Harga Daging Melonjak, Pemprov Jabar Siap Intervensi Pasar Jaga Stabilitas Harga

Kenaikan harga daging sapi yang mulai membebani masyarakat, sekaligus aksi mogok pedagang menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Barat. 

Harga Daging Melonjak, Pemprov Jabar Siap Intervensi Pasar Jaga Stabilitas Harga
Sekretaris Daerah Pemprov Jawa Barat, Herman Suryatman

INILAHKORAN.ID - Kenaikan harga daging sapi yang mulai membebani masyarakat, sekaligus aksi mogok pedagang menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Barat. 

Pemprov Jabar memastikan, tidak akan tinggal diam jika lonjakan harga mulai melewati batas kewajaran, bahkan siap menggelar operasi pasar hingga pasar bersubsidi apabila inflasi mendekati ambang psikologis.

Sekretaris Daerah Pemprov Jawa Barat, Herman Suryatman mengatakan, pihaknya tengah melakukan pengecekan langsung ke lapangan menyusul laporan kenaikan harga daging sapi yang disebut telah menyentuh Rp160 ribu per kilogram di sejumlah wilayah.

“Kami akan cek dulu. Sampai hari ini inflasi di Jawa Barat masih terkendali. Karena inflasi itu kan rentangnya 1,5 sampai 3,5. Rentangnya, yang idealnya kan di 2,5,” ujar Herman di Kota Bandung, Rabu (20/5/2026).

Menurutnya, posisi inflasi Jawa Barat sejauh ini masih berada di kisaran 2 persen. Namun, pemerintah tetap waspada terhadap dinamika harga kebutuhan pokok, khususnya menjelang momentum hari besar keagamaan Iduladha, yang kerap memicu lonjakan permintaan.

“Tempo hari, inflasi di Jawa Barat masih di kisaran 2 persen. Kami akan cek ricek, apakah sudah nerekel (naik) ke 3 persen atau masih di 2 persen, nanti kami informasikan,” katanya.

Ia menegaskan, Pemprov Jabar memiliki batas kewaspadaan terhadap laju inflasi. Jika angka inflasi bergerak mendekati 3 persen hingga menyentuh batas psikologis 3,5 persen, pemerintah akan segera turun tangan bersama 27 pemerintah kabupaten/kota.

Khusus terkait harga daging sapi, Herman mengaku belum ingin berspekulasi sebelum tim melakukan verifikasi lapangan. Ia menyebut terdapat laporan awal yang mengindikasikan harga sudah merangkak naik hingga Rp160 ribu per kilogram.

“Sekarang posisinya ada di angka berapa? Apakah Rp130.000 per kilo, apakah Rp140.000, Rp160.000? Kami harus cek ke lapangan. Teman-teman menyampaikan Rp160.000. Kami kan belum cek ke pasar di Bandung, ke pasar di Sumedang, ke pasar di Majalengka. Nanti kami akan cek ricek kroscek,” ungkap Herman.

Apabila hasil pengecekan menunjukkan harga sudah melampaui rata-rata normal, kata Herman, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat akan langsung bergerak melakukan intervensi.

“Nanti Disindag akan turun ke lapangan dengan pasar bersubsidinya, dengan pasar murahnya, dengan operasi pasar, dan lain sebagainya. Nanti kita kerjasama dengan asosiasi,” katanya.

Herman menegaskan, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi telah menginstruksikan seluruh jajaran birokrasi, agar menjaga tiga indikator utama stabilitas ekonomi masyarakat, yakni harga yang terjangkau, ketersediaan pasokan, serta kelancaran distribusi barang.

“Pak Gubernur sangat concern, Pak Gubernur sudah mengintruksikan kami di birokrasi pemerintahan untuk menjaga harga-harga agar terjangkau. Kan tiga syaratnya. Satu, harga-harga terjangkau. Yang kedua, pasokan tersedia. Yang ketiga, mobilitas, transportasi lancar. Dan kami jagain tiga-tiganya,” lanjut Herman.

Ia meminta masyarakat tetap tenang menghadapi dinamika harga di pasar. Menurutnya, Pemprov Jabar akan berada di tengah masyarakat untuk memastikan gejolak harga tidak berlarut-larut.

“Kalau ada dinamika harga, masyarakat tenang. Sekali lagi, kalau ada dinamika harga, masyarakat tenang, karena Pemda Provinsi Jawa Barat akan berada di tengah-tengah masyarakat,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan data Disperindag Jabar per 18 Mei 2026, daging sapi menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan baik dibandingkan pekan lalu maupun bulan sebelumnya.

Secara mingguan, sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga meliputi beras medium, beras premium, gula pasir curah, minyak goreng premium, daging sapi, kedelai impor, cabai rawit merah, cabai merah besar, bawang merah, dan bawang putih honan. Kenaikan tertinggi tercatat pada cabai merah besar sebesar 5,37 persen.

Adapun secara bulanan, kenaikan harga terjadi pada beras medium, gula pasir curah, daging sapi, daging ayam ras, kedelai impor, komoditas cabai, dan bawang merah. Cabai merah keriting tercatat mengalami kenaikan tertinggi hingga 15,92 persen.

Tak hanya itu, Disperindag juga mencatat beberapa komoditas masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) atau Harga Acuan Penjualan (HAP), yakni gula pasir, daging sapi, kedelai impor, dan cabai rawit merah.***


Editor : JakaPermana