Gianni Infantino Kembali Diserang UEFA, AFC dan CONCACAF Mengenai Saham Piala Dunia
UEFA, AFC dan CONCACAF kembali menyerang Presiden FIFA Gianni Infantino terkait saham Piala Dunia.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Kontdoversi seputar Presiden FIFA, Gianni Infantino nampaknya akan terus berlanjut karena terus mendapat tekanan.
Tiga dari enam konfederasi FIFA mengeluarkan surat terbuka kepada "keluarga sepak bola" yang menyerang perilaku Presiden Gianni Infantino selama usulan penjualan saham dalam hak komersial Piala Dunia dan menyerukan kepemimpinan yang bekerja untuk olahraga ini.
Surat tersebut, yang ditandatangani bersama oleh Presiden UEFA, AFC, dan CONCACAF, menyerukan peninjauan independen terhadap proposal yang kini telah dibatalkan tersebut.
Ketiganya menyatakan bahwa Gianni Infantino telah mengkhianati kepercayaan "melalui penipuan" dan "menempatkan dirinya di atas kepentingan bersama".
"Kekuatan sepak bola selalu terletak pada persatuannya," bunyi pernyataan itu. "Kami menyerukan agar persatuan itu dihormati sekarang, untuk kepemimpinan yang melayani sepak bola, bukan yang berusaha memerintahnya."
Administrator asal Swiss tersebut telah menghadapi pemberontakan terbuka dalam dua minggu sejak dia mengusulkan dan kemudian membatalkan rencana untuk memisahkan hak komersial Piala Dunia dan menjual 20% saham di antaranya kepada investor swasta untuk mengumpulkan sekitar 4,2 miliar dolar AS.
Sumber yang mengetahui proses penyusunan surat tersebut mengatakan bahwa ketiga konfederasi tersebut memandang surat itu sebagai kesempatan bagi Gianni Infantino, yang berupaya terpilih kembali pada Maret tahun depan, untuk mengundurkan diri dengan tetap menjaga martabatnya.
Badan sepak bola Eropa, UEFA, yang didukung oleh AFC Asia dan CONCACAF, yang mengelola sepak bola di Karibia, Amerika Utara, dan Amerika Tengah, telah mengancam akan memboikot turnamen FIFA sampai mereka menerima janji bahwa tidak akan ada skema serupa yang diusulkan di masa mendatang.
Ketiga konfederasi tersebut sedang menyelidiki kemungkinan untuk menyelenggarakan kompetisi di antara mereka sendiri guna memberi para pemain kesempatan untuk berkompetisi di tengah krisis dengan FIFA, kata sumber tersebut.
"Kepemimpinan dalam sepak bola bukanlah sebuah kepemilikan," tutur konfederasi dalam pernyataan hari Senin, 10 Agustus 2026.
"Ini bukan tentang memegang atau menuntut kekuasaan untuk dipegang. Ini adalah kewajiban untuk melayani keluarga sepak bola yang mempercayakannya," jelas mereka.
"Ketika kepercayaan dikhianati melalui penipuan, ketika seseorang menempatkan dirinya di atas kelompok yang mempercayakan wewenang kepadanya, maka tugas itu telah diabaikan," tambahnya.***
Editor : Irma Nurfajri

