebab, standar trotoar yang inklusif tidak cukup hanya dilihat dari sudut pandang pengguna tanpa disabilitas.

"Terutama rekan-rekan disabilitas gitu harus diutamakan. Karena standar inklusif itu bukan standar kita non-disabilitas," tuturnya.

Perguruan tinggi juga diusulkan terlibat dalam perancangan. Kehadiran akademisi diharapkan membantu menghadirkan fasilitas pedestrian yang lebih aman, nyaman, dan sesuai standar aksesibilitas.

Namun, pemerintah mengatakan cerita tentang trotoar Gasibu belum sampai pada halaman terakhir. Pemerintah Provinsi Jawa Barat masih mengerjakan sejumlah bagian trotoar di kawasan tersebut. Revitalisasi Gasibu dan Gedung Sate juga belum dinyatakan rampung.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat Adi Komar mengatakan, pekerjaan fisik trotoar belum mencapai 100 persen.

"Jadi pada prinsipnya berdasarkan informasi dari DBMPR, Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Jabar, pengerjaan atau penataan trotoar lapangan Gasibu ini sampai dengan sekarang memang belum selesai, belum sampai 100 persen," ujar Adi.

Masukan mengenai akses penyandang disabilitas, kata dia, menjadi bagian dari evaluasi. Kemiringan pelandaian yang dinilai terlalu curam sedang diperbaiki agar lebih aman dan nyaman.

"Ya, kemarin untuk yang ketinggian dari jalan atau trotoar tersebut yang untuk difabel yang dirasakan terlalu curam atau kemiringannya terlalu tajam itu dievaluasi. Saat ini sedang dievaluasi dan tentunya agar lebih maksimal lagi dari sisi keamanan dan kenyamanan nanti akan disesuaikan, akan disempurnakan lagi, akan diperbaiki lagi," ucapnya.

Karena belum final, sejumlah bagian trotoar masih dipasangi pembatas. Pemerintah juga menyiagakan petugas di beberapa titik untuk membantu masyarakat menyeberang selama pengerjaan berlangsung. (yuliantono/gin)


Editor : Inilahkoran