Kisah Perempuan Bajo dan Laut Tanpa Teduh

KETIKA laut mulai kehilangan keramahan, nelayan perempuan di Desa Bajo tak punya banyak pilihan. Mereka tetap melaut demi menjaga dapur menyala.

Kisah Perempuan Bajo dan Laut Tanpa Teduh
CUACA BURUK: Nelayan perempuan Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, Musna Labaso mempersiapkan peralatan untuk tetap melaut di tengah cuaca buruk, Minggu (30/8).

Laut adalah denyut nadi Musna Labaso. Lebih dari dua dekade, perempuan 40 tahun itu membaca kehidupan dari gelombang. Sejak 2003, dia meninggalkan daratan Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, untuk mengejar ikan di perairan Gorontalo.

Perahu menjadi ruang kerjanya. Laut menjadi ladangnya. Kadang, Musna menghabiskan dua hari di atas air, menyeberang menuju pulau-pulau yang jauh dari permukiman demi membawa pulang ikan untuk menyambung hidup.

Tetapi laut yang dahulu memberinya penghidupan perlahan berubah wajah. Beberapa bulan terakhir, gelombang meninggi. Cuaca datang tanpa banyak memberi tanda. Langit yang sulit ditebak membuat perjalanan ke laut lepas menjadi pertaruhan.

Musna pun memilih mundur. Bukan berhenti melaut, melainkan memperpendek jarak dengan daratan. Dia kini hanya berani mencari ikan di perairan dangkal.

Maret lalu menjadi perjalanan terakhirnya menuju wilayah tangkapan yang jauh. Setelah itu, perahu kecil yang selama ini menjadi sandaran hidupnya hancur dihantam ombak besar. Sejak saat itu, Musna tak lagi memiliki perahu.

Namun hidup tak memberinya pilihan untuk berhenti. Jika ingin melaut, dia harus menumpang perahu nelayan lain. Alat tangkapnya sederhana: tali nilon, pemberat timah, dan umpan cacing. Selebihnya, dia menyerahkan nasib kepada laut.

"Kalau cuaca tidak bagus, kami tidak bisa pergi jauh. Sekarang saya juga tidak punya perahu sendiri karena sudah rusak dihantam ombak. Jadi kalau mau melaut, saya harus ikut perahu orang lain," ujarnya seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (30/8).

Jarak yang semakin dekat dengan daratan membuat tangkapan ikut menyusut. Dulu, Musna bisa membawa pulang sekitar 10 kilogram ikan dalam sehari. Jika berlayar hingga dua hari ke laut lepas, hasilnya bahkan bisa mencapai 20 kilogram.

Kini, empat kilogram saja sudah menjadi hasil yang patut disyukuri. Goropa, katambak, hingga oci semakin sulit ditemui di ujung tali pancingnya.

"Dulu kami bisa dapat banyak. Sekarang hasilnya sedikit sekali, ikan semakin susah didapat," keluh Musna.

Laut memberikan lebih sedikit. Daratan pun tak selalu memberi harga yang layak. Kemarau panjang menggerus daya beli masyarakat. Ketika pasokan ikan sedikit dan harga seharusnya naik, warga justru menahan belanja. Mereka beralih ke bahan pangan lain.

Musna akhirnya terjebak di antara dua ketidakpastian. Di laut, dia berhadapan dengan ombak dan cuaca. Di darat, ia berhadapan dengan harga dan daya beli. 

Padahal, bagi perempuan yang hidup sebatang kara itu, laut bukan sekadar tempat mencari ikan. Laut adalah satu-satunya pekerjaan yang dia punya.

"Kalau tidak melaut, saya tidak punya pekerjaan lain. Dari laut ini saya mencari kebutuhan sehari-hari," ungkapnya.

Kini, harapan Musna sederhana. Dia ingin memiliki perahu lagi. Bukan untuk pergi lebih jauh dari sebelumnya, tetapi agar bisa kembali menentukan sendiri kapan berlayar dan kapan pulang.

"Saya berharap bisa punya perahu lagi agar bisa kembali mencari ikan tanpa harus selalu menumpang," ucapnya.

Kisah serupa hidup dalam keseharian Rusmi Copa. Perempuan 53 tahun itu juga nelayan sekaligus ibu tunggal dari Desa Bajo. Sampannya telah hancur. Sejak itu, dia menumpang perahu milik kakaknya untuk tetap bisa mencari ikan.

"Kalau tidak ikut kakak, saya tidak bisa melaut," ujar Rusmi.

Menumpang bukan sekadar soal tempat duduk di atas perahu. Hasil tangkapan bobara atau oci harus dibagi. Sementara setiap perjalanan membutuhkan bahan bakar sekitar 5 hingga 10 liter.

Solar dibeli dengan uang yang pasti. Ikan yang didapat belum tentu. Kadang, setelah bahan bakar habis, yang dibawa pulang hanya beberapa ekor ikan.

"Sudah keluar modal beli bahan bakar, kadang hanya dapat beberapa ekor ikan," keluhnya.

Ketika ombak meninggi, perahu memilih diam. Hari-hari melaut berubah menjadi minggu. Bahkan, cuaca buruk dapat membuat mereka berbulan-bulan kehilangan kesempatan bekerja.

Tetapi kebutuhan di rumah tidak mengenal musim. Saat hasil tangkapan cukup, Rusmi menjualnya kepada pengepul. Jika hanya sedikit, ikan dibawa ke tempat pelelangan. Ketika tak ada hasil yang bisa dijual, ikan kecil menjadi penyelamat.

Ikan lolosi dikeringkan menjadi ikan asin. Bukan lagi sekadar komoditas, melainkan cadangan makanan agar dapur tetap menyala ketika laut tak bisa didatangi.

Musna dan Rusmi menghadapi persoalan yang sama: laut bukan lagi ruang yang mudah ditebak. Gelombang menentukan apakah mereka bisa bekerja. Cuaca menentukan apakah perahu dapat meninggalkan pantai. Namun ketika akhirnya kembali ke daratan, persoalan lain telah menunggu.

Daya beli masyarakat yang melemah membuat ikan hasil tangkapan tidak selalu bernilai sebagaimana yang mereka harapkan. "Kadang kami susah dapat ikan. Kalaupun dapat, belum tentu harganya bagus," ujar Musna.

Nelayan perempuan itu pun seperti terjepit dari dua arah. Laut menentukan seberapa banyak ikan yang bisa dibawa pulang. Daratan menentukan seberapa tinggi nilainya. Sementara di rumah, kebutuhan terus berjalan.

Karena itu, ikan-ikan kecil yang tidak terserap pasar dikeringkan. Disimpan untuk hari ketika ombak terlalu tinggi dan perahu harus ditambatkan.

"Kalau tidak bisa melaut, kami harus pikirkan mau makan apa. Makanya ikan kecil-kecil itu kami simpan dan keringkan supaya ada makanan," kata Rusmi. (gin) 


Editor : Inilahkoran