Perguruan Tinggi Didorong Perkuat Riset Desa

Perguruan Tinggi Didorong Perkuat Riset Desa
RUANG TRANSAKSI: Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani menegaskan institusi pendidikan tinggi bukan ruang untuk bertransaksi bagi mereka yang memiliki finansial berlebih.

INILAH, Jakarta - Riset tidak seharusnya berhenti di ruang kelas. Ia juga tidak semestinya hanya berakhir sebagai tumpukan laporan atau tulisan yang tersimpan di jurnal ilmiah.

Ada kehidupan di luar kampus yang menunggu disentuh pengetahuan. Ada desa dengan persoalan air, sampah, energi, hingga berbagai kebutuhan lain yang membutuhkan jawaban. Di sanalah perguruan tinggi didorong untuk membawa risetnya lebih dekat kepada masyarakat.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengajak perguruan tinggi memperkuat penerapan riset untuk menjawab persoalan nyata, terutama dalam mendorong kemandirian desa.

Menurut Brian, desa binaan dapat menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium terbuka bagi kampus. Dosen dan mahasiswa dapat melakukan riset, mengembangkan inovasi, lalu mengujinya langsung sesuai kebutuhan masyarakat.

“Riset itu tidak hanya berhenti sampai di ruang kelas, tidak hanya berhenti sampai di laboratorium-laboratorium, atau tidak hanya berhenti sampai di paper-paper di jurnal-jurnal ilmiah,” kata Brian, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (30/8).

Bagi Brian, ukuran keberhasilan riset tidak berhenti pada seberapa banyak karya ilmiah yang dihasilkan. Yang lebih penting adalah sejauh mana pengetahuan tersebut mampu menyelesaikan persoalan di sekitar masyarakat.

Karena itu, perguruan tinggi didorong memperbanyak riset terapan dan teknologi tepat guna. Dosen dan mahasiswa dapat terlibat langsung melalui berbagai program, termasuk KKN tematik yang disusun berdasarkan kebutuhan masing-masing desa.

Energi, pengelolaan sampah, dan ketersediaan air menjadi sebagian persoalan yang dapat dijadikan ruang penerapan pengetahuan. Namun, membawa teknologi ke desa bukan berarti pekerjaan selesai. Ada satu hal yang jauh lebih penting: memastikan masyarakat mampu menggunakannya.

Teknologi yang ditinggalkan tanpa kemampuan untuk mengoperasikan dan merawatnya hanya akan menjadi benda yang perlahan kehilangan fungsi.

Karena itu, Brian mendorong adanya pelatihan dan sertifikasi, terutama bagi pemuda desa. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi penerima teknologi, tetapi juga mampu mengelola dan mengembangkannya.

“Desa ini harus sama-sama kita berdayakan,” ucapnya. (gin)


Editor : Inilahkoran