Girimukti Hebat, Lagu dari Sekolah Tua

SEKOLAH tua itu sedang berbenah. Namun, di tengah dinding yang diperbaiki dan ruang belajar yang berpindah, suara anak-anak justru menemukan panggungnya.

Girimukti Hebat, Lagu dari Sekolah Tua
SUARA EMAS: Bangunan SDN Girimukti di Cikalongwetan sempat viral karena tak layak pakai mulai diperbaiki.Di balik perbaikan gedung sekolah, ada suara emas anak-anak yang melantunkan sebuah karya.(INILAH/AGUS SATIA NEGARA)

Suara emas sejumlah siswa mengalun dari sebuah bangunan sekolah yang berdiri sejak 1980.Letaknya berada di Kampung Rajamandala, RT 03/RW 12, Desa Mandalamukti, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat.

Kondisi bangunan SDN Girimukti sempat menyita perhatian publik lantaran kerusakan yang mengkhawatirkan. Dari tujuh ruang utama, satu dinyatakan tidak layak huni, tiga lainnya mengalami kerusakan berat, dan tiga sisanya rusak ringan.

Kini, bantuan revitalisasi akhirnya tiba. Gedung tua itu mulai diperbaiki. Namun, perjuangan sekolah belum sepenuhnya tuntas.

Kepala SDN Girimukti, Mudrikah, mengungkapkan bantuan pemerintah sebesar Rp1,2 miliar telah mengangkat harapan warga dan 121 siswa yang terbagi dalam enam rombongan belajar. Bantuan itu juga mencakup ruang kantor, UKS, dan perpustakaan.

Sebagian dana dialokasikan untuk pengadaan perabot sekolah senilai Rp122 juta, pembangunan sumur bor, serta tiang bendera.

Pekerjaan yang mencakup perbaikan empat ruang rusak berat dan tiga ruang rusak ringan ini telah berjalan sekitar 20 persen.Dengan target penyelesaian dari Kementerian selama 120 hari atau sekitar tiga bulan.

“Alhamdulillah ketika sempat viral sekolah Girimukti Cikalongwetan, sekarang sudah dapat bantuan dari pemerintah revitalisasi dengan jumlah nominal sekitar Rp1,2 miliar,” kata Mudrikah saat ditemui di lokasi, Selasa (29/9).

“Sekarang sudah mulai pembangunan, progresnya sekitar 20 persen. Mudahmudahan lancar dan selesai dalam waktu tiga bulan, agar anak-anak bisa kembali belajar dengan nyaman,” sambungnya.

Selama proses pembangunan, kegiatan belajar mengajar sama sekali tidak terhenti. Dua minggu pertama dilakukan secara daring.

Setelah itu, pihak sekolah membagi siswa ke beberapa lokasi di lingkungan sekitar, seperti Balai RW, ruang majelis taklim, serta rumah warga dan orang tua siswa yang memiliki tempat memadai.

“Langkah ini diambil agar enam rombongan belajar tetap mendapat pendampingan langsung, sekaligus memastikan mereka tetap dapat menikmati pangan bergizi dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) tanpa harus menempuh perjalanan jauh,” jelasnya.

“Kami menyiasati agar anak-anak tidak putus belajar.

Ada yang di majelis taklim, di Balai RW, ada di rumah orang tua. Walaupun jam belajarnya tidak maksimal seperti biasanya, setidaknya mereka tetap bertemu guru dan temantemannya,” sambungnya.

Keterbatasan fisik tak membuat semangat anakanak ikut berhenti. Justru dari ruang-ruang belajar sementara itulah, bakat dan keberanian mereka mulai menemukan panggung.

Kedatangan Mudrikah sebagai kepala sekolah baru pada 1 Agustus 2026 menjadi salah satu titik awalnya. Dia tidak hanya melihat kondisi sarana sekolah, tetapi juga menemukan potensi yang selama ini belum sepenuhnya memiliki wadah.

Bakat tarik suara, prestasi keagamaan, hingga kemampuan di bidang olahraga sudah tumbuh di sekolah itu. Namun, belum ada identitas yang menyatukan berbagai potensi tersebut.

Mudrikah kemudian merumuskan visi dan misi sekolah dalam sebuah akronim: Harmonis, Edukatif, Berkarakter, Aktif, dan Tangguh atau HEBAT.

Dari sana, lahirlah sebuah lagu. Dia menulis sendiri lirik Himne SDN Girimukti dengan mengambil ruh dari visi dan misi tersebut. Proses penulisan berlangsung sekitar satu minggu. Setelah itu, aransemen dan perekaman diselesaikan dalam sehari.

“Ketika saya masuk dan melihat potensi anak-anak, terutama di bidang tarik suara, saya berpikir ini harus punya suara sendiri.

Belum pernah ada himne atau jargon sebelumnya,” kata Mudrikah.

“Lalu saya tuliskan liriknya berdasarkan visi misi HEBAT. Proses penulisan sekitar satu minggu, kemudian satu hari untuk aransemen dan perekaman,” tambahnya.

Bagi Mudrikah, lagu itu bukan sekadar karya untuk dinyanyikan setiap Senin setelah upacara bendera.

Ada nilai yang ingin ditanamkan melalui setiap baitnya.

Harmonis dalam berteman.

Edukatif dalam belajar.

Berkarakter dalam bersikap. Aktif dalam berkarya. Tangguh menghadapi keterbatasan. Nilainilai itu diharapkan tidak berhenti sebagai lirik, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan dan karakter siswa.

“Bangunan bisa rusak dan sedang diperbaiki, tapi semangat anak-anak tidak boleh menunggu. Hari ini mereka menyanyi, besok mereka membuktikan bahwa SDN Girimukti memang HEBAT,” ungkapnya.

Untuk menghidupkan lagu tersebut, sekolah melakukan seleksi dari setiap kelas. Puluhan siswa mencoba menunjukkan kemampuan vokalnya. Lima anak kemudian terpilih.

Mereka memiliki kemampuan vokal yang dinilai paling menonjol. Salah satunya Azka Zen, yang kemudian menjadi pemimpin vokal sekaligus penyemangat bagi teman-temannya.

Himne SDN Girimukti kini berdurasi sekitar tiga menit. Rencananya, lagu itu akan dinyanyikan secara rutin setiap Senin setelah upacara bendera.

“Dipilih lima orang, diuji per kelas, dilihat potensinya lewat konten-konten edukasi yang kami buat.

Hasilnya luar biasa, mereka cepat paham, liriknya mudah diingat dan maknanya menyatu dengan diri mereka,” tutur Mudrikah.

Tak berhenti pada satu lagu, sekolah kembali melahirkan karya kedua berjudul SDN Girimukti HEBAT.

Durasi lagu itu sedikit lebih panjang dan kini tinggal menunggu penyelesaian klip video sebelum dirilis.

“Dua lagu ini menjadi bukti bahwa meski gedung tua sedang direnovasi, jiwa sekolah tetap hidup dan berkembang,” ucapnya.

Revitalisasi bangunan memang mulai berjalan.

Namun, masih ada kebutuhan lain yang belum masuk dalam cakupan anggaran Rp1,2 miliar.

Mudrikah menyebut pembangunan pagar, pengerasan halaman, serta pembuatan sarana olahraga menjadi kebutuhan paling mendesak berikutnya demi keamanan, ketertiban, dan kenyamanan siswa.

“Yang paling urgen itu adalah pagar. Tanah di belakang sudah dipakai warga karena tidak ada batasnya.

Kami ingin mengembalikannya untuk kebutuhan sekolah, terutama sarana olahraga,” imbuhnya.

“Lapangan upacara pun masih tanah, belum ada pengerasan. Semoga ada tambahan bantuan dari pemerintah daerah maupun pusat agar ini bisa terwujud,” tegasnya.

Guru kelas 4 sekaligus koordinator penempatan kelas sementara, Fauzi Gorib, menyebut seluruh lahan seluas 1.555 meter persegi berstatus hak guna pakai milik desa. Namun, lahan tersebut belum memiliki pagar pembatas yang jelas.

“Sebagian area di bagian belakang telah dimanfaatkan warga karena tidak ada batas fisik yang menandai batas wilayah sekolah,” sebut Gorib.

Fauzi menuturkan, lapangan olahraga yang dulunya ada kini tidak layak pakai dan rawan. Area depan yang digunakan untuk upacara bendera pun masih berupa tanah.

Menurutnya, prioritas berikutnya adalah pagar bagian depan agar akses sekolah dapat dikendalikan dan tidak sembarangan dimasuki pihak luar. Pagar bagian belakang dapat menyusul, disertai penataan halaman agar anak-anak memiliki tempat yang aman untuk beraktivitas fisik.

“Revitalisasi gedung memang sudah datang, tapi lingkungannya belum tertata. Ini belum selesai sepenuhnya. Kami berharap ada perhatian lanjutan, agar SDN Girimukti bukan hanya bangunannya yang indah, tapi juga lingkungannya tertata rapi, aman dan layak menjadi tempat tumbuh 121 putraputri warga Mandalamukti,” pungkasnya.

Bagi anak-anak, lagu tersebut perlahan memiliki makna sendiri. Teja, 12 tahun, Aji, 10 tahun, dan Rizki, 11 tahun, siswa kelas 5 SDN Girimukti, mengaku bangga menjadi bagian dari paduan suara tersebut.

Ada satu kalimat yang paling melekat di benak Teja. “Yang paling saya ingat: Girimukti hebat. Itu yang berkesan,” katanya.

Aji mengaku masih sedikit kesulitan mengatur napas ketika bernyanyi.

Namun, kesulitan itu tidak mengurangi kegembiraannya.

Dia bahkan menyimpan cita-cita menjadi penyanyi hingga tingkat nasional.

Bagi Rizki, menghafalkan lagu justru terasa lebih mudah daripada menghafalkan pelajaran. “Belajarnya cepat, liriknya gampang diingat.

Kalau nyanyi, rasanya senang saja,” katanya.

Ketiganya memiliki idola yang sama. Bukan penyanyi dari televisi atau panggung besar, melainkan teman sendiri, Azkha Zein, yang menjadi pemimpin vokal mereka.

Lima suara kecil kini mulai menemukan panggungnya.

Dari sekolah tua yang sedang berbenah, mereka menyanyikan satu keyakinan yang perlahan tumbuh menjadi identitas bersama. Girimukti hebat.

(agus satia negara/gin)


Editor : Inilahkoran