Gelombang PHK Tak Hanya Dipicu Sepi Order

Gelombang PHK Tak Hanya Dipicu Sepi Order
BERAT: Disperindag Jabar mengungkapkan banyak perusahaan saat ini menghadapi penurunan pesanan yang berujung pada efisiensi tenaga kerja.

INILAH, Bandung- Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Jawa Barat kembali menyeruak. Terbaru, PT Namnam Fashion Industries di Kota Cimahi melakukan efisiensi, dengan memangkas 178 pekerja.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat, Nining Yuliastiani mengungkapkan, banyak perusahaan saat ini menghadapi penurunan pesanan yang berujung pada efisiensi tenaga kerja.

Namun, persoalan utamanya bukan semata karena lesunya pasar, melainkan tingginya biaya produksi yang membuat produk Indonesia kalah bersaing.

“Beritanya kan banyak industri yang mulai kesulitan mendapatkan order, atau kemudian terjadi PHK. Ini sebenarnya lebih kepada industri-industri yang daya saing mereka itu dengan kompetitor ini perlu diperbaiki,” kata Nining saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Kamis (6/8).

Ia mengatakan, industri padat karya di Jawa Barat saat ini berhadapan langsung dengan kompetitor utama seperti Vietnam dan Thailand yang memiliki struktur biaya lebih efisien.

Keunggulan tersebut membuat produk dari kedua negara lebih kompetitif di pasar ekspor global, termasuk Amerika Serikat dan China.

“Dan memang kita kompetitor kita kayak Vietnam, Thailand gitu, itu mereka memiliki biaya produksi yang lebih rendah, biaya logistik yang lebih rendah, sehingga pada saat dijual ke China atau ke beberapa negara Amerika, itu tentunya mereka berkompetisi ketat dengan kita,” ujarnya.

Ironisnya, keunggulan tarif yang dimiliki Indonesia di sejumlah pasar tujuan ekspor belum mampu mengimbangi tingginya ongkos produksi dan logistik dalam negeri.

“Walaupun kita secara tarif di Amerika lebih rendah dibanding dari Vietnam, tapi karena biaya kita masih tinggi, ya itu yang menjadi penyebab,” ucapnya.

Nining menilai, fenomena PHK harus dibaca lebih dalam sebagai alarm bagi sektor industri Jawa Barat untuk berbenah.

Evaluasi tidak hanya menyangkut efisiensi perusahaan, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia menghadapi perubahan teknologi yang semakin cepat.

“Jadi sebenarnya dalam posisi terjadi banyak PHK itu memang kita harus melihat lagi bagaimana efektivitas dan juga kondisi industri yang ada di Jawa Barat ini. Termasuk yang tadi, kemampuan dari tenaga kerja, kompetensi harus ngikut, bisa beradaptasi ya dengan peningkatan teknologi yang ada,” katanya.

Di tengah tekanan industri, Disperindag Jawa Barat terus mendorong perluasan pasar ekspor sebagai salah satu strategi menjaga keberlangsungan usaha dan lapangan kerja. Upaya tersebut dilakukan melalui program pitching dan business matching yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dari berbagai negara.

(yuliantono)


Editor : Inilahkoran