Harga Pertamax Naik 30 Persen, Warga Bandung Terpaksa Kurangi Konsumsi BBM
Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax hingga Rp16.250 per liter memicu protes dan penyesuaian perilaku masyarakat di Jabar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax hingga Rp16.250 per liter memicu protes dan penyesuaian perilaku masyarakat di Jabar.
Lonjakan harga Pertamax sebesar hampir Rp4.000 per liter itu dirasa memberatkan, terutama bagi warga dengan pengeluaran terbatas.
Seorang pengemudi ojek online, Dhani (54), menilai kebijakan ini terlalu membebani masyarakat. Dia berharap pemerintah meninjau ulang keputusan kenaikan harga BBM di tengah kondisi ekonomi yang masih menekan warga.
"Kalau bisa jangan naik. Ekonomi masyarakat sekarang lagi terjepit. Kalau naik ya tambah susah," ujar Dhani saat ditemui di SPBU Jalan Riau, Bandung, Rabu (10/6/2026).
Dhani khawatir, kenaikan harga Pertamax mendorong masyarakat beralih ke BBM subsidi seperti Pertalite, yang berpotensi memperpanjang antrean di SPBU. Ia juga menekankan perlunya keterbukaan pemerintah sebelum menentukan harga BBM.
"Kalau mau menaikkan harga BBM atau kebutuhan pokok, sebaiknya ada pemberitahuan dan pembahasan yang jelas dulu kepada masyarakat," ucapnya.
Keluhan serupa muncul dari Rena (20), warga Cimahi, yang mengaku kaget dengan kenaikan harga BBM non-subsidi dalam satu waktu.
"Lebih ke kaget sih, karena naiknya lumayan jauh dari sekitar Rp12 ribuan jadi Rp16 ribuan. Jadi terasa banget bebannya," ucapnya.
Rena pun menyesuaikan pola pengisian BBM, dari biasanya penuh menjadi hanya Rp30-50 ribu setiap kali isi.
Sementara itu, mahasiswa Bandung, Amanda (20), menyatakan kenaikan harga BBM harus dibatasi agar tetap terjangkau.
"Kalau naik jangan terlalu tinggi. Mungkin masih bisa diterima kalau Rp13 ribu atau Rp14 ribu, tapi kalau langsung sampai Rp16 ribu cukup berat," katanya.
Meski sebagian warga mengeluh, masih ada konsumen yang tetap memilih Pertamax karena kualitas dan perawatan mesin. Sakti (18), pelajar SMA, menegaskan tidak akan beralih ke Pertalite meski harga meningkat.
"Kalau saya tetap Pertamax. Memang minimalnya pakai itu," katanya saat ditemui di SPBU Wastukencana, Bandung.
Sofwanudin (41), karyawan asal Indramayu, juga tetap membeli Pertamax demi menjaga kondisi mesin kendaraannya. Meski demikian, dia berharap harga BBM kembali ke level sebelumnya.
Bayu (23), mahasiswa di Cibiru, Bandung, mengaku harus kembali menggunakan Pertalite agar uang saku bulanan cukup hingga akhir bulan. Sebelumnya ia memakai Pertamax dan bahkan Pertamax Turbo sebelum harganya melonjak.
"Dulu Pertamax Turbo, turun ke Pertamax, terus turun lagi jadi Pertalite," kata Bayu saat mengisi BBM di SPBU Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung.
Putra Kaman (20), barista di Kota Bandung juga memilih lebih hemat dengan Pertalite. Dia khawatir kenaikan harga BBM akan berdampak pada harga kebutuhan lain, padahal gaji bulanan terbatas.
"Gaji Rp2 juta lebihan dikit, jadi harus mikir nih gimana caranya tetap bisa nyimpen buat tabungan," tuturnya.
Kebijakan Resmi Pertamina
PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) menjadi Rp17.000 per liter di Jawa Barat, per Rabu (10/6/2026). Sementara harga BBM bersubsidi, Pertalite Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter, tetap stabil.
Anggota DPRD Jabar Zaini Shofari menilai, kenaikan BBM nonsubsidi mencerminkan tekanan fiskal pemerintah yang semakin berat, mulai dari lemahnya rupiah hingga dinamika geopolitik global.
"Biasanya kalau BBM naik, berarti kebutuhan menjadi ikut naik juga. Karena kebijakan energi itu dari pusat, berarti semakin terbatas kemampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga energi," ujar Zaini.
Meski mayoritas masyarakat menggunakan BBM subsidi, Zaini menekankan bahwa kenaikan Pertamax tetap memengaruhi harga kebutuhan pokok, terutama di daerah pedesaan.
"Di kampung memang tidak pakai Pertamax, tapi tetap (akan kena dampak). Kenaikan harga energi selalu berdampak ke seluruh rantai kebutuhan," tandasnya.
Editor : Doni Ramdhani


