Banyak Warga Gagal Paham, Staf Ahli Menkominfo: Siaran Digital Tak Perlu TV Baru dan Antena Parabola!

Rosarita Niken Widiastuti masyarakat tak perlu beli TV baru karena bisa menggunakan Set Top Box (STB) untuk siaran digital.

Banyak Warga Gagal Paham, Staf Ahli Menkominfo: Siaran Digital Tak Perlu TV Baru dan Antena Parabola!
Masyarakat tak perlu beli TV baru dan antena parabola untuk tangkap siaran digital.

INILAHKORAN, Bandung- Meluruskan pemahaman masyarakat soal biaya mendapatkan siaran digital di Indonesia, Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI, Rosarita Niken Widiastuti akhirnya angkat bicara.

Seperti diketahui, pemerintah menargetkan program Analog Switch Off (ASO) 2022 atau peralihan TV Analog menuju siaran digital (TV Digital) rampung pada 2 November 2022 mendatang.

Di sisi lain, banyak masyarakat yang masih ragu untuk mulai mencari-cari informasi seputar cara beralih ke TV Digital.

Baca Juga: Muhammad Farhan Gelar Turnamen Terbuka untuk Regenerasi Atlet akuatik Olimpiade 2032

Salah satu pemahaman yang keliru, adalah siaran TV Digital hanya bisa ditangkap oleh berbagai televisi keluaran terbaru, atau dengan teknologi yang langsung support ke penayangan siaran digital.

Selain itu, ada juga masyarakat yang memahami bahwa siaran TV Digital baru bisa tertangkap ketika menggunakan antena parabola.

Padahal, ungkap Rosarita Niken Widiastuti, masyarakat tak perlu beli TV baru karena bisa menggunakan Set Top Box (STB) untuk mendapatkan layanan siaran digital di Indonesia.

"Masyarakat tak harus beli TV baru karena TV yang lama walaupun belum digital bisa langsung beralih ke digital lewat STB," ungkap Niken.

Baca Juga: Resmi! Tahapan Penyelenggaraan Pemilu 2024 Dilaunching, Bawaslu KBB Siap Awasi!

Menurut Niken, STB adalah alat untuk mengonversi sinyal digital menjadi gambar dan suara. Nantinya, gambar dan suara itu pun bakal diterima dengan lebih jernih ketimbang TV Analog.

Selain itu, lanjutnya, STB telah mendukung Digital Video Broadcasting-Secodn Generation Terrestrial (DVB-T2), yang membuat penggunanya tak perlu membeli antena parabola untuk mendapatkan sinyal.

"Cukup gunakan antena TV biasa (UHF)," tegasnya.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kominfo terus membagikan STB gratis secara bertahap kepada Rumah Tangga Miskin (RTM) yang memenuhi kriteria.

Baca Juga: Kylie Jenner Pamerkan Tubuh Bugarnya di Instagram, Warganet: Kecantikan yang Murni!

Kriteria RTM penerima, di antaranya memiliki pesawat televisi analog dan menikmati siaran televisi melalui teresterial, lokasi rumah berada di lokasi siaran televisi digital, bersedia menerima dan memanfaatkan bantuan STB, serta dalam satu RTM menerima satu bantuan STB.

Program STB gratis untuk RTM yang memenuhi kriteria, itu menjadi langkah wajib demi menyukseskan ASO 2022 yang ditargetkan rampung November 2022 mendatang.

Di sisi lain, Kominfo sendiri sudah merilis daftar merek STB bagi masyarakat yang hendak membeli STB secara mandiri alias bukan gratis.

Baca Juga: Lirik Lagu​​ Cooped Up – Post Malone feat. Rody Ricch

STB bersertifikat, itu dilengkapi dengan perangkat yang sesuai dengan penggunaan di Indonesia. Tentunya, juga sudah lolos uji layak operasi (ULO).

Terakhir, Niken menegaskan tentang hal-hal penting di balik langkah pemerintah mempercepat ASO 2022.

Menurutnya, ada lima urgensi digitalisasi penyiaran. Pertama kepentingan publik untuk memperoleh penyiaran yang berkualitas, lalu efisiensi penggunaan frekuensi guna mendorong ekonomi digital dan industri era 4.0, serta penataan frekuansi guna mendorong ekonomi digital dan idustri di era 4.0.

"Selanjutnya, tersedia divital deviden untuk alokasi frekuansi broadband 5G yang akan digunakan, dan menghinari sengketa dengan negara-negara tetangga yang disebabkan intervensi spektrum frekuensi di wilayah-wilayah perbatasan, serta keragaman konten televisi," pungkas Niken.

Baca Juga: Lirik Lagu​​ Cooped Up – Post Malone feat. Rody Ricch

Sementara itu, DPR RI sendiri mendukung penuh program ASO 2022. Ketua Komisi I DPR RI, Meutya Hafid berharap, migrasi ke siaran TV digital membuat masyarakat Indonesia semakin kreatif terhadap konten digital.

Ia menilai peralihan tv digital ini juga dapat memunculkan keragaman kepemilikan saluran TV digital. Ia juga memprediksi nanti akan ada pemain baru di industri pertelevisian dapat lebih mudah masuk.

“Manfaatnya demokratisasi akan menjadi lebih baik. Siaran TV digital mendorong keragaman konten. Dengan demikian ada beragam informasi, lebih kaya pemikirannya karena banyak konten siaran yang diharapkan,” kata Meutya.***(Tantan Sulton)


Editor : inilahkoran