Gelaran Agam Inong Aceh Berlangsung Saat Banjir Besar: Publik Soroti Ketidakpekaan Disbudpar di Tengah Status Darurat
Kontes di Aceh jadi sorotan di tengah musibah yang melanda wilayah tersebut.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Puluhan warga dilaporkan meninggal dunia maupun hilang dalam bencana banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh. Ratusan ribu penduduk lainnya juga terdampak akibat tingginya curah hujan dan meluapnya sungai di berbagai kabupaten/kota.
Atas situasi tersebut, Gubernur Aceh Muzakir Manaf resmi menetapkan Status Darurat Bencana hingga 11 Desember 2025. Langkah ini diambil untuk memaksimalkan penanganan evakuasi, bantuan logistik, hingga pemulihan kondisi warga di lokasi terdampak.
Namun di tengah suasana duka dan upaya penanggulangan bencana tersebut, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh tetap menggelar Kontes Pemilihan Agam Inong Aceh 2025, yang berlangsung di The Pade Hotel, Aceh Besar. Acara telah dimulai sejak malam sebelumnya dan puncak kegiatan dijadwalkan pada 29 November 2025.
Keputusan tetap melangsungkan acara itu menuai kritik dari banyak pihak. Selain dianggap tidak sensitif terhadap kondisi masyarakat yang sedang berjuang di pengungsian, kegiatan tersebut juga disebut menelan anggaran daerah hingga ratusan juta rupiah.
Para peserta yang hadir berasal dari seluruh kabupaten/kota di Aceh — yang sebagian besar wilayahnya juga tengah dilanda banjir. Bahkan tidak sedikit kontestan yang dilaporkan kesulitan menghubungi keluarga mereka di kampung halaman karena dampak bencana.
Pengamat menilai penyelenggaraan kontes ini berpotensi mencoreng citra Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, terutama ketika warga di lapangan masih kesulitan memperoleh makanan, air bersih, dan tempat tinggal yang layak.
Banyak pihak membandingkan keputusan Disbudpar dengan langkah Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh yang memilih menunda perhelatan Anugerah Halal MPU 2025 sebagai bentuk empati kepada korban banjir.
Sejumlah suara publik meminta Disbudpar Aceh untuk menunda kontes tersebut dan menjadwalkannya ulang pada awal tahun depan, ketika kondisi Aceh telah pulih dan masyarakat tidak lagi berada dalam masa krisis.
Editor : Firda Rachmawati

