Guru Menjaga Budaya Mutu
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Barito - Sekolah tidak menjadi lebih baik hanya karena memiliki tumpukan dokumen dan laporan. Mutu pendidikan tumbuh dari kebiasaan kecil yang terus diperbaiki, dari ruang kelas hingga cara guru mengambil keputusan. Di sanalah Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) menemukan maknanya.
Dinas Pendidikan Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, mendorong SPMI tidak berhenti sebagai kewajiban administratif. Sistem tersebut diharapkan tumbuh menjadi budaya mutu yang hidup dan diterapkan secara berkelanjutan di setiap satuan pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan Barito Utara Muhammad Iman Topik mengatakan hasil evaluasi seharusnya tidak berakhir di atas kertas. Data yang dikumpulkan sekolah harus menjadi pijakan untuk menentukan apa yang perlu diperbaiki.
“SPMI bukan sekadar kegiatan penyusunan dokumen dan laporan. Jadikan hasil evaluasi sebagai dasar untuk melakukan perbaikan nyata. Jadikan data sebagai dasar dalam mengambil keputusan,” kata Iman, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (30/8)..
Pesan itu disampaikan dalam Bimbingan Teknis Guru untuk Penguatan SPMI Tahun Pelajaran 2026/2027 di SMK Negeri 2 Muara Teweh.
Bagi Iman, meningkatkan mutu pendidikan bukan pekerjaan sehari atau dua hari. Ia membutuhkan proses yang terencana, sistematis, dan terus dilakukan. Lebih dari itu, seluruh warga sekolah harus terlibat dalam proses tersebut.
Melalui SPMI, sekolah didorong mengenali kekuatan yang sudah dimiliki sekaligus menemukan bagian yang masih lemah. Dari sana, kebutuhan perbaikan dapat dirumuskan, program dijalankan, kemudian dievaluasi kembali.
Siklus itu harus terus berputar. Tujuannya bukan sekadar membuat administrasi sekolah terlihat rapi, tetapi memastikan setiap perbaikan benar-benar terasa dalam proses pembelajaran dan hasil belajar peserta didik. Di tengah siklus tersebut, guru menjadi salah satu kunci.
Program yang dirancang sebaik apa pun tidak akan banyak berarti tanpa guru yang memiliki kompetensi, komitmen, kreativitas, dan kemauan untuk terus belajar.
“Penting peran guru dalam keberhasilan peningkatan mutu pendidikan. Sehebat apa pun program yang dirancang, tanpa guru yang memiliki kompetensi, komitmen, kreativitas, dan kemauan untuk terus belajar, peningkatan mutu pendidikan akan sulit diwujudkan,” ujarnya. (gin)
Editor : Inilahkoran

