GP Ansor Jabar Ingatkan Bahaya “Perang Pikiran” Generasi Muda di Era Digital
Penetapan KH Muhammad Kholil Bangkalan dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden RI Prabowo Subianto memicu refleksi baru dari kalangan muda Nahdlatul Ulama.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung — Penetapan KH Muhammad Kholil Bangkalan dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden RI Prabowo Subianto memicu refleksi baru dari kalangan muda Nahdlatul Ulama.
Bagi Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat, keputusan tersebut bukan hanya penghargaan historis, tetapi alarm bagi generasi sekarang untuk mengambil peran dalam “perang pikiran” yang semakin mengemuka di ruang digital.
Dalam diskusi terbuka bertajuk “Sosok Pahlawan di Mata Generasi: Dari Masa Lalu Hingga Masa Kini” pada Selasa malam 18 November 2025, Kasatkorwil Banser GP Ansor Jawa Barat, Yudi Nurcahyadi menekankan bahwa medan perjuangan hari ini sudah berubah total. Menurutnya, ancaman tidak lagi datang lewat senjata, melainkan lewat infiltrasi ideologi yang membajak ruang digital tanpa filter.
“Kalau dulu pahlawan mengangkat senjata, maka hari ini tugas kita adalah menjaga pemikiran. Menjaga toleransi, menjaga keberagaman, dan menjaga Indonesia dari ancaman ideologi yang bertentangan dengan semangat kebangsaan,” ujar Yudi.
Yudi mengingatkan bahwa dunia digital kini menjadi ruang paling rawan bagi generasi muda. Kebebasan tanpa batas, banjir informasi, dan minimnya literasi membuat kelompok intoleran mudah masuk dan memengaruhi opini publik.
“Negara kita ini majemuk. Kalau generasi muda tidak memahami pentingnya toleransi, maka ancamannya sangat nyata. Dunia digital hari ini penuh kebebasan, tanpa saringan, ini bisa jadi bumerang,” tegasnya.
Di hadapan kader Ansor dan Banser dari berbagai kabupaten/kota Jawa Barat, Yudi menegaskan bahwa nilai Aswaja sebagai ajaran Islam moderat adalah benteng utama menghadapi gempuran ideologi transnasional maupun ekstremisme digital.
Yudi menyoroti kelompok mahasiswa dan santri sebagai barisan yang memiliki kapasitas intelektual menjaga warisan pemikiran para kiai. Ia menekankan bahwa ruang akademik adalah wilayah strategis untuk menghidupkan kembali pesan keagamaan sekaligus nasionalisme.
“Pesan-pesan kiai harus bisa ditransformasikan ke dalam ruang akademik. Nasionalisme dan keagamaan itu tidak bisa dipisahkan. Keduanya harus dijaga bersama,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa prinsip tasamuh, tawazun, dan tawassuth tidak boleh hanya menjadi jargon, tetapi harus menjadi sikap praktis generasi muda dalam kehidupan sehari-hari.
“Pahlawan hari ini adalah mereka yang menjaga pikiran. Yang tidak membiarkan generasi muda tercemar oleh ideologi-ideologi yang ingin memecah belah bangsa karena NKRI Harga mati,” imbuhnya.
Diskusi tak hanya membahas dua tokoh NU. Polemik mengenai rencana pemberian gelar pahlawan untuk Soeharto juga mengemuka. Narasumber diskusi, Founder Logika Filsuf, Baihaqqi Addahil, menyebut publik harus melihat persoalan ini dengan kepala dingin, termasuk mempertimbangkan suara masyarakat di media sosial.
“Survei yang saya lakukan di media sosial, menyatakan 52 persen netizen setuju terhadap gelar pahlawan untuk Soeharto. Ini tidak bisa kita abaikan sebagai bagian dari realitas kehidupan sehari-hari kita,” pungkas Baihaqqi. (Yuliantono)
Editor : Ahmad Sayuti

