Harapan Baru Pegiat Animasi Lokal

Harapan Baru Pegiat Animasi Lokal
ANIMASI: Kemenkraf membidik pertumbuhan studio animasi berbasis intellectual property (IP) di berbagai daerah untuk memperluas ekosistem industri animasi.

INILAH, Bandung- Bayangkan karakter animasi favorit anak-anak tidak lagi lahir dari studio megah di Hollywood atau Tokyo, melainkan dari sudut-sudut kreatif di Medan, Batam, Padang, hingga Bali.

Langkah besar inilah yang sedang dirajut oleh Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf). Pemerintah kini tengah gencar membidik pertumbuhan studio animasi berbasis intellectual property (IP) di berbagai daerah.

Tujuannya agar karya-karya lokal yang punya nilai jual tinggi bisa lahir dari tangan anak muda di seluruh penjuru nusantara.

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, berbagi cerita bahwa selama ini denyut nadi industri animasi kita masih sangat berpusat di Pulau Jawa.

“Berdasarkan Indonesia Animation Report 2026, dari 262 studio animasi yang teridentifikasi, 80 persennya berada di Pulau Jawa,” ungkap Riefky di Jakarta, Rabu (16/9).

Namun, Riefky melihat secercah harapan baru. Di luar Jawa, talenta-talenta berbakat mulai bermunculan dan kualitasnya tidak main-main.

Tengok saja bagaimana Infinite Studio di Batam dan Brown Bag Studio di Bali berhasil membuktikan bahwa talenta daerah mampu menembus pasar internasional.

Bagi Kemenekraf, ini bukan sekadar angka atau membangun gedung studio baru. Ini adalah tentang menghidupkan mimpi para animator daerah agar mereka mampu menciptakan karakter dan cerita (IP) mereka sendiri yang bernilai komersial.

Untuk mewujudkannya, pemerintah meluncurkan program Akselerasi Kreatif (Aktif). Program ini dirancang sebagai jembatan yang melatih animator lokal meningkatkan nilai jual karyanya, sekaligus membuka pintu jaringan (networking) ke ekosistem animasi nasional hingga global.

Semangat ini juga diperkuat lewat tiga program utama: aktifasi desa kreati, aktifasi kreatif hub, serta kreatif by Indonesia “Bukan kita membangun desa kreatif baru, tetapi kalau ada sebuah desa yang [memiliki potensi, kita perkuat talenta di dalamnya],” pungkas Riefky.

Lewat sentuhan ini, diharapkan cerita-cerita lokal dari berbagai daerah bisa tumbuh menjadi industri besar yang menghidupi kreatornya.

Dia menargetkan industri animasi Indonesia mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas, menghasilkan nilai tambah ekonomi, serta menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru bagi perekonomian nasional. (bsf)


Editor : Inilahkoran