Gen Z Diminta Tak Asal Investasi, Kenali Risiko dan Mulai dari Reksa Dana
Gen Z yang mulai berinvestasi di pasar modal diminta memahami profil risiko, dan tujuan keuangan sebelum memilih instrumen investasi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gen Z yang mulai berinvestasi di pasar modal diminta memahami profil risiko, dan tujuan keuangan sebelum memilih instrumen investasi. Investor pemula juga disarankan mempelajari reksa dana sebagai langkah awal sebelum mendalami investasi saham dan obligasi.
Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jabar Firman Hananto mengatakan, pemahaman mengenai investasi perlu dibangun melalui edukasi dan analisis yang matang.
Menurutnya, generasi muda memiliki kemampuan menangkap informasi dengan cepat. Namun kecepatan memperoleh informasi, perlu diimbangi dengan proses analisis sebelum mengambil keputusan investasi.
“Gen Z lebih cepat, dalam tanda kutip lebih agresif dalam menangkap informasi dan mengeksekusi informasi juga terkadang memang hanya melakukan beberapa tahapan saja. Enggak sampai melakukan analisis lebih dalam lagi,” kata Firman dalam kegiatan Roadshow Literasi Saham Generasi Masa Depan bertema Gen Z Melek Investasi di Universitas Pasundan (Unpas), Rabu (28/10/2026).
Dia menjelaskan, pemilihan instrumen investasi tidak bisa disamaratakan karena setiap orang memiliki profil risiko dan tujuan keuangan yang berbeda. Kedua aspek itu, menjadi pertimbangan utama sebelum seseorang menentukan produk investasi yang sesuai dengan kebutuhannya.
“Sebenarnya kalau misalkan bertanya investasi apa yang cocok buat mereka, kita balik lagi ke profil risiko sama tujuan investasi mereka. Karena profil risiko dan tujuan investasi, yang akan menentukan jenis instrumen investasi yang akan dipilih oleh masyarakat,” ucapnya.
Bagi mahasiswa yang baru mengenal pasar modal, Firman menyarankan mempelajari reksa dana sebagai salah satu langkah awal. Instrumen itu, melibatkan manajer investasi yang mengelola dana investor sesuai kebijakan investasi produk. Sehingga mahasiswa dapat mulai memahami mekanisme pasar modal tanpa harus langsung memilih saham secara mandiri.
“Biasanya kalau investor pemula, dia belajar dari reksa dana dulu. Karena reksa dana ada manajer investasinya. Selanjutnya sambil belajar, dia menganalisis investasi di saham, obligasi dan produk-produk lainnya,” ujar dia.
Meski demikian, dia mengingatkan setiap instrumen investasi tetap memiliki risiko. Mahasiswa perlu mempelajari karakteristik produk, potensi keuntungan dan kemungkinan kerugian sebelum menempatkan dana. Pengetahuan tersebut, menjadi bekal agar keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada tren atau informasi yang beredar.
Firman juga menekankan pentingnya diversifikasi, atau membagi investasi ke beberapa instrumen. Strategi itu dapat membantu investor mengelola risiko, sehingga tidak seluruh dana bergantung pada kinerja satu jenis aset.
“Tujuan kita untuk mitigasi risiko itu adalah diversifikasi investasi. Jadi ada peribahasa, 'don't put your eggs in one basket'. Reksa dananya tetap jalan, investasinya di saham juga tetap jalan,” tuturnya.
Selain memahami risiko, dia mengingatkan mahasiswa agar memastikan legalitas produk investasi sebelum menanamkan modal. Informasi yang diperoleh melalui media sosial maupun lingkungan pergaulan, perlu diperiksa kembali agar tidak terjebak dalam penawaran investasi ilegal.
Firman berharap, kegiatan literasi saham dapat menjangkau lebih banyak perguruan tinggi sehingga generasi muda memperoleh pemahaman yang memadai sebelum memasuki pasar modal. Edukasi berkelanjutan, dibutuhkan agar mahasiswa mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unpas Juanim menilai edukasi investasi memberikan manfaat bagi mahasiswa yang masih perlu meningkatkan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan.
Pengetahuan tersebut, dapat menjadi bekal dalam merencanakan kondisi finansial setelah menyelesaikan pendidikan.
“Alhamdulillah, acara hari ini memberikan manfaat bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis karena masih banyak mahasiswa yang tentu belum melek terkait dengan literasi investasi,” kata Juanim.
Dia mengingatkan, mahasiswa agar tidak hanya melihat potensi keuntungan ketika memilih instrumen investasi. Pemahaman terhadap tingkat risiko perlu menjadi pertimbangan, terutama ketika kondisi pasar saham mengalami fluktuasi.
Menurut Juanim, deposito, sukuk dan obligasi dapat dipelajari sebagai alternatif investasi dengan karakteristik risiko yang berbeda dari saham. Mahasiswa tetap perlu memahami ketentuan, dan risiko masing-masing produk sebelum menentukan pilihan.
“Mahasiswa diharapkan mempelajari tingkat risiko, sehingga nanti tidak kapok. Investasi juga memiliki aspek psikologis dan risiko yang perlu diperhatikan,” ucapnya.
Di sisi lain, Pemimpin Divisi Dana dan Jasa Konsumer bank bjb Maman Rukmana menekankan pentingnya perencanaan keuangan sebagai fondasi sebelum mahasiswa mulai berinvestasi.
Kemampuan mengelola uang sejak dini, dinilai membantu generasi muda mempersiapkan kebutuhan setelah memasuki dunia kerja.
“Untuk bisa sejahtera, bukan hanya dari besarnya penghasilan. Tapi dari kemampuan mengelola keuangan,” kata Maman.
Dia menjelaskan, mahasiswa dapat membangun kebiasaan menabung dengan menyisihkan sebagian uang jajan secara rutin. bank bjb memiliki produk Tandamata Rencana dengan fitur auto saving melalui Digi bank bjb yang memungkinkan nasabah mengatur tabungan secara berkala sesuai kebutuhan.
"Melalui kegiatan edukasi keuangan dan investasi, tentu kami berharap mahasiswa mampu menyusun perencanaan finansial secara bertahap, memahami risiko sebelum mengambil keputusan dan membangun kestabilan keuangan pada masa mendatang," ucapnya.
Editor : Doni Ramdhani
